
"Ya. Aku memang jahat. Tapi, aku jelas tak lebih jahat dari orang-orang yang mengaku dirinya paling benar. Lalu menggunakan kekuasaan nya untuk menyakiti orang lain dengan sewenang-wenang. Aku memang telah banyak berbuat jahat," ujar Zacko dengan pandangan menerawang.
"Tapi setidaknya aku memberikan mu pilihan bukan, Diy? Tak seperti orang-orang jahat itu yang langsung menghakimi Lin ku hingga mati!" Gantian Zacko kini yang mengecam dalam kobaran amarah.
"Jadi Dion, cepat kendalikan naga itu. Setelah itu, baru aku akan melepaskan mu dan juga Mix," titah Zacko kemudian.
"Dd..dion.. tolong aku..!" Cicit Mix ketakutan dalam tahanan tangan Zacko.
Dion yang masih sedih karena melihat kejatuhan Papa nya dari ketinggian pun kembali dibuat galau saat melihat wajah ketakutan Mix.
'Maryleen.. bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Tolong aku..! Bisa kah kau ke sini sebentar saja?' Dion memohon dalam hati nya.
Akan tetapi, ia tak lagi mendnegar suara Maryleen dalan benak nya. Dion pun mengerutkan kening, merasa bingung.
Ia lalu berbalik kembali ke arah sang naga ungu. Naga tersebut masih terbang mengitari gunung di kejauhan sana tanpa ada indikasi kalau ia akan terbang mendekati tempat Dion berada.
'Maryleen? Kau mendengar ku bukan?' lagi-lagi Dion mengajak bincang Maryleen melalui benak nya.
Akan tetapi tak ada tanggapan dari Maryleen di benak remaja itu seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.
Raut wajah Dion yang tampak serius dan juga bingung disangka oleh Zacko sebagai kepatuhan nya untuk mengikuti titah Zacko tadi.
Zacko mengira Dion sedang berusaha mengendalikan naga ungu itu kembali. Maka ia pun sedikit mengendurkan belati nya dari leher Mix. Membuat remaja putri itu jadi bisa bernapas lebih lega.
'Maryleen? Kau mendnegar ku bukan? Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Keselamatan Mix bergantung pada mu, Maryleen.. ku mohon.. adakah sesuatu yang bisa membuat kami terbebas dari paman Zacko?' Dion terus mengajak Maryleen berbincang dalam benak nya. Meski lagi-dan lagi keheningan saja lah yang ia terima setelah nya.
'Maryleen.. katamu tadi aku bisa terbebas dengan kedatangan kelompok baru.. kau tadi jelas mengatakan itu. Lalu ternyata Papa ku lah yang datang bersama dengan teman-teman nya.. tapi sekarang Papa ku mungkin sudah mati karena terjatuh dari ketinggian tadi.. jadi Maryleen, bagaimana aku bisa terbebas sekarang ini? Tolong aku Maryleen.. ku mohon..'
Kini Fion tak hanya sekedar bicara dalam benak nya saja. Karena ia pun melirihkan kata terakhir nya tadi dengan suara yang jelas terdengar oleh siapa pun yang berada di dekat nya.
"Ku mohon.. Maryleen.."
Waktu terus berlalu. Belasan menit terlewati dengan begitu saja. Zacko mulai tak sabar menunggu. Sehingga ia pun kembali mengancam Dion dengan gertakan nya.
"Dion! Kau sudah berhasil memanggil naga itu. Maka seharusnya untuk mengendalikan nya juga hal yang mudah bagi mu! Ayo cepat lah! Katakan saja perintah mu pada naga itu. Maka seharusnya naga itu akan langsung tunduk kepada mu, Bocah Du ngu!" Umoat Zacko meluapkan kekesalan nya.
"Tutup mulut busuk mu itu, Zack! Berani benar kau mengatai putra ku Dungu! Kau yang sebenarnya dungu, bede bah jahat!" Hardik sebuah suara yang muncul tiba-tiba entah dari mana.
Dion sangat mengenali suara itu. Karena itu adalah suara..
