Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Berpetualang



Kembali ke tempat Dion berada saat ini. Di Daratan Ilusi.


"Dion! Ayo cepat berkemas!" Teriak Ram membangunkan Dion pada suatu pagi.


"Huh? Bb..ber..kemas? Memang nya kita mau ke mana, Ram?" Tanya Dion yang masih linglung.


"Kita akan ikut Paman Zack berpetualang bersama lima Anak Besar lain nya! Aku, kamu dan juga Mix! Hebat sekali, bukan?!" Seru Ram terlihat sangat gembira.


"Berpetualang?" Tanya Dion masih dengan raut bingung.


"Ya. Kita sekalian pergi mencari Papa mu, Diy. Bagaimana? Apa kau mau ikut?" Tanya Paman Zack (aka. Zacko) dengan wajah kebapakan.


Lelaki itu baru saja masuk melewati pintu kamar tempat Dion beristirahat. Melihat Paman Zacko nya, Ram yang periang pun langsung bersikap sedikit agak lebih tenang. Meski begitu, ia masih memberikan Dion kerlingan mata nya yang dipenuhi oleh binar ceria.


Mendengar nama Papa nya disebut, seketika kesadaran Dion pun melesat cepat.


"Mau, Paman! Dion mau ikut!" Seru Dion seraya bangkit dari atas kasur nya.


Paman Zack tersenyum lebar. Dan ia pun kemudian berseru.


"Bagus! Sekarang, bersiap-siap lah! Setengah jam lagi kita akan berangkat!" Ujar Paman Zack,, sebelum kembali menghilang keluar kamar.


Tanpa disuruh dua kali, Dion langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak sampai lima menit, ia sudah kembali ke kamar nya lagi dan memakai baju milik nya.


Selama ini ia memakai baju pinjaman dari Stephen. Salah satu anak di Daratan Ilusi yang memiliki postur tubuh tak jauh dari nya.


"Dion, apa kau sudah mandi?" Tanya Ram yang kembali muncul untuk menengok Dion.


"Sudah, Ram!"


Dion bergegas keluar dari kamar nya. Bersama dengan Ram, ia pun pergi keluar mansion untuk menjumpai Paman Zack, Mix dan juga lima Anak Besar yang ke semua nya berjenis kelamin lelaki dan seumuran dengan Blaze.


Di luar, langit masih begitu gelap.


'huh? Ini masih malam ternyata? Pantas saja masih sepi. Seperti nya anak-anak yang lain masih tidur..' gumam Dion dalam hati.


"Sudah? Sekarang, ayo kita berangkat!" Seru Paman Zack kepada rombongan nya.


Akan tetapi...


"Tunggu sebentar! Paman Zack!" Sebuah suara menghentikan langkah ke sembilan orang dalam rombongan petualang kali itu.


Melihat siapa yang memanggil nama nya, seketika wajah Paman Zack menjadi serius.


" Blaze!" Sahut Paman Zack dengan nada kesal.


Dion menatap bingung ke arah kedua nya.


'Huh? Kenapa Paman Zack terlihat kesal dengan Kak Blaze ya?' Dion bertanya sendiri di dalam hati nya.


Blaze lalu terlihat buru-buru mendekati Paman Zack. Dan setelah berada di hadapan lelaki itu, Blaze pun berbicara.


"Paman! Ke mana kalian akan pergi? Dan kenapa kalian mengajak serta Dion, Ram dan juga Mix? Mereka masih terlalu muda untuk ikut berpetualang bersama mu, Paman!" Protes Blaze tak terima.


"Kembali ke kamar mu, Blaze! Kau cukup mengawasi anak-anak yang lain saja di tempat ini. Aku akan segera kembali lagi," ujar Paman Zack.


Blaze menyadari kalau Paman Zack tak ingin menjawab pertanyaan nya tadi. Akhirnya ia pun mencoba membujuk Paman nya untuk tidak mengajak serta Dion dan yang lain nya.


"Tolong, Paman. Jangan ajak Dion, Ram dan juga Mix. Lihat lah mereka! Mereka masih terlalu kecil bukan?" Seru Blaze sambil menunjuk ke arah Dion dan juga Ram.


Ram yang tak suka karena dibilang kecil pun langsung membusungkan dada se kukuh-kukuh nya. Ia berharap dengan usaha nya itu ia akan terlihat seperti memiliki otot-otot dada yang menawan. Persis seperti lima Anak Besar yang lain.


Sambil membusungkan dada, Ram pun berseru.


"Aku bukan anak kecil lagi, Blaze!" Sanggah Ram terlihat konyol di mata semua orang di sana.


"Ram! Diam lah dulu! Aku sedang berbicara dengan Paman!" Tegur Blaze memberikan pandangan tajam ke arah Ram.


Ram pun langsung terdiam dengan mulut yang manyun ke depan.


Dion menepuk pundak kawan nya itu. Sementara itu Blaze kembali membujuk Paman Zack mereka.


