
Marcel dan Marsha membalas memeluk pinggang Maulida walaupun masih sedikit kesusahan karena tinggi tubuhnya belum sampai ke pinggang nya Maulida.
"Hati-hati Mama, semoga Allah pulangnya bawa adek bayi," imbuhnya Marsha dengan senyuman lebar dan polosnya.
Maulida menatap ke Juanda yang hanya bisa tersenyum tipis menanggapi perkataan dan sekaligus permintaan dari kedua anaknya itu. Sedang Bu Ratih yang tidak menyangka jika perkataan cucunya akan seperti itu hanya menatap intens ke anak semata wayangnya.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai dengan selamat di Toronto Kanada. Maulida cukup anteng di dalam pesawat dan sama sekali tidak merasakan mabuk perjalanan padahal ini perjalanan pertamanya yang cukup jauh dan menjadi pengalaman perdananya naik pesawat pula.
Maulida sama sekali tidak menunjukkan sikap seseorang yang baru naik pesawat berkat pendidikan kursus kilat kepribadian yang diajarkan oleh khusus guru privat yang dihadirkan oleh Bu Ratih khusus dan spesial untuk Maulida.
"Syukur Alhamdulillah sudah sampai juga di Kanada, andai saja nenek,kakek, sama Maryam ada di sini pasti mereka akan sangat bahagia," gumamnya Maulida.
Sekitar 15 menit dari bandara mereka sudah sampai di hotel bintang lima yang mereka sewa sebelumnya. Maulida mendaratkan bokongnya di atas ranjang yang cukup mewah. Kamar itu khusus untuk dia sedangkan suaminya Juanda berada di kamar sebelahnya.
Maulida mengatur barang-barangnya terlebih dahulu sebelum memilih untuk beristirahat. Tapi disaat ia memasukkan beberapa potong pakainnya ke dalam lemari tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah kotak kecil yang berwarna merah gelap. Ia segera memungut benda itu.
"Ini kan kotak yang diberikan nenek beberapa bulan lalu katanya hanya benda ini sebagai tanda aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku, Bapak walaupun aku masih kecil bapak sudah meninggal dunia tapi, kasih sayang bapak Ardi hingga detik ini masih sama dengan apa yang aku rasakan, alfatihah untuk bapak," Lirihnya Maulida yang masih mengingat dengan jelas saat terakhir bapak angkatnya meninggal dunia saat ia berumur 9 tahun kala itu.
Air matanya menetes membasahi pipinya,ia sesegukan sambil memakai cincin itu dijari manisnya berdekatan dengan cincin kawin dari Juan suaminya tak lupa kalung ia pun memakainya.
"Mulai detik ini, aku tidak akan melepas cincin dan liontin ini," cicitnya Maulida.
19 tahun lalu…
Brukk!!!! Prang!!! Bunyi pintu yang dibanting dengan sekuat tenaga oleh pemilik rumah sendiri.
"Karina!!" Teriak seseorang dari arah luar yang membuka pintu rumahnya dengan cukup kencang.
Karina yang mendengar teriakan dari suaminya segera mencuci tangannya dikrang air.
"Baru jam 4 sore Mas Naufal sudah pulang, apa yang terjadi di kantornya?" Cicitnya Karina yang buru-buru membersihkan lalu mengeringkan tangannya itu.
Sudah dua minggu Karina belajar memasak otodidak hanya melihat dari YouTube dan Google saja. Sebagian bertanya kepada pembantunya jika kesusahan dalam memasak makanan itu.
"Ya Allah… kenapa hatiku tidak tenang dan seolah akan ada hal besar yang terjadi pada keluarga kecilku ini," batinnya Karina seraya mempercepat langkahnya menuju pintu depan.
Ia melihat suaminya melempar tasnya dengan kasar iea atas sofa di ruang tamunya lalu melonggarkan sedikit ikatan dasinya. Tapi tatapan matanya yang tajam menusuk hingga seolah menembus ke dalam matanya Kartika.
Naufal yang melihat istrinya yang sudah dinikahinya sekitar lima tahun yang lalu dan baru dikaruniai anak yang berusia sekitar enam bulan itu. Ia berjalan cepat ke arah Kartika.
Tanpa ba bi bu Naufal spontan menampar wajahnya Kartika tanpa sebab hingga sore hari itu mendapatkan tamparan yang cukup keras.
"Dasar perempuan sia lan loh!! Tidak tahu diri, kurang ajar, perempuan peee laaa cuuur loh, ayo jujur padaku siapa ayah kandung dari putrimu itu haaa!!! Karena aku sudah mengetahui apa yang selama ini sering kamu lakukan diluar sana," geramnya Naufal dengan mencengkeram kuat lengan bajunya Karina lalu mendorong Karina sekuatnya hingga tubuhnya Karina terlempar ke arah dinding.
