
Flashback beberapa saat sebelum nya...
Dion menatap bahagia kemunculan Yan Chen di hadapan nya. Ia sangat terkejut. Karena seingatnya tadi jelas-jelas ia melihat naga Eduardo milik Yan Chen tiba-tiba saja menghilang sehingga ia menjatuhkan penunggang nya yang sudah pasti adalah Yan Chen. Nasib sama yang juga dialami oleh para penunggang lain yang datang bersama dengan Papa nya itu.
'Bagaimana Papa bisa ..?!!'
Gumaman Dion dalam hati nya itu pun dikejutkan kembali dengan kemunculan suara Maryleen yang tiba-tiba kembali terdengar di benak nya.
'Dion! Dengar kata-kata ku sekarang juga!' panggil Maryleen menghentikan lamunan Dion.
'Maryleen! Da--' Maryleen buru-buru memotong ucapan Dion.
'Jangan menengok ke arah ku! Tetap pura-pura melihat ke arah Papa mu saja! Dengan begitu Paman jahat mu itu tak akan menyadari keberadaan ku yang akan terbang mendekat ke sana!' titah Maryleen dengan mendesak.
'Maryleen! Dari mana saja kamu?! Aku tadi rmmanggil-manggil nama mu, tapi kamu tak menyahut sama sekali? Dan tunggu dulu! Kau bilang, kau sedang menuju ke sini?? Tapi, bukankah kata mu di tempat ini sudah ada perangkap yang dibuat oleh Paman Zacko ya?!' tanya Dion dengan kalimat beruntun.
'Yah.. tadi itu aku hanya sedikit diam saja. Maksud ku, sih supaya kamu bisa benqr-benar terlihat panik dan sedih. Jadi Paman Zacko mu itu akan percaya dengan rencana ku,' jawab Maryleen.
'Soal perangkap itu, tenang saja.. beberapa lelaki yang baru saja datang itu sudah merusak formasi sihir yang menjadi perangkap buatan di area sana. Jadi aku bisa terbang ke sana dengan aman sekarang,' imbuh Maryleen kembali.
'Jadi, semua ini adalah rencana mu? Termasuk juga dengan jatuh nya Papa ku dari atas ketinggian itu?!' tanya Dion terkejut.
'Ya. Ini rencana ku. dion. Maaf karena aku tak memberi tahu kan mu sebelum nya. Tapi ku pikir. Kalau kau mengira Papa mu benar-benar terjatuh, tentu itu akan membuat Zacko lengah bukan? Ia akan berpikir kalau dirinya masih tetap aman di tempat itu,' jawab Maryleen.
Dion merengut. Ia tak menyukai rencana Maryleen ini sebenar nya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi yang utama adalah Papa nya masih tetap hidup, tentu itu lah yang paling penting bagi nya.
Sesuatu mengusik benak Dion. Sehingga ia pun menanyakan nya langsung pada Maryleen.
'Tapi Maryleen.. dari mana kamu bisa tahu kalau lelaki itu adalah Papa ku? Memang nya kamu bisa membaca pikiran Papa juga?' tanya Dion kembali.
'Yah.. tentu tidak, Dion. Aku hanya bisa mendengar suara pikiran mu saja. Sementara untuk orang lain, aku hanya bisa menangkap feeling apakah orang itu baik atau jahat dengan cara melihat kedua mata nya. Tapi sedari lelaki itu muncul, aku sering mendengar nya menyebut nama mu. Ia mengatakan kalau kamu itu anak nya. Begitu saja..' jawab Maryleen.
Hening sesaat.
'Nah, Dion. Sekarang waktu kita tidak banyak. Sebentar lagi aku akan meniupkan angin kencang ke arah mu. Jadi di saat Paman jahat serta lelaki yang sedang berdiri di dekat mu itu lengah, kamu larilah sekencang-kencang nya. Oke?' titah Maryleen begitu mendesak.
'Ah.. baiklah!'
