
"Maaf, lama"
"Nah itu dia, pa!"
"Andres Denburg?" Ucap Putra dalam batin
"Mungkin sudah saatnya aku memberitahu kan Andres tentang semuanya" Ucap Putra dalam batin
"Aku ke kamar mandi dulu ya"
"Oke!"
"Andres, namamu Andres kan?"
"Iya, paman. Ada apa?"
"Nanti saat William sudah tidur, bisakah kau menemui paman? Ada yang ingin ku katakan padamu"
"Oh, baiklah"
23:00
"Akhirnya Will tidur juga!"
Andres pun menyusup ke ruang kerja Putra
"Andres, kau sudah datang"
"Iya, ada apa paman?"
"Paman ingin memberitahumu, bahwa..."
"Bahwa apa?"
"William sebenarnya adalah Andrew"
"Apa?!!! Andrew..."
"Iya, Andrew Denburg, kakakmu!"
"Ke, kenapa dia tidak mengingatku?"
"Saat dia pergi dari rumah Denburg. Waktu kami menemukannya, dia pingsan. Jadi kami membawanya ke rumah dan saat dia sadar, dia menceritakannya kepada kami. Dan kami pun bersepakat untuk mengangkatnya sebagai anak kami. Suatu hari, kami pergi liburan ke villa di puncak gunung. Andrew terguling terjatuh dari atas bukit dan kepalanya menabrak keras sebuah batu besar. Dan akhirnya dia kehilangan semua ingatannya. Kami pun bersepakat untuk menganti namanya menjadi William Putra dan membohonginya bahwa kami adalah keluarga kandungnya"
"Ja, jadi Will adalah, Andrew?"
"Iya, betul sekali. Oh ya, saya ingin bertanya sesuatu"
"Ada apa, paman?"
"Ada masalah apa dengan Andrew? Kenapa dia pergi meninggalkan rumah Denburg?"
"Kakakku yang mengusirnya..."
"Kakakmu? Maksudmu, Anna?"
"Iya, dia salam paham lalu mengusir Andrew dari rumah. Kalau aku membantu Andrew maka Andrew akan dikeluarkan dari Keluarga Denburg...jadi aku tak berani membantunya"
"Bagaimana bisa dia ingin mencoret nama pewaris dari keluarga Denburg sendiri"
"Maksud anda? Pewaris?"
"Belum saatnya kalian tau, hehe"
"Baiklah...jadi bagaimana cara memulihkan ingatannya?"
"Mungkin...memori! Iya memori! Mungkin memori bisa memulihkannya!"
"Memori? Masa lalu?"
"Apa kau tau tentang masa lalunya? Kau sudah bersamanya sejak kecil kan"
"Iya, aku agak lupa tentang itu"
"Yasudah, nanti saat kau pulang ke rumahmu kau bisa ajak William ke rumahmu"
"Untuk apa?"
"Mungkin saja dia akan mengingat sesuatu"
"Oh, baiklah. Terima kasih atas bantuanmu"
"Tidak usah sungkan, nak"
Beberapa hari kemudian
"Will! Aku pulang dulu ya"
"Iya! Hati hati ya"
"Apa, kau mau ikut ke rumahku? Sepertinya ada barangmu yang ketinggalan di rumahku"
"Oh, kalau begitu aku akan ikut pergi ke rumahmu. Sekalian mau bertemu dengan kedua kakakmu!"
William pun mengikuti Andres ke rumahnya
"Aku pulang"
"Selamat datang tuan"
"Di mana kak Anna?"
"Dia sedang di ruang tengah, tuan"
"Oh, baiklah. Ayo kita masuk"
"Oke"
Di ruang tengah
"Kak, aku pulang"
"Dres! Kau kemana saja?!!"
"Eh, itu...arghh!"
"Will! Kenapa?"
*Isi pikiran William on*
"PERGI KAU DARI RUMAH INI!!!"
"Sekarang kau sudah bisa pergi?!! Aku ingin tidur, kau hanya mengacauku!!!"
"KAU MELECEHKAN MURID PEREMPUAN YA!"
"PERGI KAU! AKU MEMBENCIMU! AKU TAK MAU MELIHATMU LAGI!!!"
"ANAK SIALAN! PERGI KAU DARI RUMAH INI!"
*Isi pikiran William off*
"ARGH!!!!!!"
"Pelayan!!! Bawa dia ke rumah sakit!!!!"
Lokasi : Rumah sakit terbaik
Waktu : 13:40
"Bagaimana keadaan Andrew?!!"
"Andrew, dia masih koma..."
"Apa yang terjadi tadi?"
"Tadi dia hanya bertemu dengan Kak Anna dan dia tiba tiba dia teriak kesakitan"
"Mungkin saja dia-"
"Andrew sudah bangun!"
"Andrew!!!"
"Argh, ke, kenapa aku bisa di sini?"
"Will! Kau sudah sadar?!!"
"Kenapa, rasanya aku tidur lama sekali"
"Apa kau ingat namamu?"
"Namaku, Andrew, Andrew Denburg"
"Andrew!!! Kau sudah ingat!!!!"
"Andres...!"
Andres pun memeluk Andrew dengan erat
"Aku sangat merindukanmu!!!"
"Aku, juga. Eh? Siapa mereka ini?"
"Kau tidak ingat kepada mereka?"
Andrew menggeleng
"Aduhh, mereka sudah sangat baik kepadamu!"
"Eih? Apa yang terjadi?"
"Kau masih ingat saat kau pergi dari rumah?"
"Iya"