
"Maryleen, apa yang terjadi pada mu? Kenapa tubuh mu jadi kecil begini?!" Tanya Dion tak kalah bingung.
"Anak Muda. Kenapa kau malah bertanya balik. Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi. Bagaimana kita bisa berada di tempat ini? Hmm.. Dimensi ini jelas dimensi buatan dari sihir. Ada banyak sihir di mana-mana. Aku tak akan percaya kalau kau mengatakan kau lah yang telah membawa kita ke tempat ini," papar naga kecil Maryleen panjang kali lebar.
"Yah.. memang tadinya aku ke sini bersama dengan seorang teman ku. Tapi sekarang dia marah dan meninggalkan ku dan juga Mama ku di dimensi ini. Jadi, bagaimana bisa tubuh mu mengecil, Maryleen?" Tanya Dion mengulang.
"Kau bisa mengatakan kalau tubuh ku menyesuaikan kondisi di sekitar ku. Tempat ini seperti nya tak dirancang untuk ditempati oleh seekor naga. Sehingga wujud asli ku tak bisa ku bebas lepas kan sesuka hati ku di sini,"
Dion mengerutkan kening. Pikiran bocah nya masih belum mengerti benar penjelasan Maryleen barusan.
Lama berpikir, Dion pun terpikirkan sesuatu.
"Maryleen! Apa kau tahu cara agar kita bisa keluar dari dimensi ini?" Tanya Dion tiba-tiba dengan penuh harap.
"Hh.. Sungguh menyusahkan sekali. Tapi baik lah. Tunggu sebentar. Hmm.."
Naga kecil Maryleen kemudian terbang ke beberapa titik sambil mengendus-endus. Setelah dua menit berlalu, ia kembali ke depan wajah Dion.
"Memang sebenar nya ke mana tujuan mu, Anak Muda? Kalau bisa jangan lah kau menantang bahaya lagi. Bagaimana pun juga sekarang aku sudah ada di bawah kendali mu. Jadi hidup dan mati nya aku sangat bergantung kepada mu," pinta Maryleen.
"Aku tak suka menantang bahaya! Aku hanya ingin mencari tabib penyihir saja untuk mengobati Mama ku," sanggah Dion tak terima dengan pernyataan Maryleen.
Sang naga lalu melirik ke bawah nya. Di mana Anna masih terkulai lemas di atas kursi roda yang ia duduki.
"Jadi dia adalah Mama mu ya. Hmm.. seperti nya dia memang dalam kondisi kritis. Oh! Apa itu? Aku melihat sihir hitam dalam tubuh nya! Bagaimana bisa Mama mu terkena sihir hitam, Anak Muda?" Tanya Maryleen penasaran.
"Itu terjadi saat Mama melawan Paman Zacko untuk menolong ku," jawab Dion dengan wajah lesu.
"Oh! Paman mu yang jahat itu ya? Ku kira dia sudah mati dalam serangan kelompok Exzacta itu. Dia masih hidup?" Tanya sang naga keheranan.
"Iya, Maryleen. Paman ternyata masih hidup. Dan kami kembali bertemu hingga akhirnya Mama dan Paman pun sempat bertarung. Tapi Mama malah jadi begini.." tutur Dion bercerita.
"Kasihan sekali. Paman mu itu memang orang yang jahat. Aku melihat bara dendam di mata nya. Lain kali, kau harus berhati-hati bila bertemu dengan nya lagi," ujar Maryleen berkomentar.
Diingatkan tentang Paman Zacko, Dion pun jadi teringat pada apa yang seharusnya ia lakukan saat ini.
"Jadi Maryleen, apa kau tahu cara agar kita bisa segera keluar dari sini? Aku harus pergi ke kota Arkadia," tukas Dion tiba-tiba.
"Apa?! Arkadia? Kota terbesar ke tiga bagi para penyihir itu kah maksud mu?" Tanya Maryleen sangat terkejut.
"Ya. Apa kau tahu di mana itu?" Seru Dion bersemangat.
Bocah lelaki itu sungguh berharap Maryleen bisa mengantarkan nya ke tempat itu.
"Oh.. tentu saja aku tahu. Aku tahu jalan pintas langsung ke kota Arkadia. Namun dengan kondisi ku saat ini, jelas kita tak bisa lewat jalur cepat itu," ujar Maryleen.
"Jadi?" Kejar Dion menanti kelanjutan ucapan sang naga kecil.
"Jadi, kita lewat jalur aman saja. Untuk itu, kita harus pergi ke puncak gunung Mahaka. Di sana terdapat pintu ajaib yang bisa mengantarkan mu ke sana," ujar naga kecil Maryleen.
Dion langsung teringat dengan jalan masuk yang ia lewati bersama Yan Chen dan juga Anna.
"Aku pernah melewati tempat itu... Tapi setelah dipikir-pikir lagi, apa tempat itu cukup aman untuk Mama melewati nya? Maksud ku, Mama kan sekarang tak sadarkan diri di atas kursi roda ini. Sementara keberadaan pintu ajaib yang kau maksud itu tentunya yang berada di puncak gunung yang jalan nya begitu sempit bukan?" Tutur Dion mengeluhkan pilihan jalan yang ada.
