Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Cahaya Keemasan



Sementara itu kondisi Dion saat ini...


Dion sangat syok. Setelah melihat makhluk aneh bernama harpy untuk pertama kali, lalu ia diculik dan dibawa terbang dengan posisi tergantung di udara dalam cengkraman cakar harpy tersebut, hingga akhirnya ia terkulai pingsan. Kini Dion terbangun dalam sebuah ruang tahanan berjeruji besi.


Yang paling membuat Dion syok adalah keberadaan makhluk aneh lain di luar ruang tahanan tempat nya dikurung.


Makhluk itu menyerupai seperti cacing, namun ukuran nya sangat besar. Sedikit lebih tinggi dari manusia dewasa kira-kira. Sekujur tubuh cacing tersebut dipenuhi oleh duri-duri yang panjang dan lagi runcing. Dengan keberadaan satu tanduk di bagian yang tampak nya adalah kepala.


Suara seperti dengkuran kencang terdengar dari arah cacing raksasa tersebut.


"Makhluk apa itu? Seperti nya dia sedang tertidur. Sebenarnya ada di mana aku sekarang? Mama dan Papa pasti mengkhawatirkan ku saat ini.." gumam Dion sambil mengerutkan dahi.


Selanjutnya Dion berjalan mengitari setiap sudut di ruang tempat nya ditahan. Ia mencoba mencari jalan keluar.


Setelah beberapa menit berusaha mencari jalan, Dion berakhir gagal. Ia pun lalu duduk menyender ke dinding batu di belakang nya.


"Tempat apa sebenarnya ini? Semuanya terdiri dari batu keras. Tak ada celah sama sekali untuk melarikan diri. Satu-satu nya jalan hanyalah melewati pintu besi di depan ku itu," gumam Dion menganalisa area sekitar.


"Hh.. sekali pun aku berhasil mendapatkan kunci jeruji nya, aku belum tentu berhasil melewati cacing raksasa itu. Karena cacing itu menutupi satu-satu nya celah sempit menuju keluar. Hmm.. aku harus bagaimana ini?" Gumam Dion berlanjut.


Waktu terus berlalu. Dion melewati nya begitu saja. Perutnya terasa sedikit lapar. Entah jam berapa sekarang ini.


Dion menduga kalau saat ini mungkin hari sudah terang. Meski ia juga dibuat bingung dengan kondisi pencahayaan di ruang tahanan nya saat ini yang minim cahaya.


Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar nyaring dalam ruangan tertutup itu. Hingga Dion lalu mendengar suara seseorang bicara.


"Hey, Cacing Tukang tidur! Bergeser sana! Aku mau lewat!" Ucap suara seorang pria dari arah pintu keluar.


Dion lalu melihat api berwarna biru terbakar benderang di atas obor yang dipegang oleh seorang lelaki dewasa.


Dan ajaib, cacing besar yang tadi nya tampak tidur pun seketika bergeser dan masuk ke dalam lubang lain yang ada di dinding tempat ia tertidur tadi. Makhluk itu seolah takut pada cahaya biru di depan nya. Cacing itu pun kini tak terlihat lagi.


Perhatian Dion lalu beralih ke lelaki berpenampilan berantakan di depan nya saat ini. Firasat Dion mengatakan kalau ia tak menyukai lelaki di depan nya itu.


"Kau sudah bangun bocah Golden? Siapa nama mu? Aku Bolum, kepala divisi 5 dari kelompok Exazcta. Selamat datang di gua ke 3 dari markas kelompok Exazcta!" Sapa sang lelaki yang menyebut diri nya dengan nama Bolum.


Dion tak menjawab. Ia hanya menatap Bolum dengan pandangan bingung, sekaligus menilai.


Tak mendapat jawaban dari Dion, Bolum pun kembali berkata.


"Apa kau tahu kenapa kau berada di tempat ini, bocah?" Tanya Bolum kemudian.


Dion masih saja diam tak menjawab pertanyaan lelaki itu. Ini membuat Bolum menjadi kesal.


Lelaki itu lalu menaruh obor cahaya biru yang ia pegang pada sandaran yang ada pada dinding. Lalu ia melangkah mendekati jeruji besi tempat Dion dikurung.


