
"Nah. Kita sudah sampai!" Seru Ram tiba-tiba.
Dion lalu mengamati ketika Ram kembali menjulurkan tangan nya yang bebas ke depan. Tak lama kemudian, area di hadapan mereka kembali bergerak seperti plasma. Hingga akhirnya pemandangan lain pun tampak di bagian tersebut.
Mula nya hanya terbentuk lubang kecil dari juluran tangan Ram. Dan secara perlahan lubang itu semakin membesar. Hingga akhirnya seukuran tubuh Ram.
"Nah. Ayo, Kak! Kita pulang!" Ujar Ram mengajak Dion.
Dion pun mengikuti langkah Ram melewati lubang tersebut. Masih sambil bergandengan tangan.
Negitu Dion keluar dari Dimensi Gelap, lubang tadi pun tiba-tiba menutup kembali. Dan tahu-tahu sudah berada di sebuah gua berukuran sangat besar.
Ukuran nya jauh lebih besar berkali lipat dari gua tempat Dion ditahan sesaat tadi.
Di setiap tiga meter pada dinding gua tersebut, terdapat obor cahaya biru seperti yang pernah Dion lihat telah dibawa oleh Bolum. Mungkin ada sekitar dua puluhan obor jumlah nya.
"Apa kita masih ada di bawah tanah, Ram?" Tanya Dion sambil mengamati sekitar.
'Aneh sekali. Kenapa Ram membawa ku ke gua yang sepi ini?' tanya Dion dalam hati.
"Ya, Kak. Kita masih berada di bawah tanah. Mungkin detingkat lebih bawah dari labirin milik para Exzacta," jawab Ram dengan lancar.
Ram lalu berjalan ke bagian tengah ruangan. Di mana di sana terdapat sebuah kolam mata air kecil yang cukup bening. Dion bahkan bisa melihat pantulan wajah nya dengan sangat jelas di permukaan kolam tersebut.
"Err.. jadi, sekarang kita ke mana?" Tanya Dion penasaran.
Karena tempat mereka berada sekarang sangatlah sepi. Tak ada satu pun orang di sana.
"Ke sini, Kak. Ayo, pegang tangan ku lagi. Aku akan mengajak Kakak ke markas rahasia kami!" Ajak Ram bersemangat.
Dion kembali memegang tangan Ram. Lalu ia melihat saat Ram mengetuk permukaan kolam sebanyak tiga kali sambil membaca mantra dengan suara berbisik. Sayang, Dion tak bisa mendengar jelas bunyi mantra nya.
Akan tetapi, Dion bisa melihat keajaiban yang diciptakan oleh Ram kemudian. Saat tiba-tiba saja ia merasa tubuh nya seperti tertarik oleh magnet yang sangat kuat ke arah kolam.
Dan ternyata tubuh Ram pun sama tertarik nya ke dalam kolam tersebut.
Kedua bocah lelaki itu pun langsung tercebur ke dalam kolam yang terlihat dangkal tersebut.
Byurr!!!
Dion mengira kalau baju nya akan langsung basah, segera setelah ia tercebur ke dalam kolam mata air di hadapan nya. Namun, aneh sekali. Baju nya tak basah sama sekali.
Apalagi kejadian berikut nya yang terjadi sungguh di luar akal nalar Dion. Karena tiba-tiba saja ia sudah berada di pinggir sebuah danau yang sangat luas.
Dion terjerembap jatuh ke tanah bebatuan di pinggir danau. Sementara Ram tampak berdiri tegap di dekat nya. Sikap nya pun seolah sudah terbiasa melalui jalur lintas yang baru saja mereka lalui tadi. Jadi tak nampak keterkejutan sama sekali di wajah Ram.
"A..apa yang terjadi? Di mana kita, Ram?!" Tanya Dion pada Ram yang berdiri di dekat nya.
Ram lalu menjulurkan tangan ke arah Dion. Dan Dion pun dibantu berdiri oleh nya.
"Selamat datang di markas kami, Kak! Kami menamakan tempat ini sebagai Dream land. Karena di sinilah kami bisa hidup damai dan bebas melakukan apa pun yang kami ingin kan!" Seru Ram berapi-api.
"Dream Land..? Tapi, apa.. maksud ku, ada di mana sebenarnya Dream Land ini? Apakah ini masih berada di dunia bawah tanah?" Tanya Dion sambil menatap ke sekeliling nya dengan rasa penasaran.
Tentu saja itu adalah pertanyaan bodoh. Karena bahkan Dion sendiri pun sudah mengetahui jawaban nya.
Saat ini ia berada di tempat terbuka. Dengan hamparan langit biru cerah yang bisa dilihat nya dengan mata telanjang.
Belum lagi pemandangan hutan di seberang danau, dengan pucuk pohon pinus yang terjajar rapih dan merata di kejauhan. Dion jelas tahu, kalau mereka tak lagi berada di bawah tanah sekarang ini.
"Hahaha! Tentu saja bukan lah, Kak! Kakak ini lucu sekali sih?! Kita ini ada di Dream Land! Dunia impian bagi semua anak-anak terbuang dan tertindas seperti kita!" Ram menjelaskan lebih lanjut.
"Terbuang? Tertindas? Maksud mu, kau juga Ram?" Tanya Dion terbata-bata.
