Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Rim Sang Penyembuh



"Hay! Nama ku Mix. Aku juga seorang Golden! Senang bertemu dengan mu, Golden yang lain!" Sapa Mix dengan senyuman termanis yang pernah Dion lihat.


"Hh..hai. aku..nama ku Dion. Mm.. salam kenal!" Jawab Dion malu-malu.


"Oh! Dion! Teman-teman! Nama nya Dion!" Seru seorang anak lelaki yang duduk tak jauh dari tempat Dion berdiri kini.


"Hai Dion! Nama ku Zetta!" Sapa seorang anak perempuan dengan kaca mata bundar melingkar di wajah nya.


"Hai Dion! Aku Belle!" Sapa anak perempuan yang duduk di samping Zetta.


"Dan aku Logan!"


"Aku Mou!"


Tak lama, kerumunan baru terbentuk di sekitar Dion. Dion oun jadi terperangah dan merasa tersanjung. Ini baru pertama kali nya ia berada di kerumunan anak-anak seumuran nya. Sepanjang hidup nya ini, Dion baru memiliki dua teman saja sebelum ia pergi ke Dunia Pengendali Naga ini. Dan mereka adalah Putri Rinaya dan juga Pangeran Himada. Itu pun kedua teman nya itu kini berada di Nevarest. Di seberang dunia yang lain. (Baca ceritanya di novel Cinta Sang Maharani 2: Raja dan Ratu).


"Aku Stephen!"


"Hey! Sudah! Sudah! Biarkan Dion bernapas dulu, oke. Teman-teman! Ayo Dion! Duduk lah! Dan makan lah sepuas hati mu. Kau bebas makan apapun yang kau sukai di meja ini. Hari ini, pesta ini adalah milik mu," tuntun Blaze menuntun bahu Dion ke salah satu kursi yang mengitari meja panjang.


Dan Dion terperangah saat melihat banyaknya makanan yang terhidang di atas meja panjang. Ia lalu melirik ke dua meja panjang lain nya, dan ternyata di meja lain itu pun terhidang banyak sekali makanan.


"Pesta ini.. untuk ku?" Tanya Dion dengan perasaan terharu.


"Ya! Untuk menyambut mu di keluarga baru mu ini, Diy!" Jawab Blaze sambil tersenyum ramah.


"Ayo Dion! Kita segera makan! Kami sudah lapar nih!" Seru anak lelaki yang seingat Dion bernama Mou. Mou memiliki bentuk tubuh yang cenderung gemuk, jika tak ingin disebut benar-benar bulat. Tinggi nya sedikit di atas Ram.


"Terima kaaih semua.. aku senang bertemu dengan kalian semua!" Ucap Dion kemudian yang menjadi salam perkenalan nya kepada para penghuni Dream Land.


***


Setelah mengisi perutnya hingga penuh, Dion kembali dikelilingi oleh kerumunan teman-teman baru nya di Dream Land. Semua orang berlomba-lomba menanyakan sesuatu kepada nya.


"Jadi, kau dibuang oleh keluarga mu atau diculik oleh Exzacta?" Tanya Stephen. Anak lelaki berusia sebelas tahun, sama seperti Dion, namun memiliki tubuh yang lebih kurus dari Dion.


"Aku diculik. Aku baru saja datang ke dunia ini.. maksud ku, dunia Naga? Saat aku dan kedua orang tua ku bermalam di sebuah gua, tiba-tiba saja sekawanan harpy muncul dan menyerang kami. Lalu.. aku diculik oleh salah satu nya," jawab Dion sambil tersenyum sedih.


Dion tiba-tiba teringat dengan kedua orang tua nya.


'Papa dan Mama Anna mestilah sedang mencari ku saat ini.. aku merindukan mereka..' gumam Dion dalam hati.


"Harpy? Makhluk setengah burung dan setengah wanita itu bukan, maksud mu?" Tanya Zetta, remaja berusia 13 taun, namun memiliki tinggi tubuh yang setara dengan Dion.


"Yam makhluk itu," Dion membenarkan tebakan Zetta.


"Ya ampun! Jangan bilang kalau kau dibawa menggantung di udara oleh harpy itu? Aku pernah mengalami nya sekali. Dan jujur saja, itu adalah pengalaman terbang pertama ku yang sangat buruk!" Ungkap Zetta menceritakan kisah nya sendiri.


"Apakah sungguh mengerikan, Zet, makhluk harpy itu?" Tanya Belle, si cantik yang duduk di dekat Zetta.


"Ya, Bwll! Kau akan berharap untuk bertemu dengan soang daripada para harpy itu. Tubuh mereka setinggi orang dewasa. Belum lagi cakar tangan dan kaki nya yang tajam. Itu sungguh mengerikan!" Jawab Zetta lebih lanjut.


Dion mengamati semua kawan nya itu satu persatu.


Kebanyakan anak-anak di sini terlahir dari keluarga pengendali naga. Namun saat keluarga mereka mengetahui kalau anak mereka tak mememiliki kemampuan pengendali, maka mereka akan meninggalkan anak mereka begitu saja saat mereka berjalan ke suatu.


Jadilah akhirnya anak-anak tersebut lalu bertahan hidup dengan kemampuan seada nya. Ada yang ditinggalkan di hutan, sehingga ia harus menghadapi bahaya hutan dan makhluk-makhluk penghuni nya.


