Duren, I Love You

Duren, I Love You
Bab. 34



"Maaf kami datang terlambat karena rapat yang kami berdua ikuti cukup panjang sehingga terpaksa membuat istriku harus menunggu," ungkapnya Pak Adrian Maliq suami keduanya Nyonya Karina sambil mengecup sekilas pipinya Karina.


Kedua pria itu belum menyadari kehadiran Maulida dan Juanda di sana.


"Karina apa kabarmu?" Tanyanya Naufal tersenyum tipis ke arah mantan istrinya itu.


Karina bukannya menjawab pertanyaan dari mantan istrinya itu malah menatap ke arah Maulida bersama Juanda yang hanya duduk manis menyaksikan pertemuan keduanya itu.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja Mas, Mas ada yang ingin aku katakan padamu dan ini tidak bisa aku tunda lagi apa mas masih ingat putri kecil kita dulu yang terpaksa saya titipkan pada pak Ardi supir pribadinya mas? Anak gadis kita itu berada di sini, dia adalah gadis cantik yang duduk di hadapannya Mas dia adalah anak kita Maulida Khaerunnisha Amalia Mas," jelasnya Bu Karina yang sama sekali tidak ingin menunda mengatakan kebenaran tersebut.


Semua orang mengalihkan perhatiannya ke arah yang Maulida yang sedang menyeruput minuman dinginnya itu yang cukup panas di Doha Qatar siang hari itu. Juanda tersenyum simpul ke arah Pak Adrian dan Maliq yang ternyata adalah rekan bisnisnya selama ini.


"Mas reaksinya tidak perlu seperti itu, karena kalian sudah bertemu disini alhamdulillah aku bersyukur karena tidak ada sedikitpun unsur kesengajaan semoga hubungan kalian kedepannya lebih baik lagi, karena saya jarang balik ke Jakarta jadi aku titipkan putriku dengan suaminya kepada mas Naufal," ujarnya Bu Karina.


Pak Naufal menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya dan kesalahannya selama ini, karena gara-gara kebodohannya sendiri jadi dia menelantarkan putri kandungnya itu dan kehancuran rumah tangganya itu.


"Maul maafkan papa Nak, ini semua gara-gara papa sendiri yang terlalu bodoh mudah dikibulin oleh perempuan lucknut itu, bukannya papa sengaja nenelantrakmu nak tapi, ini semua kesalahan terbesarnya Papa, semoga kamu bisa memaafkan papa," Pintanya Pak Naufal yang bersimpuh di depan putri semata wayangnya itu.


"Papa jangan seperti ini, papa tidak boleh merendahkan diri papa di hadapan siapapun apalagi di depan saya yang jelas-jelas anaknya papa,lagian sebelum meminta maaf saya sudah jauh-jauh hari memaafkan papa dan juga mama, sekarang mari kita buka lembaran baru untuk memulai semuanya dari awal seperti keluarga lainnya di luar sana," harapnya Maulida yang berhati besar telah memaafkan kesalahan kedua orang tuanya itu.


Pak Naufal mengelus puncak hijabnya Maulida, "Masya Allah begitu mulia hatimu Nak, bukan hanya rupamu yang cantik dan menawan, tapi kamu juga berbudi pekerti luhur yang membuat Papa sangat bangga padamu, papa patut bersyukur dan berterima kasih kepada pak Ardi dan kedua orang tuanya yang telah membesarkan dan mendidikmu dengan baik hingga membuatku sungguh sangat bersyukur memiliki seorang putri sepertimu," pujinya pak Naufal yang tersenyum penuh bahagia karena memiliki anak yang begitu baik dimatanya.


Juanda tersenyum mendengar Istrinya dipuji oleh banyak orang walau pun keluarganya sendiri, yang baru hari ini bisa bertemu dengan mereka.


Tanpa aku sadari aku tersenyum mendengar berbagai pujian yang diberikan khusus untuk Maulida, Mama tidak salah pilih menikahkan kami, hari ini mataku terbuka lebar jika aku menikahi calon bidadari surgaku, semoga kedepannya pernikahan kami ini bisa langgeng hingga kakek nenek, sakinah, mawadah, warahmah amin ya rabbal alamin. Untungnya bukan perempuan matre calon dari nenek jika tidak aku tidak mungkin bisa berada di tempat dan suasana kekeluargaan seperti ini.


"Pa perkenalkan dia suamiku namanya Juanda," ujarnya Maul yang memperkenalkan suaminya di depan kedua papa kandung dan papa sambungnya.


Nyonya Ratih Yuaningsih Prayoga yang ada di Jakarta segera mendapatkan kabar baik tersebut melalui anak buahnya yang diutusnya untuk memantau dan mengawasi kedua anak dan mantunya itu.


Ibu Ratih sungguh bahagia karena dugaannya orang-orang selama ini yang mengatakan jika Maulida putri seorang pengusaha ternama bukan isapan jempol semata.


Kembali ke Doha Qatar, kelima orang itu menghabiskan waktunya sambil menyantap santapan menu diner mereka malam itu. Mereka berbincang-bincang santai hingga selesai shalat isya. Barulah mereka mengakhiri perjumpaan mereka.


"Ingat bukan perpisahan hari ini tapi awal kita bertemu dan hubungan ini akan terjalin untuk selamanya, Nak Juanda dan Maulida setelah balik ke Jakarta Ingat ke rumah jalan-jalan kalau ada waktu senggang kalian, Juanda aku titip putriku bersamamu dan aku mohon jangan sekali-kali sakiti hatinya jagalah putriku seperti kamu menjaga dirimu sendiri," pesan dan amanahnya Pak Naufal sebelum perpisahan mereka semua.


"Nak Maulida putrinya Mama, tunggu kabar baik kalian jika Mama dan papa akan memiliki cucu penerus keluarga kita," ucapnya Bu Karina kemudian memeluk erat tubuh putri semata wayangnya itu karena dia tidak memiliki anak seorang sama halnya dengan mantan suaminya itu.


Perpisahan malam itu menyisakan kesedihan diantara mereka, padahal mereka akan saling berhubungan kembali karena adanya benang merah yang mengikat keempatnya. Kedua pasangan suami istri itu kembali ke hotel untuk beristirahat.


"Cukup lelah yah, hari ini begitu banyak mengandung bawang bombay, saya tidak menyangka jika saya bisa bertemu dengan kedua orang tuaku," ucapnya Maulida ketika sudah duduk di hadapan meja riasnya sembari melepas anting-anting dan cincin yang dipakainya kecuali kalung dan cincin pernikahannya.


Maulida yang hendak bangkit dari duduknya itu tiba-tiba berteriak kencang karena terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Juanda padanya. Juanda langsung menggendong tubuh istrinya dengan ala bridal style dan menjatuhkan dengan perlahan tubuhnya Maulida ke atas ranjang king size-nya itu.


"Maulida malam ini Abang akan meminta hakku sebagai suamimu," Lirihnya Juanda.


Malam itu menjadi malam pertama penyatuan mereka selama hampir enam bulan mereka menikah.


Kedua pasangan suami istri saling menyalurkan perasaan dan rasa yang ada di dalam hati mereka. Semuanya bergantian saling membahagiakan satu sama lain pasangan halalnya.


"Semoga pernikahan kami menjadi lebih baik kedepannya,ya Allah… lindungilah pernikahan kami,"


...--------TAMAT--------...