
Selanjutnya, dengan bergegas, Blaze membantu Dion memindahkan tubuh Anna ke atas sebuah kursi roda lalu mengikat nya pada kuris roda itu agar ia tak mudah terjatuh.
Sementara itu, Ram mulai membuka portal menuju Dimensi Gelap nya. Setelah Portal terbuka, Ram masuk terlebih dulu ke dalam nya, baru kemudian diikuti oleh Dion yang mendorong kursi roda Mama sambung nya itu.
Akan tetapi, belum sempat Dion melangkah masuk ke dalam Dimensi Gelap, saat tiba-tiba saja sebuah suara muncul dan mengejutkan semua orang di dalam gubuk Rim itu.
"Kau di sini!! Blaze! Kau mengkhianati ku!" Pekik tajam suara Paman Zacko dari pintu gubuk Rim.
Semua orang sangat terkejut dengan kemunculan Paman Zacko. Sehingga keempat remaja tersebut diam terpaku selama beberapa saat.
Blaze lah yang mengingatkan semuanya untuk bergegas pergi.
"Dion! Ram! Kalian cepat lah pergi! Rim! Kau juga pergi lah! Biar aku yang akan menahan Paman!" Titah Blaze dengan berani.
"Tidak! Blaze! Kau juga sebaiknya ikut dengan kami!" Balas Rim tak setuju dengan usulan Blaze tadi.
"Jangan harap kalian bisa pergi dari sini!" Teriak Zacko penuh amarah.
Kemudian ia berlari cepat ke tempat pintu portal. Namun Blaze buru-buru menghadang nya.
"Dion! Pergi lah! Rim! Kau juga! Aku tak bisa menahan Paman lama-lama!" Teriak Blaze.
Suasana begitu genting saat itu. Namun Dion mengikuti perintah Blaze. Ia langsung masuk ke dalam portal, berikut juga Rim.
"Tutup portal nya, Ram! Sekarang!" Teriak Blaze kembali.
Gadis itu terlihat payah menahan gempuran serangan pedang dari Zacko. Pantas nya memang seperti itu. Karena dari Zacko lah Blaze mahir belajar pedang.
"Blaze! Berani nya kau membangkang perintah ku! Cepat bawa Dion ke mari! Atau kau akan ku anggap tiada saat ini juga!" Teriak Zacko penuh emosi.
Blaze tak mengindahkan perkataan Paman Zacko. Ia lebih menyayangi Ram dan juga anak-anak di sini, dibanding harus mengikuti perintah Paman nya yang bermaksud untuk menyakiti teman-teman nya saja. Blaze sudah menganggap semua orang di sini sebagai adik-adik nya.
"Ram! Tutup sekarang portal nya!" Teriak Blaze begitu genting.
Ram pun akhirnya menuruti perintah Blaze. Secara perlahan ia mulai menutup portal nya kembali. Namun, tepat sebelum portal itu menyempit, tiba-tiba saja Rim berkata kepadanya dengan raut wajah menyesal.
"Ram, maafkan aku. Aku tak bisa meninggalkan Blaze sendirian di sana. Kau pergilah bersama Dion ke Dunia Magis. Siapa tahu di sana kau bisa bertemu dengan orang tua kandung mu, Ram. Maaf!" Ucap Rim, sebelum akhirnya ia melompat kembali keluar Dimensi Gelap.
Ram menatap tak percaya pada aksi Rim itu. Namun kesadaran nya terlambat, karena pintu portal telah menutup kembali, saat sosok Rim telah kembali ke ruang di dalam gubuk kecil nya tadi..
"Tidak! Rim! Rim!!" Teriak Ram dengan hati yang tergoncang.
Dion menahan pegangan nya pada kursi roda Mama Anna. Dan ia menahan langkah Ram yang hendak menuju titik portal tadi berada.
Dion khawatir bila Ram akan membuka pintu portal itu kembali. Karena itulah Dion berusaha menyadarkan Ram atas jalan yang tersedia di hadapan mereka saat ini.
"Ram! Tenangkan diri mu! Rim benar! Kita sebaik nya segera pergi dari tempat ini, Ram. Walaupun kita kembali ke tempat itu, belum tentu kita bisa membantu Rim dan juga Blaze! Paman Zacko yang jadi lawan kita, Ram!" Dion berusaha mengingatkan Ram.
