Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Rencana untuk Pergi



"Ku rasa, Aku tahu, di mana pintu ajaib itu berada," ucap Dion tiba-tiba.


"Sungguh? Ada di mana?" Tanya Rim seketika bersemangat.


"Tempat nya ada di puncak gunung tempat ku datang pertama kali. Tapi aku lupa persis nya di mana itu. Mama dan Papa ku yang tahu jalan nya," ujar Dion menjelaskan.


Kepala Dion kembali tertunduk sedih. Ia teringat dengan Papa nya lagi.


"Ram, bagaimana kau bisa datang bersama dengan Mama ku?" Tanya Dion tiba-tiba.


"Oh.. itu, pertama-tama aku bertemu dengan Blaze. Aku bingung saat Kak Dion tak ada di gua tempat kita tidur. Tapi kata Kak Baul (Anak Besar yang ditugaskan untuk menemani Ram), katanya Kakak dan juga Mix sedang pergi dengan Paman,"


"Tapi kalian lama sekali tak kembali. Tahu-tahu Kak Blaze datang dan bertarung dengan kak Baul. Kak Baul kalah. Akhirnya aku pergi dengan Blaze. Di perjalanan, kami bertemu dengan Tante Anna yang sedang beristirahat di bawah pohon. Katanya, ia menunggu suami nya di pohon itu selagi ia mengobati kaki nya yang patah," ujar Ram bercerita.


"Oh.. begitu rupanya.. hmm.. lalu, apa kamu pergi ke tempat Papa ku berada, Ram?" Tanya Dion kembali.


"Apakah itu tempat d mana ada banyak mayat-mayat berserakan di tanah, Kak? Ya. Kami sempat pergi ke sana. Kami Menemukan jasad Mix dan Anak Besar lain nya di sana. Tapi kami tak menemukan Kak Dion dan juga Paman Zacko. Di mana sebenarnya Paman Zacko. kak?" Tanya Ram balik.


"Paman Zacko tak ada di sana? Tapi.."


Dion berhenti bicara. Situasi saat itu memang sangat ricuh. Sehingga ia tak memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi pada semua orang. Fokusnya saat itu hanya pada tubuh Paha nya yang tertancap panah hingga tembus dari punggung ke dada.


Sudah bisa dipastikan kalau Papa nya itu kini telah tiada.


"Aku gak tahu, Ram. Paman Zacko sungguh jahat. Dia melukai Mix dan juga aku," ujar Dion sambil menunjuk luka goresan di paha nya.


"Ah! Yang benar, Kak?! Paman Zacko? Masa sih?" Tanya Ram tak eprcaya.


"Ya.. aku bersungguh-sungguh, Ram!" Kukuh Dion.


"Sebenarnya dari dulu aku pun tak menyukai Zacko, Ram," sambung Rim.


"Kau juga Rin? Kenapa begitu? Bukan kah Paman yang sudah menolong dan membawa kita ke sini?" Tanya Ram pada kembaran nya itu.


"Bukan Zacko, Ram. Melainkan Blaze lah yang memaksa Zacko untuk membawa kita ke sini. Zacko baru memandang kita, setelah ia mengetahui tentang kemampuan medis ku dan juga kemampuan sihir mu. Barulah sejak saat itu kita berdua cukup berharga di matanya," ujar Rin dengan nada sarkastis.


Sesaat, suasana kembali jening.


"Kalau begitu. Di mana sebenar nya Paman Zacko?" Tanya Rim kemudian.


BRAK!!


Tiba-tiba saja pintu menggebrak terbuka.


Blaze masuk begitu saja dengan langkah yang terburu-buru.


"Dion! Kau harus segera pergi dari sini!" Titah Blaze kemudian.


"A..apa yang terjadi Blaze?" Tanya Dion gugup.


"Paman Zacko telah kembali. Ia datang menunggangi naga milik nya dengan kondisi terluka. Dan ia mengutusku untuk menjemput Rim agar ia pergi ke mansion untuk mengobati nya!" Jelas Blaze memberi tahu.


