Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Adu Pedang



Rim dan Ram adalah seorang penyihir. Entah bagaimana mereka berada di Dunia para naga ini. Tapi yang jelas, seorang penyihir keberadaan nya dilarang dan dibenci oleh manusia di Dunia naga ini.


Rim dan Ram tadi nya dirawat oleh seorang pengendali naga. Mereka ditemukan ketika masih bayi dalam keranjang bambu yang tergeletak di antara tumpukan semak-semak.


Rim dan Ram pun dirawat hingga menginjak usia enam tahun. Namun pada usia tersebut, keduanya tanpa sengaja menunjukkan ilmu sihir mereka di hadapan orang tua angkat nya. Sehingga di hari yang sama, mereka pun diusir dari rumah tempat mereka di besarkan.


Ram menguasai sihir mantra. Tadi nya ia hanya bisa menggerakkan benda-benda saja. Namun, setelah ditemukan oleh Blaze dan tinggal di Dream Land ini. Ram pun diberi buku panduan untuk para penyihir yang tersedia di perpustakaan yang ada di dalam mansion.


Dari dalam buku itu lah Ram belajar tentang berbagai mantera sihir. Salah satu nya adalah membuka portal menuju dimensi yang lain.


Sementara itu Rim, kependekan dari Rimaroo, adalah seorang ahli ramuan. Ia juga bisa menggunakan sedikit sihir. Hanya saja kemampuan nya lebih menonjol di bidang ramuan. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah buku ramuan tentang kedokteran, jadilah akhirnya ia seorang Penyembuh di Dream Land ini.


Selama beberapa hari pertama berada di Dream Land, Dion tertarik untuk mempelajari banyak hal. Entah itu ramuan dari Rimaroo, maupun membaca buku tentang sihir yang pernah dibaca oleh Rim.


Kesukaan nya membaca buku membuat nya diledeki oleh Mix, Sang Golden yang lain.


Pernah suatu kali, Mix meledeki Dion saat anak lelaki tersebut sedang asik membaca buku mantra sihir untuk pemula.


"Dion! Apa yang kau baca?" Tanya Mix mendapati Dion duduk sendiri di ruang perpustakaan.


"Mix! Aku membaca.."


Ucapan Dion disambung segera oleh Mix.


"Buku sihir untuk pemula? Untuk apa kau membaca buku itu? Kau ini kan jelas seorang Golden. Tak mungkin lah kau bisa menggunakan sihir!" Ujar Mix begitu yakin.


"Oh ya? Kenapa tidak?" Tanya Dion kebingungan.


"Karena Dion, tak pernah sekalipun aku mendengar ada Golden yang bisa menggunakan sihir. Ataupun penyihir yang memiliki kekuatan seorang Golden! Itu mustahil!" Seru Mix sambil memainkan anak rambut nya yang terlepas dari kepangan di belakang nya.


Dion seketika mengernyitkan dahi.


"Begitu kah? Ku pikir tadi nya aku mungkin bisa mempelajari satu dua sihir sederhana untuk mempertahankan diri. Maksud ku, bukan kah karena darah kita lah karena nya orang-orang mengincar kita?" Ujar Dion menyampaikan pemikiran nya.


"Ya benar. Tapi Diy, sepanjang yang ku tahu, seorang Golden ya hanya terlahir sebagai seorang Golden. Sama seperti Ram yang hanya ahli di bidang sihir. Atau anak-anak lain nya yang hanya ahli pada satu bidang nya saja," lanjut Mix berargumentasi.


"Hey! Ada apa ini? Kenapa aku mendengar sedikit keributan di sini?"


Blaze tiba-tiba muncul di muka pintu.


"Blaze!" Seru Mix dan Dion bersamaan.


"Kenapa Dion? Apa ada masalah? Kau sudah terbiasa kan tinggal di Dream Land?" Blaze menyapa anak lelaki itu dengan wajah ramah.


"Ah. Iya, Blaze. Terima kasih. Berkat semua yang menyambut baik kedatangan ku, aku sudah terbiasa berada di sini.." jawab Dion dengan malu-malu.


Anak lelaki itu selalu merasa malu bila bertatapan langsung dengan Blaze. Blaze sebenarnya memiliki wajah yang terbilang cantik. Jika saja ia tak memiliki pembawaan yang terlalu cool, sehingga membuat Dion segan pada perempuan yang berselisih lima tahun di atas usianya itu.


"Lihat lah Blaze! Dion membaca buku milik penyihir!" Seru Blaze melapor.


Wajah Dion seketika merah padam. Ia sedikit malu bila kesukaan nya membaca tentang segala hal ternyata membuat nya terlihat bodoh di depan wanita yang dikagumi nya itu.


"Oh.. tak ada salah nya membaca buku tentang penyihir. Kadang-kadang, aku pun suka membaca buku tentang ramuan. Yah, walaupun setelah nya aku akan kepusingan dengan semua nama-nama aneh dari tumbuhan tersebut!" Sahut Blaze disertai kekehan kecil.