"Aaahhhh!!!!" Jeritnya Karina.
Segala umpatan, hinaan, caci maki dan perkataan kasar sudah dilayangkan oleh Naufal untuk istrinya yang tidak tahu tuduhan itu bersumber dari mana asalnya karena menurutnya tidak pernah Melakukan hal seperti yang dituduhkan oleh Naufal.
Ia tidak sanggup melawan dan membela diri karena sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk berbicara. Naufal segera berjalan ke arah Karina yang sudah meringis kesakitan menahan perihnya punggungnya yang terbentur dengan benda keras yang ada di belakangnya.
"Jangan perlihatkan wajah pura-pura lugu dan polosmu di hadapanku ini, aku selama ini sudah tertipu dengan kecantikan dan kelembutan kamu, aku terlalu naif dan bodoh percaya dan mencintai dirimu," makinya Naufal sembari menjambak rambutnya Karina hingga beberapa anak rambutnya rontok.
"Aaahh!! Ampun Mas, sa-kit, to-long lepaskan ram-but-ku," ratapnya Karina yang terbata-bata karena merasakan sakitnya tarikannya Naufal yang seperti orang yang kesetanan saja.
Karina sama sekali tidak mengerti dengan kondisi yang terjadi dan sedang berlangsung saat itu.
Naufal tersenyum penuh maksud," aku ingin melihat kamu menderita dan merasakan sakitnya hatiku kamu hianati Karina, apa salahku padamu kenapa kamu tega sekali menyakitiku," kesalnya Naufal yang sama sekali tidak mengindahkan ratapan dari istrinya.
Karina melototkan matanya mendengar perkataan dan tuduhan yang sama sekali tidak beralasan yang dituduhkan oleh suaminya itu.
"Mas, tolong lepaskan supaya aku bisa katakan pada Mas apa yang sebenarnya terjadi, lagian aku tidak mengerti dengan maksud Mas," ujarnya Karina yang menghibah belas kasih suaminya.
Beberapa maid dan security menjadi penonton live streaming dari tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh Karina.
"Kasihan Nyonya Muda, kalau seperti ini bisa-bisa Nyonya bisa mati," gumamnya Pak Ardi yang meneteskan air matanya saking sedihnya dan tega melihat Karina diperlakukan kasar seperti hewan saja.
Pak Ardi ingin maju tapi, Langkahnya segera dihentikan dan ditarik oleh Bu Salma" Anwar! Jangan ikut campur jika kamu berani bisa-bisa pekerjaan bahkan nasibmu lebih parah dari Nyonya,kalau kamu kasihan melihat Bu Karina dikasari oleh suaminya kami pun sama tapi kita tidak punya kuasa dan kekuatan untuk menghentikan apa yang sudah terjadi, jadi sebaiknya kita perbanyak doa saja agar ada pertolongan dari Allah SWT," tampiknya Bu Sri yang mencegah Anwar agar tidak bertindak gegabah dan seperti pahlawan kesiangan.
Tamparan keras hingga Bu Karina dicekik oleh suaminya hingga tubuhnya Karina dibanting ke atas sofa.
"Aaahhhhh!! To-long!! Jeritnya Karina sesaat setelah dibanting.
Naufal sudah kalap dan tidak sadarkan diri hingga dengan tega menyakiti istrinya hanya karena cemburu buta dan salah paham dan salah sangka hanya karena hasutan dari orang yang tidak menyukai hubungan mereka.
"Ya Allah… aah!! Kasihanilah Nyonya ya Allah… apa yang terjadi pada Tuan Muda Naufal yang sudah seperti orang gila saja," aku harus segera mengalihkan perhatiannya Tuan Naufal kalau seperti ini," batinnya Pak Anwar.
Kondisinya Karina sudah tidak sadarkan diri setelah dibanting ke atas sofa buludru di dalam ruang keluarganya. Setelah melakukan hal itu Naufal membuka tasnya lalu menenggak kembali minuman beralkohol tinggi yang sempat tadi ia minum sebagian isinya.
Naufal memandangi beberapa foto yang ada di atas meja nakas yang baru saja Ia simpan," Karina! Apa foto-foto dan rekaman video kalian berdua ini palsu dan hasil editan atau rekayasa, hatiku hancur melihat fotomu berduaan dengan pria mantan kekasihmu itu, aku tidak rela ia menyentuh seinci pun tubuhmu Karina hanya aku yang berhak atas tubuhmu itu… tidak!!! Aahhh!!!" Teriaknya Naufal lalu menghempaskan semua botol yang berjejer di atas meja yang sebagian masih memiliki isi minuman.
...****************...
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Duren, I love you loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Baby Sitter Pilihan
Kau Hanya Milikku
Dewa dan Dewi
Merebut Hati Mantan Istri
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap DILY dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Makasih banyak all readers…
I love you all..