Bolum mendekatkan wajah nya ke jeruji terdekat di mana Dion duduk saat ini. Dan Dion bisa melihat kebengisan yang tercetak nyata di wajah sangar milik lelaki itu.


"Karena kau adalah seorang GOLDEN!! Ahahahahaha!!!"


Dion merasa terganggu dengan suara tawa Bolum yang terbahak begitu kencang nya. Apalagi saat ini mereka berada di gua yang sangat sempit. Jadi suara tawa lelaki itu menggaung begitu kencang di sepenjuru gua. Dion pun reflek menutup kedua daun telinga nya.


Dalam posisi seperti itu, Dion lalu mendengar Bolum kembali bicara.


"Akhirnya! Setelah bertahun-tahun lama nya distrik ku tak mendapatkan tahanan Golden, kini aku mendapatkan mu sebagai tahanan ku! Aku tak lagi perlu mengemis ke distrik Exazcta yang lain demi mendapatkan darah Golden. Terutama distrik 1 yang dipimpin oleh si Urk yang menjengkelkan itu! Cih! Muak aku harus melihat wajah pongah nya itu!" Ujar Bolum menyuarakan isi hati nya.


'Seperti dirinya tak pongah saja..' komentar Dion dalam hati.


"Nah. Aku ingin tahu. Termasuk ke dalam jenis Golden apakah kau ini, Bocah? Apa darah mu termasuk yang terkuat di antara para Golden? Ku harap sih begitu. Bila darah mu ternyata mengindikasikan kalau kau adalah Golden yang lemah..."


Tiba-tiba saja wajah tawa Bolum kembali berubah menjadi serius. Lelaki itu memicingkan kedua matanya tajam, menatap Dion.


"Maka akan ku buat kau menjadi pupuk bagi humus, makanan si Cacing Tukang Tidur itu!" Ancam Bolum sambil mengedikkan kepala nya ke lubang tempat di mana Cacing raksasa tadi menghilang.


Glek..


Dengan susah payah Dion menelan saliva nya. Sepanjang kedatangan nya ke dunia pengendali naga hingga ia dikurung di sini, Dion tak merasakan gentar sedikit pun.


Bahkan kepada cacing raksasa yang kelihatan nya mengerikan itu pun Dion tak jua merasa takut.


Tapi dengan ancaman dan setiap ucapan yang keluar dari mulut Bolum sajalah akhirnya Dion baru merasakan takut. Anak lelaki itu jadi bertanya-tanya. Apakah hidup nya benar akan berakhir seperti yang dikatakan oleh Bolum sesaat tadi?


Brak!!


Jeruji besi berdenting nyaring usai digebrak oleh Bolum.


Lelaki itu mulai kesal karena kalimat nya tak jua mendapat respon sedikit pun dari Golden yang berhasil ditangkap nya.


"Sekarang, kita akan lihat, sekuat apa darah mu itu, Golden? Jadi untuk itu.. aku harus melakukan sesuatu terlebih dulu. Hehehe.. kau pasti akan menyukai ini!" Seru Bolum dengan seringai yang tampak mengerikan bagi Dion.


Kemudian Bolum membuka kunci jeruji besi yang menahan Dion. Dan lelaki itu lalu masuk ke dalam nya. Ruang tahanan yang sudah sempit, kini menjadi semakin sempit dengan keberadaan Bolum.


Dion sebenarnya ingin melarikan diri saat itu juga. Dan itu hampir ia lakukan, jika saja ia tak mendengar ancaman dari Bolum berikut nya.


"Jangan mencoba lari, Bocah! Kau tak akan bisa lolos dari tempat ini. Karena gua ini hanyalah satu ruangan kecil dalam serangkaian lorong labirin yang terletak jauh di bawah tanah. Hanya kami, para Exazcta saja yang mengetahui jalan keluar dari tempat ini,"


"Bila kau memaksa kabur, aku bisa saja membiarkan mu pergi sekarang. Tapi besar kemungkinan kau hanya akan mati kelaparan di tengah jalan atau tersesat di bawah tanah untuk selama nya,"


"Belum lagi bila kau bertemu dengan para penjaga di ruang bawah tanah ini. Kau pasti akan berharap untuk tetap tinggal di ruangan ini saja. Karena memang, di sinilah tempat yang paling aman dan nyaman bagi mu, Golden! Hahahahaha!" Kekeh Bolum berlanjut.


