Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Ancaman Zacko



Naga ungu Maryleen masih berputar-putar di atas hamparan gunung-gunung batu. Penampakan nya di langit pagi itu jelas menarik banyak perhatian kelompok manusia. Entah itu Para Pengendali naga dari tiga sekte, maupun Para kelompok Exzacta dari ke delapan divisi yang sedang berada dekat dengan daerah Dataran Ungu Senja, tempat Dion dan yang lain nya berada saat ini.


Salah satu yang melihat penampakan naga ungu tersebut adalah kelompok pengendali naga dari sekte Devada. Di mana dalam kelompok yang terdiri dari sebelas orang itu terdapat pula Yan Chen dan juga Anna di dalam nya.


"Yan! Lihat di langit sana! Ada seekor naga terbang sendirian. Tapi, suasana langit di sekitar naga itu terbang terlihat aneh sekali. Karena terdapat pusaran awan hitam di langit tempat naga itu terbang berputar-putar," tunjuk Anna ke langit di kejauhan.


Yan Chen langsung mengikuti arah telunjuk sang istri.


"Benar. Tunggu dulu! Abb! Bukan kah itu naga.."


Ucapan Yan Chen langsung disambung oleh Abiel.


"..ungu. ya, Cjen. Itu emmang sungguh naga ungu," sambung Abiel.


"Apa menurut mu, naga itu dipanggil oleh Zacko?" Tanya Yan Chen menerka-menerka.


"Maksud mu, kau ingin bertanya apa naga itu dipanggil oleh Dion bukan, Chen? Mah. Kalau soal itu sih aku tak tahu jawaban nya. Kita harus melihat lebih dekat ke tempat naga itu berada. Bisa gawat kalau naga ungu itu ditangkap oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab seperti Zacko," ujar Abiel menyampaikan kecemasan nya.


"Bersiap-siap lah, Chen. Besar kemungkinan kita akan bertemu dengan kelompok lain nya. Ku harap sih, kemunculan naga ungu tersebut disebabkan oleh pihak pengendali naga dari sekte yang lain. Itu jauh lebih baik dibanding kelompok Exzacta atau Zacko yang mendapatkan naga ungu itu nanti nya," lanjut Abiel.


"Tapi aku sangsi bila naga itu muncul karena pihak kita, Abb. Bukan kah aliansi dari ketiga sekte telah sepakat untuk menyembunyikan keberadaan para Golden? Sementara untuk memanggil naga ungu itu hanya bisa dilakukan oleh seorang golden saja," sanggah Yan Chen berargumentasi.


"Sebenarnya, aku pun sepemikiran dengan mu, Chen. Tapi, tak ada salah nya juga kan kalau kita mendoakan yang baik dahulu. Siapa tahu naga itu dipanggil secara tak sengaja oleh Golden yang tak sengaja lewat ke tempat itu, bukan?" Lanjut Abiel.


Seketika Yan Chen memandang aneh pada Abiel.


"Abb, ku rasa kemungkinan yang kau sebutkan tadi, terlalu kecil deh untuk benar-benar terjadi.." imbuh Yan Chen.


Dan Abiel pun membalas sahutan Yan Chen dengan tersenyum satir.


***


Sementara itu, di tempat tak jauh dari Dion dan lain nya berada, belasan orang berpenampilan prajurit tampak sedang menikmati sarapan pagi mereka, elang bakar.


Sekelompok orang itu pun terkejut dengan kemunculan naga ungu yang begitu tiba-tiba di langit kejauhan sana. Sehingga salah satu yang terlihat paling tua di antara yang lain tiba-tiba berdiri dan berseru kepada kelompok nya.


"Bersiap-siap lah semua nya! Akhirnya kita akan menadapatkan buruan bagus kali ini.. akhirnya, setelah sekian lama kita terdampar di tempat ini, kita bisa mendapatkan tiket emas untuk kembali ke divisi kita lagi," seru lelaki bernama Ah Roo.


"Apa menurut mu, golden kali ini adalah golden yang kita cari, Ah Roo?" Tanya salah satu pengikut nya.


"Tentu saja. Tidak kah kau melihat warna ungu pada naga itu? Itu adalah klan naga terbaik di antara klan naga lain nya. Itu berarti dia juga dipanggil oleh seorang Golden yang istimewa, bukan?" Sahut balik Ah Roo tak sabar.


"Dengan darah istimewa dari si golden, serta naga rampasan yang terbilang istimewa itu, Ayah pasti akan membolehkan ku masuk kembali ke dalam divisi kita. Akan ku buat mereka yang sudah membuat ku terusir dari rumah ku sendiri, mati binasa semuanya!" Ah Roo bertekad dipenuhi dendam juga amarah.


