Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Tertangkap



Setelah banyak tubuh bertumbangan di sekitar Dion, kelompok berbaju zirah itu pun merangsek maju mendekat.


Dion masih terfokus melihat ke tubuh Yan Chen yang terbujur kaku tak jauh di depan nya. Dengan susah payah, kaki nya dipaksa nya berjalan di antara rasa sakit yang menyiksa.


Dion ingin menuju tempat tubuh Yan Chen terbaring kini.


"Papa!"


Ia kembali memanggil Yan Chen dnegan segenap hati. Namun hanya derap langkah para kelompok berbaju zirah saja lah yang terdengar di telinga nya.


Tapi Dion tak perduli. Ia tak memperhatikan keberadaan orang-orang itu yang jarak nya hanya tinggal beberapa meter saja darinya lagi.


Tujuan Dion saat ini hanyalah Yan Chen saja. Ia tak melihat saat naga Maryleen mengirimkan sapuan angin kencang berikut nya pada sekelompok orang yang hendak mendekati Dion.


Sepertinya orang-orang itu mengincar Dion. Mungkin mereka menyadari status golden boy nya Dion dari warna rambut bocah itu yang merah menyala.


Ya. Mereka adalah kelompok Exzacta yang terbuang dan tadi berada tak jauh dari tempat Dion dan Paman Zacko berada. Dengan pimpinan nya yang bernama Ah Roo.


"Ah Roo! Naga ini sangat kuat! Sepertinya dia sejenis naga angin bila dilihat dari serangan-serangan nya ini," seru salah satu anak buah Ah Roo kepada nya.


Ah Roo pun menyadari hal itu. Ia kini kesulitan untuk mendekati si golden boy. Sebuah ide pun terlintas di benak nya.


"Pit, Don, kalian alihkan perhatian naga itu. Sementara aku akan menangkap si Golden Boy!" Titah Ah Roo kemudian.


Lelaki yang dipanggil Pit dan juga Don pun mengangguk paham. Keduanya, bersama dengan beberapa lelaki lain nya sedikit menjauh dari Pimpinan mereka dan berusaha menerobos pertahanan dari sisi yang lain.


Maryleen yang tak bisa membaca rencana Ah Roo pun sempat teralihkan. Sehingga ketika ia menyadari kalau Ah Roo membuatnya lalai dari menjaga Dion, saat itu semuanya sudah terlambat.


Jarak antara Ah Roo dan juga Dion hanya tinggal beberapa langkah kaki saja.


ROARRRRR!


Sang naga meraung marah.


Sementara dalam benak Dion, Maryleen sudah berteriak sekencang-kencang nya dan memberikan Dion peringatan akan adanya bahaya.


'Dion! Menjauhlah dari sana! Cepat pergi ke dekat ku! Aku tak bisa pergi ke dekat mu karena sepertinya masih ada segel terakhir yang belum dibuka. Dan segel itu menahan ku dari mendekati area tempat mu berada!' pekik Maryleen mengingatkan.


'Papa, Maryleen! Papa ku terluka!' balas Dion menjerit.


Bocah lelaki itu masih saja mendekati tubuh Yan Chen yang telah kaku. Sehingga Maryleen pun kembali menjerit untuk mengingatkan nya.


'Dion! Papa mu sudah mati! Cepat pergi ke sini, sebelum lelaki jahat bernama Ah Roo itu menangkap mu!' pekik Maryleen berlanjut.


Dion mengabaikan teriakan Maryleen. Namun itu langsung disesali nya saat pandangan nya akhirnya menangkap keberadaan Ah Roo yang sedang berlari ke arah nya.


Saat ia melihat Ah Roo, jarak di antara mereka hanya tinggal tiga langkah sjaa. Jadi terlambat bagi Dion untuk kabur. Karena hanya dalam hitungan detik kemudian, Ah Roo pun langsung menahan tangan Dion sehingga ia tak bisa lari dari nya.


"Lepas! Lepaskan aku! Siapa kau?! Kenapa kau menyerang Papa ku?!" Tanya Dion dalam teriakan nya.


Dion berusaha memukul, menendang, juga menggigit Ah Roo. Namun tenaga nya jelas tak mampu melawan tenaga Ah Roo yang sudah dewasa.


Apalagi dengan baju zirah yang dikenakan oleh Ah Roo. Jadi terlalu sedikit area di tubuh nya yang bisa Dion serang.


Dion menatap benci pada lelaki berpenampilan garang yang sudah menahan kedua tangan nya di belakang kini.