Mendengar ucapan Bolum, niat Dion untuk kabur pun seketika menciut. Firasat nya mengatakan kalau Bolum mengatakan hal yang benar kepada nya. Lagipula, belajar dari pengalaman nya selama ditahan di menara tinggi dulu (baca kisah singkat nya di novel Cinta Sang Maharani 2: Raja dan Ratu), akan lebih baik bila ia memantau situasi tempatnya dikurung terlebih dulu.


Jika ucapan Bolum tadi benar, maka ia tak bisa asal melarikan diri dari tempat ini.


'Labirin di bawah tanah? Seperti nya aku akan kesulitan untuk keluar dari sini. Bagaimana ini? Aku harus menemukan cara untuk bisa keluar!' gumam Dion yang mulai merasa gelisah.


"Sekarang. Diam lah sebentar. Aku akan menguji kekuatan darah naga mu dengan batu pengukur ini. Takdir akhir mu akan sangat bergantung pada hasil yamg ditunjukkan oleh batu pengukur ini, Bocah! Apakah kau akan hidup lebih lama, atau kau akan menjadi pupuk bagi humus, makanan cacing raksasa itu!"


Bolum lalu mengeluarkan sebuah batu seukuran genggaman tangan nya dari balik saku baju nya. Batu itu tampak seperti batu biasa lain nya. Hanya saja memang bentuk nya murni bulat dengan beberapa lubang-lubang kecil di sekujur permukaan nya.


Bolum lalu menyodorkan batu itu kepada Dion.


"Pegang lah!" Titah Bolum kemudian.


Dengan ragu-ragu, Dion mengikuti titah Bolum. Ia pikir tadi nya ia akan disakiti atau sejenis nya dengan menggunakan batu itu. Namun setelah ia memegang batu tersebut, Dion dibuat heran karena Bolum tak meminta nya melakukan apapun lagi.


Dengan pandangan bingung, Dion menatap heran Bolum dan juga batu di tangan nya secara bergantian.


Selama beebrapa saat, tak ada yang berbeda dari batu tersebut. Sampai kemudian Dion merasakan batu tersebut mulai menghangat. Hingga secara tiba-tiba..


Duarrr!!!


Cahaya keemasan yang menyilaukan mata hampir saja membutakan mata Dion jika saja ia tak bergegas menutup kedua mata nya. Insting nya memberi tahu remaja lelaki tersebut kalau ia harus memejamkan mata saat itu juga.


Dan akhirnya Dion pun beruntung. Ia selamat dari serangan mendadak cahaya keemasan yang muncul dari batu yang ia pegang.


Sementara itu, Bolum tak seberuntung Dion. Lelaki itu langsung terjatuh ke atas tanah karena terkejut oleh cahaya benderang yang muncul dari batu pengukur di tangan Dion.


"Aarrgghh!! Mata ku! Siall! Ada apa ini?!! Kenapa dengan mata ku?! Sakit sekali!!!" Jerit Bolum kesakitan.


Dion tak melihat kondisi Bolum saat ini. Karena ia masih memejamkan kedua mata nya.


Karena merasa takut, Dion pun langsung melepaskan batu tersebut hingga batu itu terjatuh ke atas lantai dengan bunyi berdebam yang tak terlalu kencang.


Dan, begitu batu tersebut terlepas dari tangan Dion, cahaya keemasan itu pun seketika menghilang tanpa meninggalkan jejak.


Saat itulah Dion berani membuka kedua mata nya kembali. Dan ia dibuat terkejut saat melihat Bolum yang terduduk di lantai sambil memegangi kedua mata nya.


"A.. apa yang terjadi?!!" Tanya Dion entah pada siapa.


Belum selesai keterkejutan yang dialami Dion, ia lalu dikejutkan kembali dengan kemunculan sesosok lain dari dinding batu dalam ruang tahanan nya.


Sosok itu menyerupai seperti anak kecil. Namun ia seolah menyatu bersama bebatuan di dinding tempat nya menempel saat ini.


Dion terperangah kaget. Lebih kaget lagi saat sosok tersebut tiba-tiba saja bicara.


"Wooww! Keren sekali yang barusan tadi! Kau sungguh hebat, Kak!" Seru sosok asing tersebut.


***