
"Cewek itu! Dia menaruh sesuatu di dalam minumanmu! Benar benar keterlaluan!"
"Oh ya, Drew"
"Apa?"
"Apa kau masih *#*$*# tidak?" (berbisik)
"Tentu saja! Kau kira aku murahan?" (berbisik)
"Hei, ada apa bisik bisik?!"
"Tidak apa apa"
"Kenapa kalian mengejarku sampai ke sini?"
"Kami kira cewek yang membawamu ke sini itu Aileen, takutnya nanti dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Atau mungkin kau juga ingin melakukannya"
"Hei! Jangan pikir aku begitu..."
"Kau kira aku tak mengecek seluruh bagian kamarmu? Aku menemukan ini loh"
"Hei! Kembalikan padaku!"
"Wah wah, hebat juga ya kau"
"Kau juga punya, kau punya dua kali lipat lebih banyak dari punyaku"
"Darimana kau tau?!"
"Dari adik adikmu, mereka mengajakku ke kamarmu"
"Lagian semua laki laki normal pasti akan begini"
"Aku tak punya begituan"
"Kecuali Andres, dia ada beberapa masalah dengan alat vitalnya, hehe"
"Aku masih normal hei!"
"Kak, kemarin kemarin aku mendengar suara wanita dari dalam kamarmu, ada apa itu?"
"Hayo...apa itu???"
"Itu hanya...suara dari ponselku kok!"
"Benarkah???"
"Lagian tak apa apa kok jika aku melakukannya, kan aku sudah sembilan belas tahun! Kau masih empat belas tahun, Drew jangan macam macam. Nanti kau tak bisa tanggung jawab baru tau"
"Aku tak seperti kau ya, sembarangan membuang benih"
"Benih? Benih apa?"
"Anak polos dilarang untuk mengetahui"
"Ishh, kakak!"
"Oh ya, Drew. Berapa ukuranmu?" (berbisik)
"Ukuran apa?" (berbisik)
"Ituu" (berbisik)
"Oh...aku tak pernah mengukurnya"
"Ukur apaan?"
"Tidak, tidak apa apa!"
"Baiklah, sekarang masalahnya"
"Kenapa kau berpacaran dengan Aileen?!"
"Kenapa kalian bisa mengetahuinya?"
"Kau kira hanya kau yang bersekolah di Warren Academy?"
"Kau juga bersekolah disana?!"
"Kakakku masuk kelas anak idiot disana"
"Itu masih di bawah cukup, kau tau Andrew masuk kelas mana?"
"Mana?"
"Kelas A kau tau?"
"What?!! Itu kan khusus bocah bocah jenius! Hei, berapa iq mu?"
"Mana ku tau, aku tak pernah tes IQ"
"Dan dia dapat penghargaan nilai ujian tertinggi di antara seluruh murid SMP di Warren Academy kau tau?"
"Nah, kalau itu aku tau lah!"
"Gimana kalau kita tes IQ besok?"
"Tak bisa...aku ada urusan lain..."
"Urusan apaan?! Berkencan dengan Aileen!?"
"Bukan urusan kalian, jangan jadi orang yang kepo. Aku pergi dulu, bye" (meninggalkan)
"Sangat penting kah urusan itu?"
"Bagaimana kalau kita pantau dia?"
"Tapi nanti-"
"Tolong pantau anak bernama Andrew Denburg, lihat apa yang akan dia lakukan besok! Terus ikuti dia, jangan sampai ketahuan!"
"Baik, Tuan Muda"
"Adrian, nanti Andrew akan-"
"Tak apa apa! Besok orangku akan mengikuti Andrew, malam ini kita nginap di sini saja"
Malam hari
"Dres, kau masih belum tidur?"
"Aku takut jika nanti Andrew akan-"
"Tidak apa apa, tidur saja"
"Baiklah"
Keesokkan harinya
"Tuan Muda, kami melihatnya pergi ke gang sepi sendirian"
"Gang mana? Di jalan mana?"
"Gang di pinggir perkotaan, Tuan"
"Apa yang sedang dia lakukan?"
"Sepertinya dia pergi untuk menemui seseorang"
"Baiklah, kami akan segera pergi ke sana. Terus pantau dia, jika terjadi apa apa hubungi aku secepatnya"
"Baik, Tuan Muda"
"Ayo semuanya naik"
"Mau kemana?"
"Menemui Andrew"
30 menit kemudian
"Tuan Muda"
"Di mana dia?"
"Masuk ke dalam gang sepi ini"
"Baiklah, kalian bisa pergi"
"Baik, Tuan Muda"