Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Memanggil Naga Ungu



"Dion, ayo bangun! Kita akan pergi keluar sebentar!"


Dion terburu-buru bangun mengikuti arahan salah satu Anak Besar yang seingat nya bernama Roy.


Dalam kondisi masih linglung dan mengantuk, Dion langsung berdiri dan meraih ransel yang tadi ia jadikan sebagai alas kepala nya untuk tidur.


Dion merasa bingung. Rasa-rasa nya ia belum lama tertidur. Terlebih lagi saat dilihat nya langit masih sangat gelap di luar tenda.


Dalam gelap, ia mengikuti langkah Anak Besar yang ada di depan nya. Ia juga sempat mendengar Mix menggerutu karena sudah dibangunkan terlalu dini.


"Mix masih mengantuk, Kak.. kenapa kita berangkat sekarang? Bukan nya langit belum terang ya?" Gerutu Mix.


"Diam lah. Sebentar lagi kita sampai. Ini tak akan lama!" Jawab suara di dekat mereka.


Usai ditegur seperti itu Mix pun menurut dan diam di sisa perjalanan mereka. Begitu juga dengan Dion.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Dion baru menyadari kalau ia belum mendengar suara Ram di dekat nya. Biasanya kawan nya itu yang paling sering berceloteh tentang banyak hal.


Entah tentang pepohonan yang mereka lewati lah. Atau bulan yang bersinar terang sempurna lah. Dan juga tentang banyak hal lain nya.


"Ram..?" Dion mencoba memanggil siluet gelap di hadapan nya. Namun ia tak menerima sahutan dari siapa pun jua.


Ia lalu menghitung jumlah siluet yang berjalan bersama dengan nya saat ini. Dan setelah dihitung, ternyata jumlah nya hanya lima orang saja. Itu pun dihitung termasuk dengan nya pula.


Bila dua orang Anak Besar berjalan lebih dulu, bukan kah seharus nya tersisa tujuh orang dalam perjalanan ini? Itu berarti, ada dua orang lain nya yang tak ikut bersama dengan rombongan Dion saat ini.


Merasa cemas, Dion pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu Anak Besar yang berjalan di belakang nya.


"Maaf, Kak. Apa Ram tidak ikut dengan kita?" Tanya Dion dengan sopan.


"Ya. Dia sedang pergi dengan misi yang berbeda," jawab singkat Anak Besar di belakang Dion.


"Tapi nanti kita bertemu lagi dengan Ram kan, Kak?" Tanya Dion kembali.


Hati nya sungguh merasa tak tenang. Entah kenapa perjalanan ini membuat nya merasa gugup. Untuk sebab yang tak bisa dijelaskan oleh Dion sendiri.


"Ya. Tentu. Setelah kita menyelesaikan misi kita, nanti kita akan berkumpul lagi dengan yang lain. Tenang saja! Sekarang, diam lah! Jangan banyak bicara! Khawatir bila ada Exazcta atau kelompok penjahat lain nya yang mendengar suara mu. Maka itu akan membahayakan kita semua nya!" Tegur Anak Besar tersebut.


Dion pun menurut. Ia tak lagi bertanya tentang Ram ataupun hal lain. Meski hati nya maish merasa tak tenang di sisa perjalanan nya itu.


Sekitar setengah jam berikut nya, Paman Zacko tiba-tiba menghentikan perjalanan mereka. Saat itu, langit masih cukup gelap. Hanya terdapat semburat cahaya keputihan di ujung Timur langit sana yang memberikan penerangan lebih bagi perjalanan rombongan Zacko.


"Kita berhenti di sini. Sekarang, Dion, Mix, kalian maju ke sini!" Panggil Zacko kemudian.


Tak berselang lama, dua Anak Besar lain yang tadi sempat memisahkan diri tiba-tiba saja kembali dan mendekati Paman Zacko.


"Lapor, Paman. Sejauh ini, tak ada kelompok lain yang berada dalam radius lima ratus meter dari tempat ini. Jadi, di sini cukup aman," ujar salah satu Anak Besar yang baru saja datang itu.


"Bagus. Sekarang, kalian berjaga di sekitar. Kita biarkan Dion dan Mix melakukan tugas mereka," ujar Paman Zacko dengan nada datar.


Segera setelah Paman Zacko selesai berbicara, ke empat Anak Besar yang ada di sana pun seketika menyebar di ke empat penjuru area itu.