Zacko dan semua Anak Besar asuhan nya seketika menoleh ke belakang Zacko. Dan tampak lah di kejauhan, berjarak sepuluh meter dari nya, berdiri Yan Chen dengan beberapa orang lain bersama nya.
Ke semua anggota tombongan Yan Chen memakai seragam serupa berwarna cokelat muda. Mirip seperti pakaian para pemburu, dengan rompi kulit rubah merah yang menjadi atasan baju mereka.
Zacko terkejut bukan main. Baru juga ia hendak memberi perintah kepada Anak Besar nya, namun ia kalah cepat karena beberapa orang dari rombongan Yan Chen telah lebih dulu menyerang Anak Besar asuhan Zacko tersebut.
Menyisakan Zacko dan juga Raff seora g yang berdiri berdempetan dengan Dion dan juga Mix.
Kini Dion ditahan oleh Raff. Sementara Zacko masih menahan Mix di tangan nya.
"Bagaimana kau bisa tetap hidup? Bukankah seharusnya kalian semua mati?!" Teriak Zacko tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Nah.. soal itu, anggap saja seseorang memberi tahu kami tentang rencana perangkap naga mu itu, Zack. Tapi yang penting saat ini bukan bagaimana kami bisa lolos, Zack. Kau harus lepaskan anak ku dan juga anak perempuan itu. Mereka tak bersalah atas kesalahan para Tetua kepada mu, Zack!" Yan Chen menyampaikan nasihat nya.
"Hah! Tahu apa kau, Chen! Kau tak melihat dengan mata kepala mu sendiri bagaimana kekasih mu diperlakukan seperti seorang penjahat tiran saja. Padahal yang dilakukan Lin hanya membantu membesarkan api dengan ilmu sihir nya di perayaan Besar. Dan tak sengaja kebakaran terjadi. Tapi yang jelas itu bukan salah Lin! Lin-Lin ku tak bersalah sama sekali!" Hardik Zacko dengan berang.
"Untuk itu lah aku datang ke sini, Zack. Aku menyampaikan salam dan permohonan maaf dari para Tetua Devada. Karena mereka telah salah mengambil keputusan di waktu silam. Mereka berharap kau melupakan dendam di antara kau dan juga mereka. Jangan memperpanjang masalah dan melibatkan orang-orang yang tak bersalah, Zack," lanjut Yan Chen menasihati Zacko.
"Maaf?! Semudah itu mereka meminta maaf?! Semua itu tak ada artinya sekarang ini, Chen! Karena Lin-lin ku sudah terkubur di dalam tanah. Karena itulah aku akan membuat kalian semua membayar apa yang telah dilakukan oleh para Tetua kepa rat itu!" Amuk Zacko.
Saat Zacko dan Yan Chen berbincang, kedua kubu saling memandang satu sama lain. Zacko fokus memandang Yan Chen. Begitu juga dengan Raff, Anak Nesar asuhan Zacko yang masih bertahan di samping Zacko. Ia pun fokus melihat ke arah Yan Chen.
Kedua nya membelakangi barisan pegunungan di belakang mereka sehingga mereka tak menyadari saat naga ungu yang tadinya terbang mengitari atas pegunungan, kini perlahan terbang mendekat ke arah mereka.
Sampai tersisa jarak lima puluh meter sajalah sang naga akhirnya berhenti, lalu meniupkan hembusan angin kencang yang mengejutkan Zacko dan juga Raff.
Sementara itu Yan Chen dan kelompok nya sudah menduga tindakan yang akan dilakukan oleh naga tersebut. Jadi mereka semua langsung tiarap saat hembusan angin kencang itu membuat oleng Zacko dan juga Raff.
Di waktu yamg bersamaan, Dion langsung menggamit tangan Mix. Untuk kemudian menarik nya pergi menjauhi Zacko.
"Mix! Ayo pergi!" Teriak Dion di antara bising nya hembusan angin yang menerpa.
Dan tanpa membuang waktu, Mix pun segera berlari mengikuti gerak Dion yang melaju menuju tempat Papa nya, Yan Chen berada.
***