Ada juga yang dilempar ke tengah lautan. Dan terombang-ambing di tengah laut, sebelum berhasil ditemukan oleh Blaze dan juga ke lima Anak Besar lain nya.


"Di Dream Land ini, sebenarnya ada satu orang dewasa yang tinggal bersama kami. Dia adalah Paman Zack. Tapi sekarang Paman Zack sedang pergi menyelamatkan anak-anak lain yang perlu ditolong. Dia pergi bersama lima anak besar lain nya. Jadi sekarang Blaze lah yang diberi amanah menjadi ketua sementara di Dream Land ini. Begitu Kak Dion!" Tutur Ram bercerita.


"Itu sih Alva, Kak Dion! Dia adalah koki terhebat sepanjang masa! Sejak dulu, Alva lah yang sudah memasak untuk kami!" Jawab Ram.


"Apa Alva seumuran dengan Kak Blaze?" Tanya Dion lagi.


"Tidak! Dia sama besarnya seperti ku dua tahun yang lalu. Aneh nya, dia tak pernah berubah. Tubuh nya masih juga mungil, meski aku sendiri sudah bertambah sepuluh sentimeter sejak dua tahun lalu, Kak!" Jawab Ram kembali.


"Ram! Ayo kita ajak Dion ke taman bermain!" Ujar Stephen tiba-tiba.


"Yah! Ide yang bagus Steph! Ayo Kak Dion! Kita pergi ke taman bermain!" Ajak Ram kemudian.


Tangan Dion lalu ditarik oleh Ram dan juga Stephen menuju area samping mansion. Di sana terdapat berbagai peralatan bermain.


Ada lorong gorong yang transparan, di mana Dion melihat ada beberapa anak yang sedang merayap di dalam nya. Ada juga tiang tempat beberapa anak pada bergelantungan, dari ujung satu ke ujung yang lain.


Ada tebing buatan di mana beberapa anak sedang memanjat ke atas. Ada juga mainan lompat tali yang berputar otomatis. Dan Dion melihat dua orang anak sedang beraama-sama bermain melompat di sana.


Serta beberapa permainan lain nya yang menurut Dion terlihat membahayakan.


"Apa semua ini.. gak terlalu bahaya untuk kita bermain?" Tanya Dion entah pada siapa.


"Bahaya apa sih? Semua permainan ini menyenangkan lho, Kak! Ayo! Coba lah!" Seru Ram menarik tangan Dion untuk mencoba bermain ayunan.


Ada dua ayunan di sana. Dan Dion menatap ngeri pada salah satu ayunan yang sedang digunakan oleh anak lelaki seumuran dengan nya. Di mana anak lelaki itu berdiri di atas ayunan sambil bermain hingga mencapai ketinggian yang hampir menyamai tinggi tiang penopang nya.


"Hentikan dia! Bagaimana jika dia terjatuh?!" Pekik Dion merasa khawatir pada anak itu.


"Tenang saja, Kak! Hammer akan baik-baik sa.."


Belum selesai Ram berkata, Hammer, anak lelaki yang dikhawatirkan oleh Dion terjatuh dari ayunan ternyata benar terjatuh. Hammer tak bisa mempertahankan posisi kaki nya di pijakan ayunan. Sehingga kaki nya terlepas dari papan tempat ia seharusnya duduk. Alhasil Hammer pun terlempar jatuh dari atas ayunan nya.


Brak! Suara tulang patah terdengar jelas di telinga Dion. Dengan spontan ia bergegas berlari untuk menghampiri Hammer. Diikuti juga oleh beberapa anak lain nya.


"Hammer!"


"Hammer!"


Teriak beberapa anak bersamaan.


"Kita harus bawa dia ke dokter. Apa di sini ada dokter?" Tanya Dion begitu panik. Ia paling tergerak jika ada yang terluka. Hati nya selalu terpanggil untuk membantu mereka yang membutuhkan bantuan. Seperti saat ini. Dengan berani Dion langsung melayangkan pandangan nya ke sekitar. Dan Dion dibuat tercengang.


Kebanyakan wajah yang Dion lihat tak menampakkan raut panik atau cemas terhadap kondisi Hammer. Hal ini membuat Dion merasa heran.


"Tenang lah, Kak. Kita akan membawa Hammer ke Penyembuh. Ayo! Phill! Kau bantu angkat Hammer ya! Kita bawa Hammer ke Penyembuh!" Seru Ram memberi titah.


Kemudian, bertiga dengan Phill dan juga Ram, Dion menggotong tubuh Hammer ke sebuah bangunan kecil di luar mansion, yang tadi nya Dion pikir adalah gudang.


"Apa Penyembuh ini seorang dokter?" Tanya Dion masih merasa cemas.


Hammer hanya mengaduh kesakitan. Anak lelaki itu tampak nya seorang anak yang tangguh, karena ia tak menangis sama sekali setelah mengalami luka serius seperti sekarang ini.


"Rim! Rim! Ada pasien untuk mu!"teriak Ram ketika mereka sudah berada di depan pintu bangunan kecil tersebut.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka, dan Dion kembali dibuat terkejut saat melihat sosok anak lelaki dengan wajah identik seperti wajah Ram menatap nya dengan pandangan bertanya.


"Siapa lagi kali ini? Jangan bilang Hammer lagi...? Oh! Dugaan ku benar ternyata. Hammer! Kau memang juaranya terluka!" Rutuk anak lelaki yang ternyata adalah kembaran nya Ram tersebut.


***