"Ke mana pun Paman pergi, anak-anak ini tak cocok untuk pergi keluar bersama mu, Paman. Di luar sana terlalu bahaya bagi mereka! Mereka belum punya kemampuan untuk perlindungan diri seperti Red dan juga yang lain nya!" Seru Blaze sambil melirik rekan sejawat nya yang tergabung dalam kelompok Anak Besar.


Sebenarnya Blaze merasa sedikit iri karena ia tak bisa ikut pergi berpetualang bersama Paman Zack yang ia kagumi itu. Ia pun ingin pergi berpetualang bersama ke lima Anak Besar lain nya. Sayang sekali Paman Zack telah cukup sering menolak keikutsertaan Blaze. Alasan nya sungguh menyedihkan.


'Karena kamu seorang perempuan Blaze.. keberadaan mu dalam tim justru menjadi bahaya tersendiri bagi kami. Menetap lah di sini, dan awasi semua anak yang lain. Oke?' jawab Zack dulu sekali.


"Mereka akan aman pergi bersama ku, Blaze. Sudha lah! Masuk sana! Jangan sampai anak-anak yang lain terbangun dan melihat keberangkatan ku bersama Dion, Ram dan juga Mix. Bisa-bisa nanti mereka pun ingin ikut pergi bersama ku!"


'...seperti dirimu!' lanjut Zack di dalam hati.


Blaze terdiam. Tapi tak lama. Detik berikut nya ia pun mengutarakan alasan yang masuk diakal untuk mem protes rencana Zack yang ingin membawa serta Dion, Ram dan juga Mix.


"Tapi Paman, Mix itu kan anak perempuan! Bukan kah menurut Paman, keberadaan perempuan dalam tim bisa menjadi pengganggu yang membahayakan tim saat berpetualang?" Tanya Blaze sambil memberikan Mix pandangan meminta maaf.


'Maaf ya, Mix. Kau harus mendengar ucapan ini.. bagaimana pun juga, aku tak akan tenang bila kamu, Dion dan juga Ram ikut pergi bersama Paman Zack. Perjalanan ini terlalu bahaya bagi kalian untuk ikut!' Lirih Blaze tanpa suara.


"Blaze, apa sekarang kau mulai membantah perintah ku?" Tanya Zack dengan kedua mata yang memicing tajam ke arah Blaze.


Dipandangi seperti itu, seketika nyali Blaze pun sempat menciut.


"**..tidak Paman! Bukan begitu maksud ku. Tapi kan.."


"Kalau begitu, cepat masuk ke dalam mansion sana! Dan jangan membuat ku menghabiskan waktu ku di sini lebih lama lagi!" Hardik Paman Zack dengan nada suara yang agak dikeraskan.


Blaze pun akhirnya menuruti perintah Paman Zack nya dengan hati yang tak rela. Setelah melihat Blaze kembali masuk ke dalam mansion, Paman Zack pun kembali mengajak rombongan nya untuk segera pergi dari sana.


"Ayo kita pergi sekarang!" Ajak Paman Zack kepada semua anggota rombongan nya.


Setelah Zack dan rombongan nya berlalu jauh, sesosok bertubuh ramping dan tinggi pun mengikuti mereka dari belakang. Ia menjaga jarak diri nya dengan rombongan Zack tak terlalu jauh juga tak terlalu dekat.


Ya. Sosok tersebut adalah Blaze.


Flashback beberapa menit sebelum nya.


Begitu masuk ke dalam mansion, Blaze langsung pergi ke kamar Stephen dan membangunkan remaja tanggung tersebut.


"Steph! Stephen! Bangun lah!" Bisik Blaze di dekat telinga Stephen.


Perlahan Stephen terbangun. Dan ia menatap heran dengan keberadaan Blaze di kamar tidur nya.


"Blaze?" Tanya nya dengan raut masih diselaputi kebingungan.


"Ya. Ini aku. Steph, aku dan Paman harus pergi dulu bersama Paman. Sementara, kau akan menjadi ketua selama kepergian ku nanti ya! Kau harus menjaga anak-anak di sini. Oke?" Pesan Blaze terdengar snagat mendesak.


"Ya! Bb..baiklah Blaze!" Sahut Stephen merasa gembira.


Remaja lelaki itu merasa senang karena ia ditugaskan oleh Blaze untuk menjadi ketua sementara di mansion ini. Bukankah itu tawaran yang sangat menggiurkan?


Setelah menerima jawaban Stephen tersebut, Blaze pun langsung melesat ke dapur untuk membawa beberapa roti dan juga selai. Ia lalu memasukkan semua bahan makanan itu ke dalam ransel. Dan tanpa menunda waktu lagi, Blaze segera mengejar rombongan Zacko.


Flashback selesai.


"Maafkan aku, Paman! Tapi aku sungguh merasa khawatir pada Mix dan juga yang lain nya. Aku ingin tahu, ke mana kau akan mengajak mereka pergi.." gumam Blaze ditelan angin pagi yang dingin.


***