Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Terjatuh dari Naga Tunggangan?



"Cepat kendalikan naga itu, Dion! Atau kau akan melihat leher teman mu ini putus oleh belati ku. Bagaimana, Hmm?" Ancam Zacko tanpa keraguan sedikit pun di matanya.


'Maryleen, bagaimana ini? Paman mengancam akan melukai Mix kalau aku tak membuat mu datang ke sini?!' pekik Dion tanpa suara.


Remaja lelaki itu sungguh ketakutan bila Paman Zacko akan benar-benar membuktikan ancaman nya itu. Jika Mix terluka oleh belati di tangan Paman Zacko, maka itu berarti adalah salah nya. Begitu pikir Dion.


'Tenang lah Dion. Sebentar lagi.. kau hanya perlu bersabar sedikit lagi saja. Kelompok lain akan segera datang ke tempat mu!' Maryleen berusaha membuat Dion tenang.


"Cepat, Dion! Jangan membuat ku menunggu lebih lama lagi. Atau kau akan melihat sendiri teman mu ini mati di tangan ku!" Ancam Paman Zacko berulang.


"Dd..Dion! Tolong aku!" Cicit Mix yang ketakutan sangat. Ia tak menyangka kalau Paman Zacko akan sejahat ini kepada nya.


Dion ikut ketakutan jadinya.


'Maryleen! Tak bisa kah kau datang ke sini sebentar saja?' mohon Dion dengan nada mengiba.


'Maaf Dion. Aku jelas tak bisa melakukan nya. Di tempat mu berada saat ini, lelaki itu sudah membuat perangkap yang akan melemahkan kekuatan ku seketika, bila aku sampai pergi ke sana,' ungkap Maryleen kemudian.


'Pe..perangkap?'


Dion melayangkan pandangan nya ke sekitar. Dan ia tak melihat perangkap, seperti yang disebutkan oleh Maryleen tadi.


'Tapi aku tak melihat perangkap apapun seperti yang kau katakan itu Maryleen,' sanggah Dion atas ucapan Maryleen tadi.


'Kau jelas tak akan bisa melihatnya, Dion. Karena perangkap yang ku maksud adalah perangkap sihir. Hanya aku dan para pengguna sihir saja yang bisa melihat nya. Ku rasa Paman jahat mu itu tak mengira kalau aku bisa melihat perangkap buatan nya itu. Dipikirnya aku terlalu bodoh, mungkin untuk masuk ke dalam perangkap nya,' ujar Maryleen masih di benak Dion.


'Tapi, bagaimana dengan Mix, Maryleen. Dia dalam bahaya saat ini. Paman pasti akan..'


Ucapan Dion dipotong tiba-tiba oleh Maryleen.


'Diam lah Anak Muda! Dan lihat lah ke arah langit Timur sana. Bantuan yang akan kau dapatkan, sudah tampak jelas di langit sana,' tunjuk Maryleen kepada Dion.


Seketika pandangan Dion pun terangkat mengikuti arahan Maryleen. Gerakan itu tak luput dari perhatian Zacko dan Anak Besar pengikut nya. Sehingga semua yang ada di sana pun mengikuti arah pandang Dion. Dan, semua orang pun terkejut.


Tak jauh dari di langit Timur sana, terdapat sekitar belasan naga dengan variasi warna hijau dan juga cokelat yang terbang menuju tempat Dion dan lain nya berada.


Zacko sudah langsung bisa menebak kalau itu adalah kelompok Pengendali Naga sekte Devada, bila dilihat dari gaya formasi berbentuk V dari naga-naga tersebut. Itu adalah formasi terbang sekte Devada saat melakukan penyerangan/penyergapan.


'Sial! Mereka cepat sekali datang ke mari!' umpat Zacko dalan hati.


Tiba-tiba Dion berseru.


"Papa! Itu Eduardo, naga nya Papa!" Seru Dion bersemangat, karena dipenuhi oleh harapan untuk bisa selamat.


"Oh.. rupanya Yan Chen juga ada dalam barisan yang baru saja datang itu ya.. hmm.. sayang sekali.." gumam Zacko membuat Dion bingung.


"Kk..kenapa, Paman? Apa maksud Paman?" Tanya Dion tanpa bisa ia tahan.