"Ya. Dream Land ini memang diperuntukkan bagi semua anak-anak yang terbuang dan tertindas. Entah karena mereka dibuang oleh keluarga nya karena terlahir sebagai Exzacta, atau juga ditindas karena hanya memiliki kemampuan lemah yang dianggap tak berguna. Ada juga beberapa anak berbakat yang ditahan dalam penjara bawah tanah kelompok Exzacta, lalu kami selamatkan. Mereka lalu memutuskan untuk menetap di dunia ini bersama kami. Di sinilah kita berada sekarang, Dream Land. Selamat datang, anak baru. Aku sudah mendengar kalau kau rupanya seorang Golden?" Sapa seorang anak perempuan tinggi dengan rambut panjang yang ia ikat tinggi di atas kepala.
Anak perempuan itu berusia sekitar enam belas tahun. Namun postur tubuh nya tak terlalu menunjukkan kefemininan nya. Apalagi ia memakai rompi besi yang menutupi bentuk tubuh asli nya.
"Blaze!" Seru Ram menghambur ke arah Blaze.
"Ram! Kau cukup cepat juga kembali. Apa ada masalah?" Tanya Blaze, anak perempuan tersebut.
"Tak ada. Hanya Pak Tua itu saja yang mengganggu. Aku heran, setiap aku pergi ke sana, aku sering sekali bertemu dengan nya!" Gerutu Ram.
"Hahaha! Itu berarti kalian berjodoh!" Kekeh Blaze mengusap kepala Ram pelan.
'Dia yang nama nya Blaze? Ku pikir itu nama anak lelaki.. 'Dion berkomentar dalam hati.
"Hay Golden! Kau belum memperkenalkan diri. Siapa nama mu?" Tanya Blaze ke Dion.
"Na..nama ku Dion, Kak Blaze.." jawab Dion sedikit gugup.
Meski memiliki wajah dan senyuman yang ramah, entah kenapa firasat Dion mengatakan kalau ia tak boleh sembarang bersikap di depan remaja wanita di depan nya itu.
"Oh! Dion. Nama yang bagus! Baiklah. Sekarang, ayo kita ke Ruang Besar. Di sana anak-anak yang lain sudah menunggu kedatangan mu, Dion! Akhirnya, setelah sekian lama, ada juga Golden lain selain Mix," gumam Blaze yang langsung berbalik mendahului Dion dan juga Ram menuju sebuah bangunan besar di kejauhan.
Dion bisa melihat bangunan itu. Bentuk nya mirip seperti mansion tua. Namun bangunan itu tak terlihat menyeramkan dengan letak nya yang berada di antara padang rumput yang dipenuhi oleh bunga.
"Ayo Kak! Cepat lah! Di Ruang Besar pasti sudah ada banyak makanan-makanan enak menanti kita! Sungguh, perut ku sudah lapar sekali!" Seru Ram, seraya menarik tangan Dion bersama nya.
Dion terhuyung maju mengikuti langkah Ram yang bersemangat. Secara perlahan semangat yang ditunjukkan oleh Ram pun menular pula pada diri anak lelaki tersebut.
Dion lalu di ajak melewati bangunan tadi, menuju area di belakang nya. Begitu berbelok ke area belakang mansion tersebut, Dion disambut dengan kemeriahan bak pesta kebun.
Ada sekitar tiga puluh lebih anak-anak yang umurnya bervariasi. Kebanyakan sepertinya seumuran dengan Dion, namun ada juga yang seumuran dengan Blaze. Satu hal yang paling Dion sadari dari kerumunan orang-orang itu adalah tak adanya orang dewasa barang di antara mereka, satu pun jua.
'Tempat apa sebenarnya ini? Kenapa yang tinggal di sini semuanya anak-anak? Apa jangan-jangan semua orang dewasa nya sedang pergi bekerja?' Dion lagi-lagi menebak dalam hati.
"Semuanya!! Aku pulang!!" Teriak Ram kepada kerumunan itu.
Dion sedikit malu. Sehingga ia sengaja memperlambat jalan nya, jadi kini ia berjalan di belakang Ram. Ia berharap tubuh kecil Ram bisa menutupi pandamgan kerumunan tersebut terhadap nya.
Tapi tentu saja, itu adalah hal yang mustahil. Karena tubuh Dion kan lebih tinggi beberapa senti dari Ram.
"Hey Ram! Kau akhirnya kembali!" Seru salah seorang anak lelaki dengan bintik merah di sekitar bawah mata nya.
"Ram! Kau cepat sekali kembali! Apa kau tak bertemu dengan Cacing raksasa itu?" Seru anak perempuan berambut pirang.
Ram lalu menarik Dion untuk menghampiri kerumunan itu.
"Tentu saja aku akan cepat kembali. Tidak, Merlin. Aki tak bertemu dengan cacing favorit mu itu. Hey lihat! Siapa yang ku bawa?!" Tanya Ram bersemangat.
Dan, tiba-tiba saja Dion merasakan saat semua mata milik anak-anak di kerumunan itu kini menatap nya lekat-lekat.
'Ah.. kenapa aku merasa seperti sedang ada di atas panggung..? Bagaimana ini? Aku gugup sekali..'
"Ram, apa dia adalah Golden itu?" Tanya seorang anak perempuan berambut biru gelap.
'huh? Rambut nya biru? Itu tampak sedikit aneh untuk wajah nya yang mungil.' Dion bertukar pandang dengan anak perempuan yang tinggi nya lebih beberapa senti dari nya itu.
Dan Dion dibuat tertegun, saat anak perempuan itu lalu berjalan mendekati nya. Terlebih saat ia mengulurkan tangan nya kepada Dion.
"Hay! Nama ku Mix. Aku juga seorang Golden! Senang bertemu dengan mu, Golden yang lain!" Sapa Mix dengan senyuman termanis yang pernah Dion lihat.
***