Flashback selesai.
akhirnya Maryleen benar-benar meniupkan angin kencang ke arah Dion dan juga Zacko. Sehingga hal ini membuat Zacko dan juga Raffa lengah sesaat. Saat itulah Dion mengambil kesempatan untuk menjauh dari keduanya.
"Mix! Ayo pergi!" Teriak Dion di antara bising nya hembusan angin yang menerpa.
Dan tanpa membuang waktu, Mix pun segera berlari mengikuti gerak Dion yang melaju menuju tempat Yan Chen berada.
"Jangan harap kalian bisa lari dari ku!" Teriak Zacko.
Gabruk!
"Dion!" Pekik Yan Chen yang merasa cemas saat putra nya jatuh terluka.
Lelaki itu pun aegera berlari ke arah Dion. Di saat yang bersamaan Zacko juga segera verlari ke arah Dion berada. Namun naga Maryleen kembali menahan langkah nya dengan menghembuskan angin kencang tepat mengenai tubuh Zacko.
Zacko pun kembali limbung dan terjatuh. Begitu juga dengan Raffa yang kini sudah tak berkutik karena telah berada di bawah ancaman pedang yang terjulur ke leher nya. Pedang itu milik Abiel yang kini berdiri gagah di hadapan Raff.
Raff pun menyerah dan tak lagi melawan Abiel di hadapan nya.
Dion menengadah dan melihat wajah Yan Chen yang sedang berlari ke arah nya. Dengan bersemangat dan penuh harap, Dion pun mencoba kembali bangkit demi bisa segera ada di sisi Papa nya itu. Namun..
Sebuah kejadian terjadi dengan begitu cepat.
Sebuah anak panah yang datang dari arah belakang Yan Chen tiba-tiba saja membusur tepat menembus punggung hingga tembus ke depan dada nya.
Dion menatap ngeri pada ujung runcing dari anak panah tersebut. Dan kepala nya sontak terangkat ke atas. Menatap langsung mata Yan Chen yang juga terlihat sangat terkejut dengan apa yang telah menyerangnya secara tiba-tiba itu.
Tak lama kemudian, Yan Chen pun limbung dan terjatuh ke depan dengan bunyi berdebum yang kencang.
"Papa! Tidak!" Jeritan Dion terdengar memilukan hati.
Akan tetapi tak ada yang bisa merubah fakta tentang Yan Chen yang kini tersungkur jatuh ke atas tanah oleh serangan anak panah tersebut.
Di waktu yang bersamaan, anak-anak panah lain pun berterbangan dan mengenai tubuh, tangan, kepala, ataupun juga kaki dari orang-orang yang ada di sana.
Dion yang paha nya terluka hanya bisa menatap nanar dan bingung atas apa yang sebenarnya terjadi. Ia tak tahu, dari mana semua serangan ini berasal. Sehingga pandangan Dion pun langsung melihat ke sekitar nya untuk mencari tahu sumber serangan ini.
Dan Dion pun mendapatkan jawaban nya. Pelaku serangan mematikan ini berasal dari sekelompok orang yang mengenakan baju zirah. Jumlah nya mungkin berkisar belasan orang. Dan masing-maisng memegang sebuah busur serta anak panah yang terus mereka layangkan ke arah rombongan Yan Chen berada.
"Papa!!" Pandangan Dion kembali tertuju kepada Papa nya, Yan Chen. Kepala Yan Chen lalu terangkat secara perlahan. Sehingga kedua pasang netra milik ayah dan anak itu pun akhirnya kembali bertemu.
Mata Dion seketika mengabur oleh sebab air mata yang hendak tumpah ruah. Sementara mata Yan Chen mengembun sedikit oleh perasaan sedih dan menyesal.
Lelaki itu menyesal karena ia tak memiliki waktu yang banyak untuk dilalui bersama putra yang baru ditemukan nya itu.
Alhasil, Yan Chen hanya mampu menyebut nama Dion sekali saja, sebelum akhirnya kepala nya kembali terkulai lemah ke atas tanah.
"Di..on..!"
Bruk. Dan Yan Chen pun akhirnya tiada.
"Tidak!! Papa!!" Jerit Dion memecah kebisingan di pagi hari itu.
***