
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali dua orang berbeda generasi dan jenis kelamin sedang berdebat tentang sesuatu.
Arjuna baru beberapa menit yang lalu menginjakkan kakinya kembali ke dalam kediaman kedua orang tuanya, setelah seharian lembur di perusahaannya.
Tapi, Mamiya Ibu Ratih langsung memberondong putra sulungnya itu dengan berbagai permintaan dan permohonannya.
"Mami!! teriak Arjuna Prayoga di depan Maminya.
Ibu Ratih menatap ke arah putranya yang baru kali ini berani membentaknya. Ibu Ratih merasa sedih karena putranya yang selama ini menurut, sopan dan hormat padanya, tapi hari ini dia mendengar dari mulut putra tunggalnya bentakan yang dilayangkan untuknya.
Bu Ratih menatap jengah ke arah putra sulungnya itu, "Apa yang terjadi padamu Nak, sebesar itu kah perasaanmu pada mendiang istri kamu yang sudah meninggalkan kamu dengan tidak punya perasaan sedikitpun disaat kamu jatuh miskin, hingga kamu tega membentak Mami," cicitnya lalu duduk di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Mami maafkan Juna, bukannya sama sekali ingin membantah atau sedikit pun membantah keinginan Mami, tapi please untuk kali ini jangan memaksaku Mi, cukup untuk yang pertama kalinya mami mengatur pernikahan aku dengan wanita matre itu tapi, kali ini biarkan aku sendiri yang mengaturnya," sanggah Arjuna.
"Apa jangan-jangan kamu masih berharap untuk kembali bersatu bersamanya!" Geramnya Bu Ratih yang menatap dongkol kearah anaknya.
Arjuna tersenyum mendengar perkataan dari maminya yang menuduhnya yang masih berharap dan mencintai mantan istrinya yang jahat itu.
"Maaf, tidak ada kesempatan kedua untuk wanita ular berbisa dan berkepala dua seperti dia jadi, Mami tenang saja aku tidak akan tertipu dengan kecantikannya lagi untuk kedua kalinya," tuturnya Arjuna.
"Arjuna putraku, Mami hanya meminta kamu untuk menikah saja, bukan meminta perusahaanmu kok," pungkas Maminya dengan wajahnya yang sendu.
Arjuna melihat ke arah Maminya yang tampak sedih,ada buliran air matanya yang siap mengalir dari pelupuk kelopak matanya yang hanya menunggu waktu untuk jatuh membasahi pipinya.
"Ya Allah… semoga aktingku kali ini bisa menjanjikan dan lebih alami lagi sehingga putraku bisa setuju dengan keinginanku," Bu Ratih membatin.
"Mama kalau aku sudah siap menikah lagi, aku akan mengatakan pada Mami langsung, tapi untuk saat ini biarkan Aku seperti ini terus dan aku juga belum ada rencana Mi untuk kesitu," ujarnya dengan menatap ke arah Maminya.
Perdebatan kecil yang terjadi antara ibu dan putra tunggalnya di pagi buta itu terhenti, ketika pintu terbuat dari kayu jati itu yang bercat putih gading terbuka dengan lebar. Maulida yang baru saja dari jalan santai pagi itu salah tingkah.
"Aku salah dan mungkin kedatanganku tidak tepat," Gumamnya Maulida lalu berjalan mengendap-endap menuju paviliun belakang rumahnya.
Pintu terbuka dengan lebar dan masuklah Maulida yang masing-masing membawa barang bawaan mereka dari pasar.
Maulida dengan tasnya yang berisi sayur mayur sedangkan Bu Etty selaku chef degan kantong kresek di dalam kedua tangannya setia mereka jinjing. Maulida tidak sengaja menatap ke arah Arjuna sehingga mata mereka bersirobot, mereka pun bertatapan beberapa saat.
"Sepertinya gadis ini bisa aku manfaatkan," batinnya Arjuna yang tersenyum penuh arti.
"Ya Allah… kenapa aku melihat idolaku artis K-Pop oppa-oppa Korea Selatan itu, aku kan jadi tersenyum malu melihatnya," batin Maulida yang mengagumi wajahnya Arjuna.
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Duren, I love you loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Baby Sitter Pilihan
Kau Hanya Milikku
Dewa dan Dewi
Merebut Hati Mantan Istri
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap DILY dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Makasih banyak all readers…
I love you all..