
"Wooww! Keren sekali yang barusan tadi! Kau hebat, Kak!" Seru suara sosok alien menyerupai bocah lelaki berusia delapan tahun, yang tubuh nya seperti menyatu dengan bebatuan di dinding.
Dion seketika terhuyung mundur. Ia merasa bingung, penasaran, sekaligus juga takut terhadap sosok yang tiba-tiba saja muncul di hadapan nya itu.
Lebih terkejut lagi saat sosok tersebut akhirnya mewujud menjadi manusia betulan. Dan akhirnya kini di hadapan Dion pun berdiri seorang anak lelaki yang sepertinya lebih muda dari nya.
"Si..siapa kamu?!" Tanya Dion dengan perasaan takut.
"Tenang, Kak. Jangan takut. Nama ku Ramoriy. Panggil saja aku Ram. Aku akan membantu mu keluar dari tempat ini!" Ucap Ram memperkenalkan diri.
"Ss..sungguh?!" Dion menatap Ram tak percaya.
Ia merasa sangsi kalau anak yang bahkan lebih muda dari nya itu bisa membantu nya keluar dari penjara ini.
Dion lalu menatap ke arah Bolum yang masih berguling-guling di lantai. Nampak nya Bolum ikut mendengar ucapan Ram tadi. Karena itu lah lelaki itu langsung bangkit dan menjulurkan tangan nya ke arah Dion. Sementara kedua mata nya masih terpejam rapat.
"Siapa itu?! Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Jangan harap kau bisa membawa Golden ku kabur!" Ancam Bolum penuh emosi.
"Ayo, Kak! Cepat ke sini!" Ajak Ram sambil mengayunkan tangan nya ke arah Dion.
Dion pun menghindari tangan Bolum yang terentang dan berusaha untuk menangkap nya. Dan dia berhasil.
"Hey! Bocah! Jangan kabur! Atau aku akan menyiksa mu nanti dengan siksaan yang lebih berat lagi! Kau akan menyesal bila melarikan diri dari tempat ini!" Ancam Bolum, masih sambil meraba-raba nya ke depan untuk menangkap Dion.
Dion sempat terdiam merasa ragu untuk mengikuti Ram. Bagaimana pun juga, ia tak mengenal Ram. Namun, entah kenapa firasat nya menyuruh nya untuk mengikuti anak lelaki itu.
"Ayo cepat, Kak! Waktu ku tak banyak tersisa!" Ram mengingatkan Dion untuk bergegas.
Akhirnya, Dion pun membulatkan tekad nya, dan ia bergegas menghampiri Ram yang sudah menepi ke dinding tempat ia muncul sesaat tadi.
"Bagaimana cara kita bisa pergi dari tempat ini?" Tanya Dion kebingungan.
"Tenang saja, Kak. Kakak cukup pegang tangan ku saja!" Ujar Ram memberi tahu.
"Golden! Jangan lari kau!!" Kini Bolum mulai berjalan mendekati tempat Dion dan Ram berada. Situasi menjadi semakin genting. Dan Dion berharap anak lelaki yang baru ditemuinya itu benar-benar bisa membawa nya kabur dari tempat ini.
Dion pun bergegas memegang tangan Ram.
"Oke. Sekarang, ayo kita pergi dari tempat busuk ini!" Ujar Ram sambil menyengir lebar.
"Hey! Siapa itu?! Awas saja kau bila ku tangkap nanti! Aku akan membuat mu jadi daging cincang untuk cacing terkutuk itu!" Ancam Bolum terdengar begitu mengerikan.
"Tidak akan! Karena kami sudah akan berada jauh dari tempat busuk ini, sebelum kau bisa membuka kedua mata mu itu, Pak Tua!" Ledek Ram dengan berani.
"Suara itu!! Aku mengenal mu! Kau itu penyihir laknat itu bukan?!!" Teriak Bolum penuh emosi.
Sambil mendengarkan percekcokan keduanya, Dion memperhatikan saat satu tangan Ram lain menyentuh dinding batu di hadapan mereka. Dan perlahan, dinding batu tersebut seolah bergerak hidup. Seperti air danau yang beriak kala disentuh.
"Hahaha.. jawaban nya ya dan tidak, Pak Tua! Ya! Aku memang seorang penyihir. Tapi terlaknat? Ah! Kau terlalu tinggi memuji ku, Pak Tua! Biarlah pujian itu ku berikan pada mu saja ya!" Tukas Ram meledek Bolum.
"Dasar penyihir bang*at! Kemari kau!"
Dion semakin tegang, karena kini jarak Bolum semakin dekat dengan posisi tempat ia dan Ram berdiri. Sementara itu, riak yang ada pada dinding di hadapan nya semakin lebar dan terus melebar. Hingga akhirnya riak tersebut kini sudah seukuran tubuh Ram besar nya.
"Ayo,Kak! Kita pergi sekarang!" Ajak Ram menarik tangan dion bersama nya.
