
Masih Flashback On sekitar 19 tahun silam..
Pak Ardi hanya menelpon salah satu rekan kerjanya yang bekerja di kediaman Naufal untuk membawakan semua pakaian dan barang-barangnya hingga tak tersisa dan juga tidak lupa mengambil beberapa potong lembar pakainnya bayi itu. Ia tidak ingin jika kedatangannya diketahui oleh Pak Naufal dan kepulangannya akan memperkeruh masalah dan bayi imut itu.
Setelah semua barang-barangnya sudah berada di dalam tangannya, Pak Ardi meninggalkan rumahnya ibu kota Jakarta menuju kampung halamannya yang berada di pinggir kampung yang ada di kota Bandung.
"Bapak akan mengganti nama kamu nak, jadi mulai detik ini kamu bukan nona besar lagi tapi, kamu adalah putriku putri tunggalnya Bapak," cicit Pak Ardi yang meneteskan air matanya saking tidak tahannya menahan rasa sedihnya, kecewa, khawatir bercampur menjadi satu bagian di dalam hati dan pikirannya.
"Aku sangat menyesal telah menerima perjodohan putriku dulu dengan pria bejak,bajingan, brengsek dan tidak tahu balas Budi itu," Umpatnya Bu Maudi saat melihat kondisi putrinya yang harus koma setelah menjalani operasi di kepalanya.
Pak Ardi meninggalkan ibu kota Jakarta dengan perasaan yang sangat sedih dan kecewa.
"Ya Allah… selamatkan lah Nona Muda Karina, aku sangat khawatir dengan keadaannya," gumamnya Pak Ardi.
Pak Ardi adalah supir pribadi Karina sejak ia masih kuliah dulu hingga ia ikut pindah ketika ia memutuskan untuk menikah pinangan dari Naufal pria yang dijodohkan oleh papanya. Hingga hubungan mereka cukup dekat dan akrab bahkan ia sangat mengetahui karakter dan perangainya Karina sudah nampak jelas.
Jika ia gadis yang baik hati dan tidak mungkin melakukan hubungan terlarang di luar dengan pria yang bukan suaminya seperti yang dituduhkan oleh suaminya sendiri.
Pak Ardi pulang ke kampung halamannya dengan menaiki bus malam itu tanpa menunda lama lagi. Bayi kecil dan imut yang diberi nama Maulida. Ia berjanji akan merawat dan menjaga Maul.
Berselang beberapa jam kemudian, mereka berdua sudah sampai di kabupaten dan dari daerah itu ia kembali menaiki mobil angkutan umum sekitar 20 menit lagi barulah mereka tiba di rumahnya.
Tok… tok…
"Assalamualaikum ibu!" Teriaknya Pak Ardi yang memanggil nama ibunya.
Baby Maul dalam gendongannya terusik dengan suara teriakan dari Pak Ardi sehingga ia terbangun dan menangis histeris dengan suaranya yang cukup melengking dipagi buta itu yang baru pukul 6 lewat pagi hari itu.
"Sabar yah Nak, kita sudah sampai di rumah, apa kamu sudah tidak sabar bertemu dengan nenek Aminah yah," ucapnya Pak Ardi yang mengajak berbicara dengan Baby Maulida.
Oek… oek… suara bayi itu terdengar dengan jelas ke arah dalam rumah. Suara itu terdengar langsung ke telinga Bu Mina.
"Ya Allah… suara bayi… apa aku tidak salah dengar? Setahuku di sekitar sini tidak ada yang hamil ataupun ibu-ibu yang baru melahirkan juga," gumamnya Bu Mina yang celingak-celinguk mencari sumber suara itu.
Suaminya Pak Jamal baru saja pergi ke ke sawahnya sebelum ada suara ketukan pintu yang cukup kuat. Bu Mina segera mematikan kompornya lalu berjalan ke arah depan pintu masuk rumahnya dengan berjalan tergesa-gesa dan juga tergopoh-gopoh.
"Ibu!! Ini saya Ardi Bu!" Jeritnya lagi Pak Ardi yang memasangkan dot ke dalam mulutnya Maulida kecil.
"Itukan suaranya Ardi anakku? Katanya nanti bulan depan pulang kampung pas lebaran idul Fitri," cicitnya Bu Mina seraya memutar dan membuka kunci pintu rumahnya.
"Ardi! Kapan kamu pulang nak, dengan siapa kamu pulang? Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya Bu Mina yang memberondong putra sulungnya dengan berbagai macam pertanyaan.
Ardi tertawa cengengesan menanggapi sikap ibunya itu," ibu bukannya ajak masuk dulu ini mah diserang pertanyaan segala," guraunya Pak Ardi.
"Ayo masuk nak, tapi tunggu dulu," ujarnya Bu Mina yang mencegah Ardi untuk masuk ke dalam rumah sembari mencari suara bayi yang sempat tadi ia dengar karena tiba-tiba suara itu sudah tidak terdengar lagi hingga ia sudah berdiri di depan teras rumahnya mencari keberadaan bayi itu.
"Ibu! Apa yang sedang ibu cari, saya hanya sendiri ke sini kok," imbuhnya Pak Ardi.
"Tadi, Ibu mendengar suara tangisan bayi, tapi pas ibu buka pintunya suaranya sudah menghilang begitu saja," tuturnya Bu Mina.
Pak Ardi kembali tertawa cengengesan sambil berucap," apa bayi ini yang ibu cari?" Tanyanya Pak Ardi yang menggendong bayi Maulida dari box bayinya lalu mengarahkan bayinya ke depannya Bu Mina.
Bu Mina menatap tajam ke arah anaknya saat melihat dengan jelas seorang bayi perempuan yang cantik,imut, lucu dan comel.
Bu Mina merentangkan kedua tangannya untuk mencegah anaknya masuk ke dalam.
"Ibu! Ijinkan saya masuk kedalam dulu baru aku akan jelaskan semuanya," harapnya Pak Ardi.
"Ibu bilang tidak sekali tidak tetap selamanya tidak, tidak ada kata tawar," Teriaknya Bu Mina.
Suara teriakan Bu Mina membuat baby Maulida kembali menangis sambil mengayunkan tangan kecilnya ke arah Bu Mina seakan-akan ingin digendong oleh Bu Mina.
Bu Mina tanpa pikir panjang segera menggendong baby Maul dan tangisannya baby Maul langsung berhenti dalam pelukan hangat Bu Minah.
****************
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Duren, I love you loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Baby Sitter Pilihan
Kau Hanya Milikku
Dewa dan Dewi
Merebut Hati Mantan Istri
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap DILY dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...
Makasih banyak all readers…
I love you all..