Dion mengamati area di sekitar nya yang hanya berupa tanah tandus dengan tumbuhan menyerupai kaktus yang warna batang nya kesemua nya adalah ungu.


"Ayo Dion, Mix. Kalian ikut dengan Paman!" Ajak Paman Zacko kemudian.


Bertiga mereka kembali berjalan lurus ke arah Barat. Di mana kegelapan gunung-gunung tinggi hanya bisa menyajikan pemandangan mengerikan dari gunung yang seperti tak bertuan itu.


Sambil berjalan, Paman Zacko berkata juga.


"Apa kalian tahu, kenapa tempat ini dinamakan dengan nama Lembah Ungu Senja?" Tanya Paman Zacko kepada kedua nya.


"Tidak tahu, Paman," jawab kedua nya hampir bersamaan.


"Nah. Ini dikarenakan letak gunung keunguan di depan sana tersebut ada di bagian paling barat dalam peta di dunia ini. Tempat di mana matahari paling akhir terbenam bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain nya," jawab Paman Zacko.


"Di balik gunung tersebut, terdapat hamparan lautan yang luas nyabtak bisa didalamai oleh siapa pun jua. Bahkan bagi para Pengendali Naga sekali pun!" Lanjut Paman Zacko.


"Kenapa bisa begitu, Paman?" Mix bertanya.


"Karena di lautan itu sering ada badai hitam dan tornado guntur yang menjadi bahaya terbesar bagi siapa pun yang ingin melewati hamparan lautan di sana. Seorang Pengendali Naga pun akan dibuat takut oleh fenomena alam tersebut. Kecuali.."


"Kecuali apa, Paman?" Kali ini giliran Dion yang dibuat penasaran.


"Kecuali bagi mereka, para Pengendali Naga Ungu!" Jawab Paman Zacko sambil menerawang jauh ke gunung nan tinggi tersebut.


Kini, Zacko, Dion dan juga Mix audah berada di lereng gunung. Mereka hanya perlu berjalan sekitar lima ratus meter lagi saja untuk mulai mendaki gunung ungu tersebut.


Tiba-tiba, kecemasan yang sempat dirasakan Dion selama perjalanan nya tadi kini kembali muncul mengusik pikiran nya.


Untuk mengalihkan rasa cemas yang tak jelas itu, Dion pun bertanya kepada Paman Zacko.


"Apa kita akan mendaki ke atas gunung itu, Paman?" Tanya Dion.


Zacko lalu menoleh ke arah remaja lelaki tersebut, dan menghadiahi nya sebuah senyuman.


"Tidak perlu, Nak. Kita akan menunggu para naga itu turun dari singgasana nya sendiri!" Jawab Paman Zacko dengan nada santai.


"Naga? Memang nya di sini ada naga, Paman?! Di mana naga nya?!!" Tanya Mix penasaran.


Dilayangkan nya pandangan ke sekitar. Namun ia tak mendapati keberadaan gua atau yang sejenis nya, yang biasanya menjadi tempat bersembunyi para naga.


"Nah.. untik itu lah aku membawa kalian ke tempat ini. Kalian lah yang harus memanggil naga-naga itu. Karena hanya para Golden saja lah yang bisa memanggil para naga ungu!" Ungkap Paman Zacko seraya mendorong punggung Dion dan juga Mix sehingga mereka bergerak maju.


"T..tapi..! Bukan kah kata Paman kita akan bertemu dengan Papa?!" Protes Dion tak terima dengan perintah Zacko tadi.


"Tentu saja kita akan bertemu dengan Papa mu, Dion.. tapi jika kau sudah bisa memanggil satu saja naga ungu ke mari. Karena dengan kemunculan naga ungu, maka semua orang di area ini, termasuk mungkin iuga Papa mu, akan segera daang ke tempat ini. Jadi, cepat lah! Gunakan kekuatan mu untuk memanggil naga ungu tersebut!" Zacko mengulang titah nya.


"**..tapi, Paman! Aku.. aku tak tahu bagaimana cara memanggil naga ungu itu!" Dion mengakui ketidak tahuan nya dalam memanggil naga.


"Aku tahu, Paman!" Seru Mix bersemangat.


"Bagus! Tunjukkan ke Dion, Mix! Bagaimana caramu melakukan nya!" Imbuh Zacko sambil tersenyum senang.


***