Duren, I Love You

Duren, I Love You
Bab. 17



"Aku gadis bar-bar!" Beo Maulida.


Juanda kembali menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Maulida yang terduduk tak bergeming di tempatnya," kamu harus bersiap kita akan ke Paris nanti jam 4 sore," tuturnya Juan dengan sedikit tersenyum penuh maksud melihat Maulida yang seperti orang bodoh dan linglung.


"Apa! Kami akan ke Paris Perancis ya Allah… Aku harus selalu berjaga-jaga dan jaga jarak darinya jika ia meminta itu," lirihnya Maulida


Sekitar 20 menit pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Juanda yang sudah nampak segar dan pastinya semakin ganteng.


Juan mengedarkan pandangannya ke arah penjuru kamarnya dan mencari keberadaan istri barunya itu.


"Bocah itu ada di mana? Kok gak kelihatan apa jangan-jangan ia kabur dari sini gara-gara perkataanku tadi yang ngomong kalau kami akan ke Paris bulan madu," Gumamnya Juanda.


Tapi, baru sepersekian detik ia memutar tubuhnya, seorang gadis masuk ke dalam kamar pengantin dengan wajahnya yang juga cukup segar dan tampil elegan dengan pakaian yang melilit seluruh tubuhnya.


Juan yang menyadari siapa saya orang yang membuka pintu dan main nyelonong ke dalam kamarnya. Matanya seolah akan keluar melompat dari tempatnya. Mulutnya menganga lebar membentuk huruf O.


"Kenapa bocah tengil ini setiap saat selalu berubah-ubah seperti bunglon saja," cicitnya Juanda yang terpesona dengan penampilannya Maulida.


Maulida yang tersadar jika sedari tadi suami bohongannya memperhatikannya dengan seksama.


Maulida maju ke hadapan suaminya dengan berjalan berlenggak lenggok dengan sengaja," maaf apa ada upil di wajahku atau ada di sini?" Tanyanya Maulida yang menunjuk ke arah hidung bergantian dengan kedua matanya.


Juanda yang di dekati oleh Maulida dengan gaya seperti itu tiba-tiba tanpa disadarinya ada sesuatu yang muncul dari balik handuknya.


"Kenapa ya dibawah bereaksi padahal Mauli denganku hanya bertatapan biasa saja gak lebih," batinnya Juanda yang keheranan dengan apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri.


"Ayo jawab dong Mas! Susah amat jawabnya padahal hanya dua pilihannya yaitu ada dengan tidak," ketusnya Maulida.


Juanda semakin dibuat cenat cenut saja, maklumlah duda yang sering main celap celup sana sini tapi, ia tetap pakai payung pengaman kok dihadapkan pada gadis yang cukup cantik dengan body seperti biola Spanyol yang aduhai membuat Juanda ketar ketir.


"Ditanya malah bengong! Apa suamiku sudah enggak waras yah!" Sarkasnya Maulida lalu berjalan meninggalkan Juanda yang terdiam mematung meresapi apa yang terjadi dengan jantung dan burung beonya.


Maulida tersenyum penuh maksud melihat ke arah Juanda yang mematung. Maul tersenyum bahagia karena sudah berhasil menggoda suami palsunya. Ia segera mengemasi seluruh pakaiannya dan juga barang-barangnya yang sempat ia bawa kemarin waktu mereka pertama kali ke Hotel.


Maulida melirik sekilas ke arah Juanda yang masih dalam posisi yang seperti semula dengan handuknya yang terpasang di pinggangnya itu.


"Ya Allah… mudah-mudahan tidak membuat suamiku menjadi berpikiran untuk anu… kalau mau anu bisa gawat," gumam Maulida yang merinding memikirkan hal yang kemungkinannya bisa terjadi.


Maulida segera mempercepat pekerjaannya sebelum Juanda bereaksi diluar kendalinya. Maulida menarik resleting tasnya lalu berjalan melewati Juan dan berjalan tergesa-gesa ke arah pintu. Juanda yang menyadari kepergian Maulida segera bertindak yaitu berjalan mengikuti Maulida. Ia secepatnya menarik tangan kanannya Maulida yang mudah dijangkaunya.


"Kamu mau kemana haa!!! Kamu harus tanggung jawab sudah membangunkan buaya darat!" Geramnya Juanda.


Maulida yang ditarik cukup kuat hingga tubuhnya membentur tubuhnya Juan sehingga wajah mereka saling tabrakan satu sama lainnya. Mata mereka saling berpandangan satu sama lainnya hingga tidak ada yang berkedip sedikitpun.


Mereka sama-sama meresapi apa yang mereka hayati dan nikmati saat itu juga. Tangannya Juan spontan menyentuh bibir seksinya Maulida tanpa ia sadari dengan pasti apa yang sudah ia lakukan itu.


Maulida memegang ujung bibirnya bekas sentuhan penuh kelembutan tangan dan jari lentiknya Juanda.


Maulida segera menggeleng kepalanya, "Aku tidak boleh seperti ini, aku harus secepatnya menepis rasa benih yang akan tumbuh di dalam hatiku ini," batinnya Maulida.


Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Duren, I love you loh, judulnya ada di bawah ini:



Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Love Story Ocean Seana


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Baby Sitter Pilihan


Kau Hanya Milikku


Dewa dan Dewi


Merebut Hati Mantan Istri



Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap DILY dengan caranya:


Like Setiap babnya


Rate bintang lima


Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi


Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...


Makasih banyak all readers…


I love you all..