
"Ini anak sedikit matre juga tapi lebih banyak baiknya, aku memilihnya selain ia masih alami dan tersegel belum terjamah oleh kehidupan dunia, ia juga sholeha dan baik hati hanya saja sedikit bar-bar," cicitnya Bu Ratih.
Tapi, ketika arah bola matanya memandang beberapa jumlah deretan angka nominal uang, matanya langsung kabur saking tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya langsung, ia pingsan dan tidak sadarkan diri.
"Maulida!!" Jeritnya Siska yang berlari untuk menolong Maulida yang sudah tertidur di atas sofa untungnya kepalanya hanya membentur sofa yang cukup empuk.
Nyonya Ratih sungguh terkejut dengan keadaan yang dilihatnya langsung di depan matanya. Ia tidak menyangka jika, Maulida akan bereaksi seperti ini disaat melihat uang banyak.
"Siska! Ambil kayu putih lalu oleskan pada hidungnya agar segera siuman dan kembali tersadar," ketusnya Nyonya Ratih.
"Ini anak, baru juga lihat uang 5 M sudah pingsan gimana kalau sudah nikah kontrak dengan Tuan Muda Juanda mungkin ia akan mimisan dan kejang-kejang," batinnya Siska.
Maulida seakan-akan sedang tertidur saja. Tidak nampak di raut wajahnya jika ia sedang pingsan tapi, ia seakan seperti putri tidur saja.
Maulida dalam tidurnya ia melihat seorang pangeran yang naik kuda memakai topeng berwarna putih serasi dan selaras dengan pakaian jubah dan kuda yang dipakainya.
"Pangeran jangan pergi!! Tunggu aku!!" Pekiknya Maulida di dalam mimpinya yang mengejar seorang pangeran berkuda.
Siska yang baru saja datang membawa minyak kayu putih dibuat lagi terkejut dan menggelengkan kepalanya saking tidak percayanya melihat tingkah laku absurnya Maulida.
"Hey!! Bangun sudah siang!!" Ujarnya Siska sembari memukul pelan pipinya Maulida.
Berulang kali Siska melakukan hal itu hingga lama-lama Maulida juga terbangun dari pingsannya.
"Pangeran!!!" Teriaknya Maulida saat membuka kedua kelopak matanya.
Siska yang mendengar teriakan dari Maul hanya menatap jengah ke arahnya Maul. Ia kembali tersenyum terbahak-bahak melihat reaksi dari gadis desa yang nantinya akan dinikahi secara pura-pura oleh Tuan Muda Juan.
"Aku harus percikkan air ini ke wajahmu karena sepertinya kamu sedang bermimpi," dengusnya Siska seraya memercikkan air ke wajahnya Maulida.
"Mbak Siska!! Apa yang Mbak lakukan, emangnya aku kesurupan sampai-sampai di percikkan air segala," sarkasnya Maulida yang keheranan melihat Siska berbuat seperti itu.
"Aku yang seharusnya bertanya sama kamu, sedari tadi buat kami pusing sampai-sampai Nyonya Besar marah gara-gara sikap kamu yang lebay itu," Cibirnya Siska.
"Apa!! Nyonya Besar Ratih marah sama saya?" Ujarnya Maulida yang menunjuk ke arah dadanya sendiri.
"Iya! Beliau marah gara-gara sikapmu yang menurut kami kelewatan," dengusnya Siska.
"Ya Allah… kalau sampai Nyonya Besar Ratih marah padaku, bisa-bisa uang itu tidak jadi milikku dan kesempatan untuk kuliah juga gagal total," cicitnya Maulida.
Maulida mulai bangkit dari duduknya dan segera menyibak selimut yang ada di sekujur tubuhnya. Maulida mulai bangkit dan berjalan terburu-buru dan Langkahnya terhenti saat tangannya secepatnya ditarik sekuat tenaga oleh Siska.
"Hey! Bocah kamu mau ke mana? Jangan pergi dulu sebelum urusan di sini belum kelar juga," sindirnya Siska yang masih memegang pergelangan tangannya Maulida.
Maulida menatap tajam ke arah Siska," lepaskan tanganku, aku mau menghadap ke Nyonya Besar Ratih dan ingin meminta maaf karena sudah buat ia marah dan kecewa," kilahnya Maulida yang menghempaskan tangannya Siska dengan cukup kuat dan kasar.
Tatapannya cukup tajam sampai Siska dibuat nyalinya menciut gara-gara hanya tatapan matanya yang tajam seakan-akan ingin menusuk hingga jantungnya Siska.
"Kekuatannya ini bocah cukup kuat juga, sepertinya semakin seru dan menarik jika Maulida jadi istri pura-pura dari Tuan Juanda, perempuan gatel yang berkeliaran di luar sana yang berniat menggoda tuan muda jadi menciut nyalinya seketika itu juga," batinnya Siska.
Maulida melangkahkan kembali kakinya, tapi baru selangkah kakinya melangkah tapi, kembali terhenti saat pintu lebar dan t menjulang tinggi itu terbuka lebar dari arah luar.
"Bagaimana Maulida! Apa kamu bersedia menikah dengan putraku yang duda beranak dua itu dengan syarat yang tertulis di dalam berkas ini?" Tanyanya Bu Ratih yang menatap intens ke arah Maulida yang terdiam seperti patung saja tak bergeming sedikitpun.
Siska yang mendengar penjelasan dari mulutnya Maulida dibuat tidak bisa menahan tawanya. Siska tertawa terbahak-bahak di hadapan Maulida dan Nyonya Ratih.
"Siksa! Stop tertawanya!" Geramnya Maulida dan Bu Ratih secara bersamaan.
Bu Ratih dan Maulida saling bertatapan satu sama lainnya dan sedikit heran karena bisa-bisanya mereka berbicara bersamaan dengan ucapan dan perkataan yang sama.
"Ya elah, calon menantu dan Ibu mertua ini bisa kompakan gitu, baru jadi calon sudah seiya sekata dan sehati juga," umpatnya Siska sembari menutup kedua mulutnya.
****************
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Duren, I love you loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Baby Sitter Pilihan
Kau Hanya Milikku
Dewa dan Dewi
Merebut Hati Mantan Istri
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap DILY dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Makasih banyak all readers…
I love you all..