Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Lembah Ungu Senja



"Sesampai nya di lembah Ungu Senja kita harus semakin berhati-hati. Karena pasti ada kelompok lain yang juga mengejar keberadaan pusaka Naga yang sedang kita incar saat ini," Zacko memperingatkan Lima Anak Besar, yang adalah tim bentukan nya sendiri.


Kelima Anak Besar itu sudah dibesarkan dan dididik oleh Zack sedari mereka masih sangat kecil. Sehingga Zack mempercayai mereka seperti mereka adalah anak nya sendiri.


"Baik, Paman!" Sahut Raff, Anak Besar yang paling dituakan di antara keempat kawan nya yang lain.


"Kalian ingat dengan rencana kita, bukan? Terus maju dan bawa dua golden ini menuju titik yang sudah kita sepakati. Setelah itu biarkan kedua golden itu yang memanggil naga ungu. Sementara satu orang dari kalian menahan Ram agar tak mengetahui rencana kita. Jika dalam tiga kali percobaan usaha kita tak berhasil, kita tinggalkan mereka berdua di sana. Dan kita segera pulang kembali ke Daratan Ilusi," Zack mereview ulang rencana mereka.


"Baik, Paman!" Jawab kompak kelima Anak Besar tersebut.


Setelah itu, Zack dan Lima Anak Besar tersebut kembali ke gua tempat Ram, Dion dan juga Mix sedang tertidur pulas.


Pandangan Zack tertahan lama pada sosok mungil Dion. Ia berharap besar kalau percobaan nya kali ini akan berhasil.


Telah beberapa kali ia membawa seorang anak Golden ke Lembah Ungu Senja demi bisa mendapatkan Pusaka Naga yang dikatakan sakti mandraguna.


Zack sungguh ingin menguasai pusaka naga tersebut. Dengan begitu, ia bisa membalaskan dendam nya kepada Para Tetua sekte Devada yang tirani itu.


Zack tiba-tiba saja teringat pada wajah kekasih nya yang kini telah tiada.


'Ah.. Liem.. begitu cepat kau pergi meninggalkan ku.. tenang saja, Liem.. aku akan membalaskan dendam mu!' janji Zacko yang berkobar dalam hati nya.


Selama lima hari Zacko beserta rombongan nya melalui perjalanan menuju Lembah Senja Ungu. Sejauh itu mereka tak mengalami hambatan sekali pun.


Pernah sekali, Zacko hampir berpapasan dengan sebuah kelompok Exzacta dari divisi entah ke berapa. Namun dengan kekuatan membuka portal dimensi milik Ram, Zacko pun bisa menghindari kelompok Exzacta tersebut secara diam-diam.


Jadi, dua Anak Besar Zacko telah ditugaskan untuk berjalan terlebih dahulu di depan. Jadi sekali nya mereka melihat ada bahaya di hadapan maka kedua anak Besar tersebut dapat segera mengabarkan kepada Zacko, ketua tim perjalanan mereka tersebut.


Dengan cara ekspedisi seperti itu lah Zacko akhirnya berhasil mencapai Lembah Senja Ungu tanpa mengalami masalah berarti dalam kurun waktu sembilan hari.


"Paman! Ada di mana kita sekarang? Kenapa semua pepohonan di sini berwarna ungu? Lihat, Dion, tidakkah menurut mu daun itu sangat aneh? Daun nya berwarna ungu!" Seru Ram bersemangat.


Di antara ketiga anak kecil yang mengikut dalam rombongan Zacko, Ram lah yang paling ceria di antara ketiga nya. Dion lebih sering diam dan mengamati perjalanan nya dengan pandangan santai. Sementara Mix lebih sering mengeluhkan tentang banyak hal.


Entah itu tentang alas tidur nya yang membuat punggung nya sakit. Perut nya yang sering lapar, atau kaki nya yang kelewat pegal. Telah lebih dari belasan kali sering nya Mix mengatakan kalau ia ingin pulang kembali ke daratan Ilusi.


Gadis itu menyesali keputusan nya untuk ikut berpetualang dengan Paman Zacko. Jika saja ia tahu kalau petualangan ini hanya akan membawa banyak kesulitan bagi nya, sudah tentu Mix tak akan mau pergi ke tempat antah berantah ini.


"Kau ini payah sekali sih, Ram! Aku sih pernah melihat daratan yang warna semua daun nya merah. Karena dari sana lah tempat tinggal ku berada dulu.."


Tiba-tiba saja Mix terdiam. Ia merasa sedih karena teringat dengan anggota keluarga nya yang kini telah tiada.