"Ah.. ya. Kau benar juga, Anak Muda. Hmm.. begini saja. Kita akan pergi lewat cara yang lain saja deh ya. Tapi dengan cara ini, aku membutuhkan separuh lebih energi ku untuk membuka portal langsung ke kota Arkadia. Jadi setelah mengantar mu ke sana, aku mungkin tak akan bisa muncul menolong mu untuk sementara waktu. Apa ini tak apa-apa untuk mu?" Maryleen menanyakan pendapat Dion.
"Ya! Tak apa-apa Maryleen. Aku sungguh bergantung pada bantuan mu ini!" Seru Dion bersemangat.
"Tak apa-apa, Maryleen. Aku akan menunggu dengan sabar," jawab Dion dengan tenang.
Beberapa menit kemudian, Maryleen memfokuskan pandangan nya ke satu titik di depan nya. Perlahan, kedua mata Maryleen yang iris nya berwarna ungu lalu seperti bercahaya.
Dan kemudian cahaya itu memantul hingga ke depan. Membentuk dua lingkaran cahaya yang secara perlahan membesar dan saling tumpang tindih.
Begitu dua cahaya tersebut membaur menjadi satu bentuk lingkaran cahaya, cahaya keunguan tersebut lalu menampilkan citra suatu perkotaan yang dipenuhi oleh hiruk pikuk nya orang.
Dion mendapati hampir semua orang di sana mengenakan jubah panjang dengan beragam warna warni.
Melihat cara berpakaian orang-orang itu, Dion jadi teringat dengan kembaran Ram, yakni Rim. Rim pun memakai baju yang serupa seperti yang dikenakan oleh orang-orang yang berada di kota tersebut.
"Dion, sebentar lagi portal ini akan terbuka ke kota Arkadia. Tapi kau harus bergerak cepat. Jika bisa, kau juga boleh berlari. Karena portal yang bisa ku buka hanya bertahan sampai lima detik saja," ujar naga kecil Maryleen memberi tahu.
"Baik lah, Maryleen. Aku akan mengikuti kata-kata nu.
"Bagus. Dan ingat juga untuk langsung memanggil ku ya, sesampai nya kau di kota itu, Dion. Agar aku bisa langsung kembali ke dalam manik di pergelangan tangan mu itu. Apa kau paham?" Tanya Maryleen memastikan.
"Ya. Aku paham Maryleen," jawab Dion dengan tegas.
"Bagus. Sekarang, bersiap lah. Hmm.. aku jadi penasaran, kau akan menjadi penyihir macam apa ya nanti..” gumam Maryleen dengan suara pelan.
Dion seketika menoleh kembali pada sang naga. Dia menatap terkejut pada naga nya itu.
"Apa maksud mu, Maryleen? Memang nya aku bisa menjadi penyihir apa? Aku kan seorang Golden boy!" Seru Dion terheran-heran.
"Lalu kenapa dengan itu? Kau jelas-jelas memiliki tunas sihir dalam jiwa mu. Jadi sudah pasti kau pun bisa melakukan sihir. Ah sudah lah. Nanti saja kita bincangkan lagi ya Dion. Aku buka portal nya sekarang ya! Bersiaplah! Langsung berlari dan panggil aku lagi, oke!" Ujar Maryleen mengingatkan.
"Tapi.."
Sebenar nya Dion masih ingin menanyakan perihal diri nya memiliki tunas sihir seperti yang dikatakan oleh Maryleen tadi. Namun karena waktu yang mendesak, akhirnya Dion pun memfokuskan pikiran nya lagi untuk mengikuti semua instruksi yang sudah dikatakan oleh Maryleen sesaat tadi.
Dalam hatinya, Bocah kecil itu bergumam.
'Mama, kita akan pergi ke Arkadia. Dion akan menemukan tabib penyihir yang akan menyembuhkan Mama. Jadi, Mama bertahan ya!' monolog Dion dalam hati.
"Sekarang!" Teriak naga kecil Maryleen kemudian.
Dan Dion, langsung mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh Mama Anna maju ke depan melewati portal.
Bocah itu meninggalkan semua kenangan nya selama beberapa pekan terakhir di dunia yang baru saja ditinggalkan oleh nya, Dunia Pengendali Naga.
Begitu ia sudah menjejakkan kaki di tengah hiruk pikuk sebuah kota yang ia yakini adalah kota Arkadia, Dion pun langsung berteriak lantang.
"Maryleen! Kembali lah!"
Pintu portal yang menghubungkan kedua dunia pun seketika tertutup. Persis setelah sebuah cahaya keunguan melesat ke dalam manik di pergelangan tangan Dion.
Kini, Dion menatap ke sekeliling nya dengan perasaan takjub sekaligus haru yang campur aduk menjadi satu.
'Akhirnya aku bisa terbebas dari Paman Zacko... Dan akhirnya aku tiba juga di kota Arkadia ini. Kota ketiga terbesar bagi para penyihir,' monolog Dion menutup lembaran petualangan nya di Dunia Pengendali Naga.
***
TAMAT.