Pandangan Dion terangkat. Dan tahulah dia kalau Blaze baru saja menolong nya dari ledekan Mix.


"Tapi Blaze! Dia itu kan seorang Golden! Untuk apa..,"


Ucapan Mix langsung dipotong oleh Blaze.


"Mix ku yang hebat, tak ada salah nya untuk membaca semua jenis buku. Siapa tahu apa yang kita baca itu akan menjadi hal berguna bagi kita kelak, bukan? Kau juga boleh membaca tentang buku apapun, Sayang. Tapi aku memperingatkan mu untuk tidak menyentuh buku yang ada di rak paling atas itu! Karena itu adalah buku milik Paman Zack! Kau jelas tak ingin membuat nya marah, bukan?" Blaze sedikit memberikan ancaman.


Meski begitu, Dion tak merasa takut. Ia malah jadi tertarik untuk membaca buku yang ditunjuk oleh Blaze tadi.


"Dion, peringatan ini juga berlaku untuk mu. Jangan menyentuh buku-buku yang ada di rak paling atas itu, ok? Apalagi ku kira sebentar lagi Paman dan yang lain nya akan segera pulang. Ini sudah purnama ke enam sejak mereka pergi," gumam Blaze di akhir kalimat.


Dion akhirnya tak lagi melihat ke arah buku yang mengundang rasa penasaran nya itu. Meski begitu, ia jadi tertarik pada hal lain.


"Memang nya Paman Zack dan kelima Anak Besar lain nya selalu pergi berapa lama?" Tanya Dion penasaran.


"Biasa nya mereka paling lama pulang setelah enam purnama berlalu, Diy. Paman pasti akan sangat senang dengan kedatangan mu ke keluarga kita ini. Bagaimana pun juga ia sangat menghargai keberadaan seorang Golden," jawab Blaze.


"Seperti aku! Paman Zack paling senang dengan ku! Dia selalu memberi ku permen paling banyak dibandingkan yang lain!" Pamer Mix dengan bangga nya.


"Mix. Jangan berkata seperti itu. Bila yang lain mendengar mu, kau nanti bisa dalam masalah lagi. Coba ku tanya. Apa kau sudah melatih kemampuan pedang mu?" Tanya Blaze dengan wajah serius.


Mix tiba-tiba terdiam dan menundukkan kepala.


"Mm.. aku tak suka bermain pedang. Kenapa harus pedang sih?" Mix mengeluh.


"Karena pedang itu bagus agar kau bisa mempertahan kan diri mu dari serangan musuh, Mix.." ujar Blaze masih dengan keseriusan yang sama.


"Tapi kan di Dream Land ini kita hidup damai, Blaze. Apa perlu nya kita mahir pedang? Aku tak suka. Aku mau bermain ayunan saja!" Protes Mix lalu berlari keluar ruangan.


Tinggallah Dion dan Blaze berdua di perpustakaan.


Dion yang merasa canggung, lalu memberanikan diri untuk bertanya kepada gadis cantik di hadapan nya itu.


"Mm.. Blaze?"


"Ya? Kenapa Dion?"


"Apa aku boleh berlatih pedang? Aku ingin mencoba nya. Dulu aku sering diajari oleh Papa bermain pedang. Tadi nya kata Papa, di dunia ini aku pun akan lanjut berlatih pedang," ungkap Dion terus terang.


"Oh ya?"


"Ya. Ucapan Papa sama persis seperti mu, Blaze. Kata Papa, aku harus memiliki satu kemampuan bela diri yang bisa ku andalkan untuk menjaga diri ku sendiri. Dan menurut Papa, permainan pedang ku cukup bagus," Dion sedikit memamerkan kemampuan nya di depan Blaze.


Entah kenapa, anak lelaki itu ingin terlihat hebat di depan Blaze.


Blaze menatap Dion dengan pandangan baru.


"Oh ya? Bagaimana kalau kita berlatih pedang bersama? Aku ingin tahu, sebagus apa permainan pedang mu!" Seru Blaze tiba-tiba.


"Kau juga bermain pedang?" Tanya Dion memastikan.


"Ya! Aku termasuk yang paling mahir bermain pedang di antara Anak Besar yang lain nya, kau tahu Diy. Apa kau percaya ucapan ku itu?" Tanya Blaze sambil tersenyum begitu menawan.


Dion langsung mengangguk sekali.


"Aku percaya, Blaze. Kau memang terlihat tangguh menurut ku!" Puji Dion dengan jujur.


Dan seketika, wajah Dion pun memerah. Ini pertama kali nya ia memuji seorang anak gadis secara langsung.


Anak lelaki itu langsung menundukkan wajah nya, menatap kaki nya sendiri. Sementara itu, Blaze tersenyum lebih lebar usai dipuji oleh Dion sesaat tadi.


"Kalau begitu, ayo kita ke halaman belakang! Kita sparring di sana!" Ajak Blaze sambil menarik salah satu tangan Dion.


...


Catatan: sparring: bertanding


***