Di saat logam keperakan tang berbentuk heksagram itu menyentuh kening Dion, saat itu pula wujud naga Maryleen seketika berubah menjadi kilatan cahaya keunguan yang selanjutnya terbang melesat menuju tempat Dion berada.


Tahu-tahu, sebuah gelang manik berwarna keunguan pun telah terikat di pergelangan tangan kiri Dion. Sang naga dipaksa mewujud dalam bentuk bola oleh lelaki berbaju zirah tadi.


Setelah naga Maryleen tak mewujud lagi, suasana pun seketika kembali hening. Tak ada lagi suara hembusan angin kencang yang terdengar.


Tornado angin dan air di kejauhan pun tiba-tiba lenyap tak berbekas. Membuat sisa kelompok berbaju zirah itu seketika mende sah lega.


"Hahaha!! Akhirnya kami menemukan mu juga Golden boy! Dan kurasa, kau adalah golden boy terkuat sejauh ini yang pernah ku tangkap!" Kekeh Ah aroo begitu lepas.


"Tidak! Lepaskan aku! Siapa kau! Kenapa kalian ingin menangkap ku!" Hardik Dion dengan bekas tangisan di wajah nya.


"Nah.. sekarang, setelah naga itu pergi, mungkin kita bisa memulai perkenalan kita, bocah! Nama ku Ah Roo! Aku adalah pemimpin dari kelompok Exzacta divisi 2. Kelompok ku sempat terbuang dari divisi kami sendiri. Tapi dengan ada nya kau, aku yakin, kalau aku bisa kembali ke kursi kekuasaan ku lagi! Ahahahaha!!" Ah Roo lagi-lagi tertawa lepas.


"Don! Pit! Urus bocah golden ini!" Titah Ah Roo kemudian, sambil menghempaskan tubuh Dion ke depan.


Setelah nya, Dion dibelenggu dengan seutas tali keperakan. Kedua tangan nya diikat kebelakang dengan tali keperakan itu.


"Dengan tali ini, kau tak akan bisa memanggil naga mu keluar untuk sementara waktu, bocah. Nah. Ku rasa ini sudah cukup kencang," gumam seseorang yang sedang mengikat tangan Dion.


Sepanjang tangan nya diikat, Dion tetap memberontak dan berusaha melepaskan diri nya. Tapi tentu saja, dengan tenaga nya yang hanya bocah sebelas tahun itu, saja Dion tak bisa melepaskan diri nya dari bekukan orang di belakang nya.


Tak lama kemudian, beberapa orang berbaju zirah tersebut, memeriksa tubuh-tubuh para pengendali naga yang telah terkapar di atas tanah.


Tak lupa juga mereka menjarah barang-barang berharga milik orang-ornag yang telah mati tersebut. Salah satu nya juga adalah tubuh Yan Chen.


"Papa! Jangan dekati Papa ku!" Teriak Dion marah pada salah seorang berbaju zirah yang sedang menggeledah saku baju Yan Chen.


Dion melihat sedih saat jasad Yan Chen di tendang sesuka hati saat penjarah tersebut hendak membalikkan tubuh Papa nya dan mengecek saku baju nya.


"Papa! Bangun, Pa!" Panggil Dion masih tak mempercayai kalau Yan Chen telah tiada.


"Papa!" Teriak Dion kembali dengan nada yang memilukan hati siapa pun yang mendengar nya.


Sayang nya yang mendengar suara Dion saat ini adalah kelompok Exzacta yang dikenal tak memiliki hati untuk mengasihani orang lain.


Jadilah kepedihan dan tangisan Dion itu hanya bisa dinikmati nya seorang diri saja.


"Diam, Bocah! Papa mu itu sudah mati! Jadi tak perlu berisik lagi!" Hardik salah satu penjarah di belakang Dion.


Dion pun mengamuk marah. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Bocah kecil itu lalu berhasil melepaskan diri dari pegangan orang yang menahan nya.


Dion lalu berlari mendekati Yan Chen, dengan kedua tangan yang masih terikat di belakang.


"Papa! Bangun Pa! Ini Dion Pa! Ayo kita pulang Pa!" Panggil Dion sambil menangis pilu.


"Ah! Berisik sekali golden ini, Pit! Buat dia bungkam. Kita bawa dia pulang ke rumah sekarang juga!" Titah Ah Roo kemudian.


Kemudian, lelaki bernama Pit itu mendekati Dion dengan langkah bergegas. Dan dalam satu kali tepukan di belakang kepala, Dion pun jadi tak sadarkan diri seketika. Dunia remaja itu menjadi gelap sesudah nya. Dion terjatuh pingsan.


***