"Naga? Tapi kenapa saat kami pergi ke tanah itu Paman tidak mengajak kami ikut menunggangi naga nya?" Tanya Ram keheranan.


"Tidak! Apa dia tahu kalau aku juga ada di sini?" Tanya Dion mulai panik.


"Belum. Pama belum mengetahui nya. Paman juga belum tahu kalau aku sempat eprgi mengikuti kalian ke daratan Unsu Senja itu. Jadi sebelum dia tahu, Dion, kau harus pergi membawa serta Mama mu dari tempat ini! Beruntung kita datang di waktu petang. Jadi anak-anak lain pun tak tahu kepulangan kalian!" Imbuh Blaze dengan raut serius.


"Aku.. harus pergi ke mana?" Tanya Dion dengan bimbang.


"Pergi lah ke Dunia Magis, Dion. Pergi ke sana dan temukan tabib penyihir yang bisa mengobati Mama mu. Kita hanya memiliki waktu tak lebih dari tiga bulan saja sebelum racun dari kutukan dingin itu menyebar ke seluruh tubuh nya!" Rim memberi saran.


"Bagaimana dengan ku? Paman tentu akan merasa aneh bila melihat ku ada di sini, Bukan?" Lanjut Ram yang bicara.


"Ram, kau ikut lah dengan Dion!" Jawab Rim dan Blaze dengan kompak.


"Tapi.. tapi aku lupa jalan menuju tempat pintu ajaib itu berada. Pegunjngan di dunia ini begitu mirip semuanya!" Keluh Dion menyatakan hal yang mengganggu pikiran nya.


"Pintu ajaib? Maksud nya apa itu?" Tanya Blaze tak mengerti.


Ia memang tak ikut mendnegarkan cerita tentang pintu ajaib dari mulut Dion. Saat itu ia sedang kembali ke kamar nya di mansion.


"Akan ku beritahu kau nanti, Blaze. Coba Dion, bisakah kau mengingat rupa pintu ajaib tersebut dengan jelas di benak mu?" Tanya Rim tiba-tiba.


"Ee.. ya.. aku maish mengingat nya dengan jelas. Memang nya kenapa Rim?" Tanya Dion tak paham.


"Bagus! Ram, selanjutnya kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" Ujar Rim kepada saudara kembar nya yang peyihir itu.


Ram mengangguk.


"Aku tahu!" Sahut Ram singkat.


"Tunggu sebentar! Sebenarnya, apa yang kalian bicarakan? Aku tak mengerti!" Ujar Dion merasa frustasi.


"Nah Dion. Masalah kita terpecahkan. Biarkan Ram yang menuntun mu pergi ke pegunungan tempat pintu ajaib itu berada! Kalian pergi lah berdua!" Tukas Rim tiba-tiba.


Dion melihat bingung ke arah Ram.


"Tapi.. bagaimana bisa? Memang nya kamu pernah pergi ke sana, Ram?" Tanya Dion kepada bocah delapan tahun itu. Yang kemudian dijawab Ram sambil menyengir kuda.


"Yah.. aku memang belum pernah pergi ke sana sih, Kak. Tapi, bukan kah Kak Dion masih mengingat bentuk pintu ajaib serta pegunungan tempat nya berada? Dengan begitu, kita bisa pergi ke sana melalui Dimensi Gelap ku dengan memori Kakak sebagai penuntun jalan kita ke sana," ujar Ram menjawab pertanyaan Dion tadi.


Dion tercenung lama.


Dutatapnya Ram lekat-lekat sebelum akhirnya ia berkata.


"Memang nya, sihir mu bisa melakukan itu ya?" Tanya Dion ragu-ragu.


"Yah.. tak ada salah nya untuk kita coba kan, Kak?" Sahut Ram dengan wajah santai yang sama.


Dan Dion pun akhirnya mengikuti saja apa kata bocah delapan tahun itu. Ia berharap, Ram benar-benar bisa melakukan apa yang dikatakan nya itu.


***