Duren, I Love You

Duren, I Love You
Bab. 16



"Kok ga dikunci rapat sih pintunya? Dasar gadis teledor bagaimana jika ada orang yang berniat jahat bisa kena masalah lagi," makinya dengan kesal lalu segera mengunci rapat pintu itu.


Juanda kembali dibuat tercengang dengan kelakuan dari perempuan yang baru sekitar beberapa jam yang lalu ia nikahi itu. Juanda hanya bisa geleng-geleng kepala melihat gaya tidurnya Maulida yang tengkurap. Tanpa disadarinya ia naik ke atas ranjang lalu berbaringlah dan tidak lama kemudian Ia pun tertidur.


Dewi malam telah menyelesaikan tugasnya malam itu, seiring berjalannya waktu sang Raja siang mulai berganti peran dengan Dewi malam untuk menerangi seluruh alam semesta ini. Sinar nya yang terang benderang menyinari seluruh jagad raya tanpa ada kata lelah.


Maulida yang biasa selalu cepat bangun paginya kali ini sedikit terlambat dari jadwal biasanya karena sangat kelelahan hingga setelah shalat subuh ia kembali berbaring di atas ranjang tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya.


"Sebaiknya aku kembali tidur kan mulai detik ini aku sudah terbebas dari dapur, panci, pisau, bawang dan teman-temannya," ujarnya Maulida lalu kembali mengistirahatkan tubuhnya.


Untungnya tadi sore Mama mertuanya sudah mempersiapkan mukenah dan pakaian ganti untuk mereka sehingga Maulida sudah berpakaian berbeda dari sebelumnya.


"Huuummm!! Tidur lagi aah mumpung sudah libur panjang dari dunia perdapuran," gumamnya tanpa menyadari jika ada pria dewasa yang ikut tidur dengannya.


Waktu terus berlalu, hingga waktu itu menunjukkan pukul 12 siang hari. Barulah Maulida terbangun dari tidur panjangnya. Tapi, tiba-tiba ia dibuat tersentak terkejut dengan tangan seseorang yang memeluk erat perutnya.


Tubuhnya langsung gemetaran, peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya,"kenapa ada tangan seseorang yang memeluk pinggangku seingatku tadi malam aku hanya sendirian di dalam kamar! Apa jangan-jangan ada hantu yah?" Cicitnya Maulida.


Juanda sama sekali tidak terusik sedikit pun dengan gerakan ataupun ucapannya Maulida ia tetap memejamkan matanya tapi, tanpa terduga lengkingan suaranya Maulida membahana dan nrnggema di dalam ruangan tersebut.


"Tolong!!! Ada Hantu!!!" Jeritnya Maulida.


Suara cemprengnya Maulida mampu membangunkan suaminya yang tertidur pulas. Juan spontan menutup telinganya yang gendang telinganya hampir pecah itu mendengar suara teriakan dari Maulida. Juan segera mengambil bantal lalu menutup mulutnya Maulida yang tidak berhenti berteriak kencang.


"Stop!!! Aku mohon jangan teriak, apa kamu ingin aku tuli haaa!!" Teriaknya Juanda yang tidak kalah melengkingnya dengan suaranya Maulid.


Seolah-olah mereka adu kekuatan suara terbesar saat itu juga. Maulida yang mendengar teriakannya Juanda refleks memukul kepalanya Juan dengan bantal guling yang dipakainya tidur.


"Kenapa harus berteriak juga sih!! Aku saja yang harus berteriak gara-gara kamu yang memeluk pinggangku ini!" Pekiknya Maulida yang memajukan wajahnya kearahnya Juan hingga hanya sejengkal wajah mereka sudah saling berdempetan.


Mereka satu sama lainnya saling bertatapan. Karena terlalu dekat sehingga nafas keduanya saling bertabrakan. Kedua pasang mata mereka saling beradu hingga tidak ada yang berkedip sedikitpun.


"Kenapa lagi-lagi aku melihat oppa Jungkook,kan aku jadi tersenyum bahagia lihatnya," batinnya Maulida.


"Kalau dilihat sedekat ini, wajahnya semakin cantik saja, wahai gadis kampung kenapa kamu bisa membuat aku sebahagia ini hanya sekedar melihat kedua bola matamu yang indah ini," lirihnya Juan.


Tanpa keduanya sadari tangan mereka terangkat naik dan saling mengelus wajah orang yang berada di depannya. Maulida mengelus pipinya Juanda sedangkan Juan menoel hidungnya Maulida yang cukup mancung.


Tapi, ketukan di pintu kamar hotel mampu membuyarkan dan menggangu kenyamanan dan kegiatan mereka.


"Aaahhh!!! Menjauh dariku!! Jangan dekat-dekat aku alergi berdekatan dengan seorang pria!!" Ketusnya Maulida yang terpaksa berbohong agar tidak ada lagi kesempatan kedua untuk mereka berdekatan karena hal itu bisa berbahaya.


Maulida berkata seperti itu seraya mendorong kuat tubuhnya Juan hingga Juanda terjatuh ke atas lantai keramik. Wajahnya Juan memerah menahan amarahnya karena baru kali ini ada orang yang berani mendorongnya.


"Dasar gadis bar-bar loh," sarkasnya Juan lalu bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah dalam kamar mandi.


"Aku gadis bar-bar!" Beo Maulida.


Juanda kembali menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Maulida yang terduduk tak bergeming di tempatnya," kamu harus bersiap kita akan ke Paris nanti jam 4 sore," tuturnya Juan dengan sedikit tersenyum penuh maksud melihat Maulida yang seperti orang bodoh dan linglung.


"Apa! Kami akan ke Paris Perancis ya Allah… Aku harus selalu berjaga-jaga dan jaga jarak darinya jika ia meminta itu," lirihnya Maulida.


Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Duren, I love you loh, judulnya ada di bawah ini:



Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Love Story Ocean Seana


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Baby Sitter Pilihan


Kau Hanya Milikku


Dewa dan Dewi


Merebut Hati Mantan Istri



Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap DILY dengan caranya:


Like Setiap babnya


Rate bintang lima


Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi


Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...


Makasih banyak all readers…


I love you all..