Belum selesai Zacko berkata, saat Dion melihat dengan mata kepala nya sendiri belasan naga yang tadinya terbang di langit Timur sana tiba-tiba saja berubah menjadi letusan cahaya dan menghilang dalam sekejap mata.


"Tidak!! Papa!!" Jerit Dion begitu ngeri melihat apa yang terjadi pada para penunggang naga yang tadi tiba-tiba menghilang begitu saja.


Kini belasan orang terjun bebas dari atas langit. Seperti boneka yang dijatuhkan begitu saja ke atas bebatuan terjal di bawah sana.


"Papa!!" Dion langsung saja berlari demi bisa menangkap satu sosok yang diduga nya adalah Papa kandung nya, Yan Chen.


Tapi tentu saja itu adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Alasan nya adalah karena jarak di antara mereka masih terbentang ratusan meter jauh nya. Dan yang paling nyata terlihat adalah karena Dion sendiri yang masih hanya seorang bocah.


Apa yang bisa dilakukan oleh nya dengan tubuh kecil nya itu?


"Papa!! Papa!!" Dion menjerit sedih. Merasa kalah.


Ia terus berlari untuk menghampiri tempat di mana sosok-sosok di langit tadi terjatuh. Akan tetapi, salah satu Anak Besar segera menahan langkah Dion. Dia adalah Raff, Anak Besar yang dituakan di antara keempat Anak Besar lain nya.


"Kak! Lepas kan aku, Kak! Itu Papa ku, Kak! Papa ku terkatuh kak! Tolong Papa!" Dion menjerit menangis. Meluapkan kepedihan nya.


Selama beberapa saat suasana diisi oleh pekik jerit Dion menangisi jatuh nya rombongan Yan Chen ke tanah. Sampai kemudian Zacko menitahkan Raff untuk membawa paksa Dion ke tempat nya berdiri tadi.


"Nah. Itu sudah terjadi. Jadi, tak ada yang bisa kita lakukan lagi soal Papa mu yang pastilah sudah mati bukan?" Ujar Zacko dengan santai nya.


Mendengar itu, Dion pun seketika mengamuk dan hendak menyerang Zacko. Akan tetapi lagi-lagi Raff menahan nya.


"Kau membunuh Papa ku! Kau jj..jahat! Kau benar-benar lelaki jahat!!" Tuding Dion tanpa ampun ke arah Zacko.


Zacko mengedikkan bahu. Sementara tangan nya masih mengunci tubuh Mix sebagai tawanan nya sedari tadi.


"Well, secara teknis, mungkin ya. Aku sudah membuat Papa mu mati, Diy. Tapi membunuh nya? Tentu saja itu tudingan yang salah. Bukan kah mereka sendiri yang datang ke tempat ini untuk mengantarkan nyawa nya? Jadi jangan melulu menyalahkan ku, oke?" Ujar Zacko masih begitu santai.


"Kau..!!"


"Sudah. Sekarang kita lanjutkan lagi urusan kita. Apa kau mau aku jadi pembunuh sungguhan sekarqng? Baik lah. Aku akan menjadi pembunuh seperti yang kau tudingkan itu, Diy. Aku akan membunuh teman kecil mu ini sekarang juga. Kecuali...kau mau melakukan perintah ku. Cepat kendalikan naga itu! Atau.."


"Aargghh! Sakit! Di..Dion! Tolong aku!!" Jerit Mix meminta tolong.


Dion pun kembali galau. Ditatapnya Zacko dengan pandangan benci.


"Paman jahat! Paman benar-benar jahat!!" Tuding Dion dengan amarah yang berkobar.


"Ya. Aku memang jahat. Tapi, aku jelas tak lebih jahat dari orang-orang yang mengaku dirinya paling benar. Lalu menggunakan kekuasaan nya untuk menyakiti orang lain dengan sewenang-wenang. Aku memang telah banyak berbuat jahat," ujar Zacko dengan pandangan menerawang.


"Tapi setidaknya aku memberikan mu pilihan bukan, Diy? Tak seperti orang-orang jahat itu yang langsung menghakimi Lin ku hingga mati!" Gantian Zacko kini yang mengecam dalam kobaran amarah.


***