Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Tornado Tsunami



"Tenang lah, Mix. Seperti nya, Dion berhasil memanggil satu naga ungu ke tempat ini," jawab Paman Zacko dengan kegembiraan yang tak bisa ia tutupi dalam nada bicara nya.


"Di mana naga nya, Paman?" Tanya Mix tak percaya.


"Sabar dan tunggu lah..ah, itu dia!" Tunjuk Paman Zacko ke satu titik di kejauhan sana.


Sesuatu yang menggemparkan terjadi di depan mata semua nya. Salah satu gunung yang terlihat paling tinggi di antara gunung lain nya tiba-tiba saja seperti berguncang sendiri.


Tapi tidak. Gunung itu bukan sekedar berguncang. Melainkan bergerak. Dan secara perlahan gunung tersebut seperti terpecah menjadi dua. Di mana pecahan yang paling kecil nya itu lah yang sebenar nya bergerak dan terpisah dari gunung induk nya.


Pecahan gunung tadi lalu merenggang dan terus melebar, hingga bentuk nya menyerupai seperti seekor naga! Ya! Naga keunguan!


Rupa-rupa nya ada naga berwarna ungu yang telah tertidur entah berapa tahun lama nya di puncak gunung tertinggi tadi. Jadilah akhirnya kini gunung tadi tampak tak terlalu tinggi lagi seperti semula.


Roaaarrrrr!!


Raungan naga menggema ke atas permukaan bumi. Menggetarkan semua pengendali naga serta kelompok Exazcta yang mendengar dan melihat sosok nya di kejauhan sana.


Mata Dion membelalak lebar. Ketakutan dalam diri nya semakin menghimpit dada. Melihat sosok naga tersebut, ia dibuat takut sekaligus juga terpesona.


Naga itu jauh lebih tangguh dan juga indah bila dibandingkan dengan naga Eduardo milik Papa Yan Chen nya. Dan, secara ukuran pun seperti nya naga itu sedikit lebih besar.


Panjang naga itu mulai dari kepala hingga ujung ekor nya mungkin sepanjang lapangan bola. Dengan tinggi yang menyamai gedung sepuluh lantai.


Naga tersebut berwarna ungu keperakan. Setiap sisik nya terlihat mengkilap seperti batu berlian. Begitu keras. Begitu likat. Begitu tangguh.


Di bagian punggung sang naga terdapat duri-duri runcing yang terus memanjang mulai dari tulang belakang jingga ke tulang ekor nya. Dan ada satu tanduk kecil yang berada di ntara hidung dan juga kedua mata nya.


Dion mengamati dari kejauhan tempat nya berdiri kini, bahwa mata sang naga berwarna ungu gelap. Ia begitu yakin dengan warna ungu nya itu. Seyakin pengetahuan nya bahwa sang naga kini sedang menatap langsung kepada nya dari jarak ratusan kilometer itu.


Roarrrrr!!


Sang naga kembali meraung kencang. Suara nya menggema dan terus bergaung menggetarkan para penghuni dunia ini.


Tak lama kemudian naga tersebut membentangkan sayap nya lebar. Sayap yang tak terlalu besar, pun jua tak terlalu kecil.


Dan, naga itu mengambil ancang-ancang seperti hendak terbang. Kepala nya sedikit tertunduk ke depan. Sementara garis mata nya tetap tertuju ke satu arah. Tepat ke mata Dion.


Dion mengetahui itu. Dion meyakini hal itu.


Ia merasa takut. Ia ingin berlari. Tapi Dion tak bisa. Sesuatu dalam diri nya menolak untuk mengaku kalah.


Dion ingin menguasai rasa takut nya. Dia ingin melawan kekerdilan rasa dalam jiwa nya saat ini.


Dengan tubuh dan tangan yang bergetar, Dion menguatkan tekad nya.


Perlahan, tangan Dion terjulur ke depan. Tangan nya terbuka menghadap ke atas, ke arah sang naga, seolah ia ingin mengundang naga tersebut untuk menjalin pertemanan dengan nya.


Dion mula nya tak mengerti, bagaimana ia harus mengikapi semua kejadian luar biasa ini. Sampai kemudian sang naga akhirnya melesat terbang ke angkasa. Tapi tidak menuju tempat Dion berada. Naga tersebut terbang dengan jarak yang tak terlalu tinggi dari permukaan tanah. Tepat di atas puncak gunung-gunung lain nya di kejauhan sana.