"Tapi Rim itu saudara ku, Kak! Bagaimana aku bisa meninggalkan nya di sana!" Teriak Ram masih terguncnag.
Cukup lama Ram menangis di tempat. Setelah ia menjadi tenang, tiba-tiba saja ia mendorong tubuh Dion dengan kasar.
"Ini semua salah Kakak! Karena Kakak lah Oaman Zacko marah! Karena Kakak lah aku jadi harus melarikan diri! Sekarang, Rim dan juga Blaze dalam bahaya! Ini semua karena Kak Dion!" Tuding Ram terlihat sangat marah.
Dion terguncang karena dituding seperti itu. Sedikit banyak nya, tanpa diberitahu oleh Ram pun ia sudah menyadari kalau semua penyebab masalah ini adalah dari dirinya sendiri.
Tapi, Dion tetap tak bisa membiarkan Mama nya mati begitu saja bukan? Setidaknya, ia harus berusaha untuk menemukan tabib bagi Mama Anna. Baru setelah itu, ia akan bersedia menerima hukuman apapun atas semua masalah yang telah disebab kan karena kehadiran nya di Dream Land ini.
"Maafkan aku, Ram.."ucap Dion dengan nada lesu.
"Kalau begitu, pergi lah ke mana pun Kak Dion mau! Aku tak mau melihat Kak Dion lagi! Aku akan pergi menyelamatkan Rim dan juga Blaze! Mungkin jika aku emmiinta maaf kepada Paman Zacko, Paman juga akan memaafkan Rim dan Blaze," ucap Ram penuh tekad.
"Tidak, Ram! Jangan kau lakukan itu! Itu hanya akan membahayakan nyawa mu!" Larang Dion.
"Terserah aku! Selamat tinggal, Kak!"
Pamit Ram aebelum akhirnya ia kembali membuka portal di titik yang sama.
Syukurlah, saat portal itu terbuka, sudah tak ada Paman Zacko dalam gubuk Rim lagi. Dion hanya bisa menatap lemas kepergian Ram yang meninggalkan nya begitu saja di Dimensi Gelap itu.
Berdua dengan Mama Anna.
Begitu portal tertutup, Dion menatap ke dunia sekitar nya yang gelap gulita. Keheningan di dunia itu sedikit membuat Dion merasa takut. Namun ia menabahkan hati nya lagi. Di raih nya pegangan kursi roda tempat Mama Anna terduduk saat ini. Dan Dion pun perlahan mendorong kursi roda tersebut untuk bergerak maju.
Dion khawatir bila sewaktu-waktu Ram akan kembali dengan mengajak serta Paman Zacko. Jika begitu, maka walaupun ia tak tahu jalan keluar dari tempat ini, setidak nya ia sudah bergerak menjauhi titk awal tempat ia memasuki Dimensi Gelap ini.
"Ma.. tenang ya, Ma. Dion akan menemukan tabib penyihir untuk Mama. Jadi Mama harus bertahan ya, Ma." Gumam Dion sambil terus berjalan.
Kemudian, tiba-tiba saja Dion teringat dengan keberadaan naga Maryleen yang kini sudah mewujud menjadi bola manik di tangan nya.
"Apa aku bisa memanggil Maryleen keluar dari tempat ini ya?" Tanya Dion dalam monolog nya.
"Ah.. Aku coba saja deh. Mm.. Maryleen.. keluarlah!" Teriak Dion dalam Dimensi Gelap itu.
Dan, tiba-tiba saja kejadian magis pun terjadi. Selarik cahaya keunguan tiba-tiba meluncur keluar dari bola manik di tangan Dion. Cahaya tersebut lalu menggumpal keluar ke hadapan Dion. Lalu mewujud menjadi seekor maga ungu Maryleen.
Akan tetapi, ada yang berbeda dengan Maryleen saat ini. Karena tubuh nya saat ini berukuran sangat kecil. Ia kini seukuran anak kucing namun bisa terbang dan tampak kebingungan menatap Dion.
"Dion? Apa yang terjadi? Bagaimana kita bisa berada di tempat sempit ini?" Sapa Maryleen dengan suara cicitan kecil.
Dion pun ternganga menatap naga nya yang kini telah berubah menjadi mini tersebut.
"Maryleen, apa yang terjadi pada mu? Kenapa tubuh mu jadi kecil begini?!" Tanya Dion tak kalah bingung.
***