
"Iya iya"
"Tidak ada yang namanya pembagian pewaris, setauku kau lebih tua 3 menit dari Andres. Itu sudah berarti bahwa kau adalah anak laki laki pertama. Mungkin mereka hanya menganggap Andres sebagai kelebihan. Sebenarnya dalam peraturan hak waris ini, anak kembar dilarang untuk dilahirkan. Jadi Andres mungkin tidak dianggap oleh orangtua kalian"
"Oh, bagaimana jika aku mengubah peraturan yang menyebalkan itu?"
"Maksudmu?"
"Velisca, kau tau Andrew sejak kecil selalu tidak ingin ku panggil sebagai Kakak. Jika aku memanggilnya kakak, maka dia akan sangat marah. Jika dia mendapatkan banyak harta, maka harta yang ku dapat harus sama dengannya" (bisik Andres)
"Dia sangat baik ya" (bisik Velisca)
"Hahaha, memang kok" (bisik Andres)
"Apa yang kalian bisikkan?" (dingin)
"Tidak apa apa, hehe"
"Andrew, kau tidak bisa merubah peraturan itu. Semua peraturan itu sudah ada dan dihormati sejak ratusan tahun dahulu! Kau tidak boleh mengubahnya!"
"Apa maksudmu? Suatu hari aku akan merubah peraturan itu! Jika tidak bisa, maka aku akan mengundurkan diri dari keluarga Denburg atau bunuh diri dan Andres akan menjadi putra pertama keluarga Denburg. Andres akan menerima warisan perusahaan Denburg"
"Drew! Kau sudah gila ya?"
"Mungkin pembuat peraturan menyebalkan ini yang gila!"
"Kau bisa diam tidak?!"
"Kau yang diam"
"Kau lah!"
"Kau"
"Kau!"
"Hey! Berhenti!!!"
"S, Syl? Sejak kapan kau ada di sini?"
"Kakak! Sudah ku bilang jangan kira aku tidak punya cctv di kamar kakak! Aku bisa melihat apa saja yang kakak lakukan saat tengah malam!"
"Hayo...apa itu?"
"Hey! Dua bocah ini juga ikut?!"
"Siapa yang bilang dua? Kami berempat kok"
"Kenapa kalian semua mengikutiku?!"
"Cih, siapa juga yang ingin mengikuti Kak Adrian, kami ingin mengikuti Kak Andrew lah!!! Kak Velis dan Kak Drew pergi bersama kami kira mereka pergi kencan. Eh rupanya mereka menemui tuan galak ini"
"Hey! Tuan galak yang kalian maksud tuh siapa?! Aku?!"
"Pikir saja sendiri!"
"Dasar! Bocah bocah ingin membuat ku emosi saja"
"Kenapa kalian menatapku begitu?!"
"Edward, perasaan kita tak menatap Tuan galak ini deh?"
"Iya nih, pede banget"
"Hahaha, padahal kita lagi natap Tuan yang sangat tampan ini"
"Siapa juga yang ingin menatapmu, Tuan galak?"
"Blekk! Tuan galak! Tuan galak!!!"
"Tuan galak jelek! Tuan galak tak laku!"
"Morgan sini kau!!!!'
"Blekkk!!!"
"Hahahaha! Mereka sangat lucu! Terutama ekspresi kak Adrian!"
"Tidak ada urusan lain lagi kan? Aku pergi dulu" (dingin)
"Kemana? Aku boleh ikut?"
"Mmm, tak" (dingin)
Andrew pun memakai kembali jaketnya dan pergi dengan cepat
"Ey? Tuan tampan kemana?"
"Dia sudah pergi"
"Yahh! Gara gara tuan galak ini sih!"
"Iya! Tuan tampan jadi pergi kan!!!"
"Andrew kemana ya? Kenapa buru buru begitu?" (Velisca dalam batin)
2 minggu kemudian
"Semua sudah berkumpul kan?"
"Tidak ada bocah bocah menyebalkan itu lagi kan?!"
"Iya iya, bocahmu sudah ku kurung di rumah!"
"Bagus bagus! Ini baru adikku yang cantik!"
"Dasar..."
"Oh ya, Vel. Dimana Andrew?"
"Sejak pertemuan yang lalu dia tak pernah pulang ataupun tidur di rumah. 2 minggu ini aku tak pernah melihatnya"
"Kak Adrian, apa kau melihatnya?"
"Kenapa kau tanya aku pula?"
"Kau kan satu sekolah dengannya!"
"Hm, tadi pagi aku datang ke kelasnya dan teman sekelasnya bilang bahwa dia tidak hadir selama 2 minggu"
"Sebenarnya dia kemana?!"
"Apa jangan jangan..."
"Apakah dia diculik?"
"Tak mungkin! Andrew sangat kuat dalam bela diri!"
"Kau lupa ya? Dia kan masih ada penyakit!"
"Tak mungkin juga, dia sudah disuntik obat penenang. Obat itu akan bertahan selama kurang lebih 1 bulan"