Sang naga terus berputar mengitari area gunung tersebut selama beberapa waktu. Hingga perlahan muncul pusaran awan hitam di bagian atas langit tempat naga tersebut terbang. Pusaran yang perlahan turun membentuk angin tornado yang berpusing hingga mengikut sertakan air laut pula bersama nya.


Air laut bergemuruh.


Pyashh...


Pyashh..


Bunyi nya berulang seperti itu setiap kali pusingan tornado nya terpecah menyentuh bebatuan karang di pinggir pantai.


Tapi tak semua orang bisa melihat dengan jelas, kejadian tornado air di atas laut tersebut. Mereka mengira itu hanya tornado angin biasa.


Semua orang baru menyadari kalau tornado tersebut juga membawa serta air laut bersama nya, ketika tiba-tiba tercipta gelombang tinggi air yang hampir menyamai sepertiga tinggi gunung di kejauhan.


Gelombang air tersebut menyerupai tsunami besar yang lantas menyapu daratan sepanjang empat ratus meter dari bibir pantai.


Byurrr....


Dan tempat di mana Dion, dan yang lain nya berada hanya berjarak kurang dari seratus meter saja dari daratan yang terkena dampak sapuan gelombang tsunami tersebut.


Semua kata terbelalak ngeri. Semua jeritan tertelan oleh sepi. Semua pemilik kaki tiba-tiba sibuk berlari. Terkecuali Dion, yang bahkan hingga saat itu, masih juga tak bisa menggerakkan kaki nya lagi.


Remaja lelaki itu seolah telah dipaku di tempat oleh kekuatan tak kasat mata. Dan sepanjang kejadian luar biasa itu terjadi, pandangan nya tak henti mengekori ke mana pun gerak sang naga terbang di kejauhan sana.


"Paman! Bagaimana ini? Naga ini seperti nya terlalu kuat! Dia bahkan mampu menciptakan tornado dan juga tsunami. Apa sebaik nya kita tidak pergi saja, Paman?!" Pekik salah satu Anak Besar asuhan dari Zacko.


Tampak jelas ketakutan itu bercokol dalam jiwa nya dan juga mata nya.


"Bertahan lah! Tunggu sebentar lagi! Kita akan tangkap naga itu saat Dion berhasil mengendalikan nya nanti!" Hardik Paman Zacko kepada anak asuh nya tersebut.


"Tapi Paman! Naga ini sangat lah kuat! Dan lihat apa yang dilakukan oleh bocah itu sedari tadi? Dia seperti nya mati berdiri di tempat nya itu. Sedari tadi ia tak melakukan apapun untuk mengendalikan naga nya!" Lanjut si Anak Besar mengeluh.


Pada umum nya, antara naga pasangan serta pengendali nya tak memerlukan waktu lama untuk bisa saling terkoneksi.


Seornag Pengendali Naga akan melakukan panggilan hati kepada naga nya. Dan tak lama kemudian naga tersebut akan muncul, menghampiri dan menundukkan posisi nya di hadapan sang Pengendali.


Semudah itu. Tak pernah ada drama seperti apa yang terjadi saat ini.


Sedari tadi naga tersebut terus terbang berpusing di antara puncak gunung sana tanpa ada gelagat ingin mendekati Dion.


Jangankan menunduk dan menghormat pada Pengendali yang sudah memanggil nya, naga itu malah menciptakan tornado besar beserta tsunami yang menakutkan ini!


Anak Besar tersbeut sungguh ingin segera lari dari tempat ini. Jika saja ia tak lebih takut kepada Paman Zacko nya. Ia yakin, bila ia berpaling sedikit saja dari tempat pos seharusnya ia berada, maka Paman zacko pasti akan langsung mengantarkan nyawa nya ke Hades, Sang Penjaga neraka.


"Kembali saja ke pos mu! Dan tetap ikuti rencana semula! Aku khawatir, kemunculan naga ungu ini pasti juga sudah menarik perhatian kelompok lain nya. Semoga saja Dion bisa segera menguasai naga itu. Jadi kita bisa segera pergi sebelum semua kelompok itu datang ke tempat ini!" Pekik Zacko bersemangat.


'Ya. Aku harus mendapatkan pusaka naga ungu itu. Aku yakin, dengan pusaka ini, aku akan bisa membalaskan dendam mu Lin..' gumam Zacko penuh ambisi di dalam hati.


***