Dan ajaib! Dion yang tadi nya sempat bingung kenapa Ram mengajak nya berjalan ke arah tembok yang beriak itu, la pun dibuat terkejut. Karena ternyata tubuh nya bisa menembus melewati dinding tersebut.
(Untuk selanjutnya dunia tersebut akan dinamakan sebagai dimensi gelap.)
Akan tetapi, tiba-tiba saja kaki Dion seperti ditarik. Ia pun menoleh ke belakang dan seketika dicekam oleh perasaan takut.
Bolum ternyata berhasil menangkap salah satu kaki nya.
"Kena kau! Aku tak akan melepaskan mu! Awas saja kau! Akan ku buat kau menyesal karena sudah berusaha kabur!" Kekeh Bolum sambil menyeringai kesenangan. Saat itu kedua mata nya masih juga terpejam rapat.
Dion lalu berusaha mendorong kaki nya agar terlepas dari cengkraman tangan Bolum. Akan tetapi lelaki tersebut memegang kaki nya begitu erat.
Bolum lalu menarik kaki Dion dengan kekuatan besar. Hingga Dion terjatuh dan hampir saja akan terseret keluar kembali dari dimensi gelap yang akan membawa nya kabur dari penjara tadi.
Akan tetapi, Dion berusaha untuk melepaskan diri. Sementara tangan nya masih berpegangan erat pada tangan Ram. Dion pun berusaha menendang-nendang kan kaki nya ke depan agar terlepas dari cengkraman Bolum.
"Ahh! Pak Tua! Kau memang menyebalkan sekali!" Umpat Ram kemudian.
Lalu, secara tiba-tiba Ram berjalan kembali keluar dari dimensi gelap, kemudian ia menginjak tangan Bolum yang menahan kaki Dion. Dan akhirnya, Dion pun terbebas kembali.
Dion bergegas menarik kaki nya kembali hingga berada di dimensi gelap, diikuti oleh Ram yang hingga saat itu masih juga menggenggam tangan nya erat.
Kedua nya lalu melihat saat Bolum memegang tangan nya yang kesakitan karena diinjak oleh Ram.
"Arrghh!! Penyihir laknat! Awas kau!"
Bolum kembali menggapaikan tangan nya ke depan. Namun, itu adalah pemandangan terakhir yang bisa Dion lihat, tepat sebelum dimensi gelap menutup akses nya dengan penjara bawah tanah yang menahan nya tadi.
Kini, Dion dan Ram pun seutuh nya berada dalam dimensi gelap. Tak ada apapun yang bisa Dion lihat selain Ram yang kini menatap nya dengan senyuman lebar.
"Sekarang, aku akan memperingatkan mu ya, Kak! Jangan sekali-kali Kakak melepaskan tangan ku ya!" Tegur Ram mengingatkan Dion.
"Me..memang nya kenapa?" Tanya Dion penasaran.
"Karena itu akan memutuskan komunikasi Kakak dengan sihir yang sedang ku gunakan saat ini. Itu berarti Kakak akan kembali ke dalam labirin di bawah tanah itu lagi. Atau yang lebih parah, Kakak bisa saja tergencet pada salah satu dinding nya dan berakhir mati tanpa Kakak sadari sebab nya kenapa. Mengerikan bukan?" Tanya Ram sambil menyengir lebar.
'Kenapa anak ini bisa tetap menyengir seperti itu saat ia mengatakan hal menyeramkan seperti tadi?' gumam Dion dalam hati.
Dion akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala nya dengan gerakan kaku. Dan itu disalah pahami Ram sebagai tanda Dion merasakan takut.
Anak kecil itu pun mencoba menghibur Dion.
"Tapi tenang saja, Kak. Aku tak akan membiarkan Kakak mengalami nasib tragis seperti itu kok! Jika tidak, aku bisa dimarahi habis-habisan nanti oleh Blaze!" Seru Ram sambil mengernyitkan dahi.
"Blaze? Siapa itu Blaze? Dan.. sebenarnya, ada di mana kita sekarang ini?" Tanya Dion dengan pertanyaan beruntun.
Dion terus mengamati pemandangan di sekitar nya. Ia berharap bisa melihat pemandangan lain selain kegelapan pekat yang dilihat nya sekarang ini.
"Blaze itu ya Blaze! Nanti juga kakak akan bertemu dengan nya! Dan tentang di mana kita sekarang, sebut saja ini sebagai Dimensi Gelap. Ini adalah dunia yang hanya bisa dilewati oleh ku seorang Kak! Dan juga oleh orang-orang yang ku ajak melewati Dimensi Gelap ini bersama ku. Seperti Kakak sekarang ini!" Jawab Ram bersemangat.
"..."
Dion masih tak mengerti dengan penjelasan Ram itu. Namun ia memilih untuk diam saja.
"Nah. Kita sudah sampai!" Seru Ram tiba-tiba.
***