Hening. Semuanya mengaminkan ucapan Ah Roo dalam hati.


Ah Roo sebenarnya adalah pewaris dari kelompok Exzacta di dunia Pengendali Naga. Tadi nya ia menjadi pimpinan di kelompok Exzacta divisi 2, sementara ayah Ah Roo menjadi ketua Exzacta di divisi utama, yakni divisi 1.


Akan tetapi, amat jarang kekuasaan kelompok Exzacta diwariskan secara turun temurun. Biasanya pemilihan ketua divisi ditentukan secara pertarungan gladiator. Adu kuat antara satu kandidat dengan kandidat lain nya. Kandidat ketua divisi ditentukan berdasarkan ranking pada hasil pertarungan tersebut.


Ah Roo sendiri sebenar nya mendapat rnaking satu pada pertarungan gladiator beberapa bulan silam. Akan tetapi pesaing terkuat nya, Rodex membuat tipu muslihat, yang pada akhirnya malah membuat Ah Roo dan segelintir pengikut setia nya terusir dari kelompok divisi nya sendiri.


Kini, Rodex mungkin sedang menikmati masa-masa kemenangan nya di divisi milik Ah Roo.


Karena itulah, Ah Roo yang sempat diturunkan kekuasaan nya menjadi ketua divisi 3 pun tak terima. Ia memutuskan untik hengkang dari markas Exzacta di labirin bawah tanah. Dan mencari keberadaan naga ungu. Demi bisa membuktikan kedigdayaan nya yang melebihi Rodex.


Ah Roo yakin, jika ia pulang dengan membawa golden istimewa beserta naga rampasan nya, ia dan pengikut setia nya akan kembali menguasai divisi asli mereka di divisi 2 kelompok Exzacta.


"Ayo kita bergegas, sebelum ada kelompok lain yang membawa pergi tiket emas kita itu!" Ajak Ah Roo sambil melempar tulang paha elang bakar yang baru separuh dimakan nya.


***


Kembali ke tempat Dion berada saat ini.


"Dion, cepat kendalikan naga itu! Kau hanya perlu menguatkan tekad mu dan menyuruh naga itu mendekat ke sini!" Titah Paman Zacko begitu mendesak.


Zacko merasa sudah banyak waktu terbuang percuma. Jika ia tak bergegas, bisa jadi usaha nya untuk menguasai naga ungu tersebut akan mendapat rintangan dari kemunculan kelompok pengembara lain nya di daratan Ungu Senja ini.


'Katakan saja kepada nya, kalau kau kesulitan untuk mengendalikan ku, Yon!' usul Maryleen di benak Dion.


Sekilas Dion mengangguk dengan mata yang terus menatap ke arah naga ungu Maryleen di kejauhan.


Lalu kepada Paman Zacko, Dion pun berkata.


"Aku sulit untuk mengendalikan nya, Paman. Kaki ku terasa kaku. Bisa kah kita pergi dari tempat ini saja?" Pinta Dion dengan nada mengiba.


Remaja putra tersebut ingin mendengar jawaban yang akan didapatnya dari mulut Paman Zacko. Ia berharap Paman Zacko tidak sejahat seperti yang Maryleen katakan. Jika Paman Zacko masih memiliki kebaikan dalam dirinya, lelaki itu pastilah tak akan memaksa Dion bukan? Begitu kiranya pikir Dion.


Tali ternyata, harapan Dion itu harus pupus, usai ia menerima hardikan keras dari Paman Zion yang baru dikenal nya beberapa pekan terakhir ini.


"Jangan bodoh! Aku tak akan pergi dari tempat ini, sebelum aku mendapatkan naga ungu itu! Cepat kendalikan makhluk itu, Dion! Atau.."


Tiba-tiba saja sebuah jeritan terdengar memecah udara di sekitar sana.


"Aarghh! Paman! Ll..lepaskan!" Pekik Mix kesakitan.


Dion langsing saja menoleh dan ia melihat di samping nya, Mix berada dalam kurungan tangan Paman Zacko. Sebilah belati tampak berkilat menempel di leher nya yang putih.


"Pp..paman! Apa yang Paman lakukan?!" Dion mulai ketakutan dan panik.


"Cepat kendalikan naga itu, Dion! Atau kau akan melihat leher teman mu ini putus oleh belati ku. Bagaimana hmm?" Ancam Zacko tanpa keraguan sedikit pun di matanya.


***