Mereka dibunuh oleh sekelompok Exzacta yang lalu menculik Mix dan menyekap nya di gua gelap dan juga pengap. Beruntung ada Blaze yang dulu menyelamatkan nya dari gua itu. Sehingga Mix bisa kembali merasakan kebebasan dan hidup berbahagia di Daratan Ilusi bersama kawan-kawan nya yang lain.


"Mix..?"


Dion memanggil Mix sambil tersenyum ramah. Sesaat tadi Dion menyadari langkah Mix yang melambat. Sehingga ia pun menegur rekan perempuan nya itu.


Dan tahu lah Dion kalau Mix sempat melamun sesaat tadi.


"Apa sih? Huh!"


Mix kembali mempercepat langkah nya. Ia selalu merasa sebal setiap kali bertatapan dengan Dion. Anak lelaki itu memang pendiam. Tapi sering kali Dion menangkap basah diri nya yang sering melamun atau menangis karena rindu pada keluarga nya yang telah tiada.


Karena sebal, Mix pun mempercepat langkah nya lagi, sehingga ia tak lagi berjalan berdampingan dengan Dion.


Dion yang ditinggalkan oleh Mix hanya bisa tertegun heran di barisna belakang. Tak lama kemudian, Ram berjalan berdampingan di sisi nya.


"Hahaha.. kau dicueki Mix ya, Diy? Dia memang jutek. Sudah, jangan ajak dia bicara. Yang ada malah nanti kamu bisa diomeli nya! Aku saja sering diomeli oleh Mix! Padahal aku tak salah apa-apa!" Ujar Ram menghibur Dion.


Dion membalas cengiran Ram dengan senyuman tipis.


Ia tak terlalu memikirkan tentang sikap Mix yang jutek. Kerisauan nya saat ini hanyalah tentang kapan ia bisa bertemu kembali dengan Papa dan juga Mama nya. Dion rindu sekali pada mereka.


Dion teringat pada wajah Mama sambung nya, yakni Mama Anna yang pendiam. Entah kenapa, ia merasa nyaman dengan ibu sambung nya itu.


'Mama Anna pernah berjanji untuk mengajari ku aritmatika. Tapi kalau begini terus, kapan aku bisa belajar aritmatika nya?' keluh Dion tanpa suara.


Setelah beberapa lama, Paman Zack pun kembali berkata.


"Kita beristirahat dulu di sini," ujar Paman Zack.


"Paman, sebenar nya kita mau ke mana, Paman?" Tanya Ram untuk yang pertama kali nya.


Anak lelaki itu sebenar nya sudah sejak lama ingin bertanya. Namun saat melihat wajah serius Paman Zack, Ram mengurungkan niat nya untuk bertanya.


Tapi sesaat tadi ia menangkap perubahan ekspresi di wajah Paman Zack nya. Karena samar, Ram menangkap Paman nya itu tersenyum. Jadi lah Ram memberanikan diri untuk bertanya.


"Kita sudah sampai di tempat tujuan kita, Ram. Sekarang kita sudah berada di Lembah Senja Ungu. Di sini lah nanti kita akan melihat para naga ungu berterbangan. Yah.. kita akan lihat nanti. Apa Dion dan Mix bisa mengendalikan salah satu nya?" Kelakar Paman Zack seperti bernada canda.


"Bagaimana dengan bertemu Papa Dion, Paman? Bukan kah kata Paman, kita akan menemui Papa?" Tanya Dion tiba-tiba.


Masih dengan tersenyum, Zacko membalas pertanyaan Dion.


"Tenang saja, Nak. Kita akan menemui Papa mu, tentu saja. Paman yakin kalau dia juga akan ada di tempat ini. Tapi persis nya di mana, Paman tidak tahu. Jadi, kau harus bersabar sedikit lagi, oke?" Jawab Zacko dengan santai nya.


"Apa setelah itu kita akan langsung pulang, Paman? Mix rindu teman-teman di mansion.. Mix ingin pulang.." giliran Mix yang menyampaikan keluhan nya.


"Nah. Tentu saja. Setelah ini Kita akan pulang. Jadi, bersabarlah sebentar lagi. Oke?" Ucap Zack berdusta.


"Sekarang, kalian tidur lah dulu. Besok, Paman akan bangunkan kalian. Jadi, jangan bergadang ya. Kalian gak mau kan Paman tinggalkan di tempat ini?" Ancam Paman Zack sambil tersenyum cerah.


Seketika Ram, Dion dan juga Mix menggeleng cepat.


"Gak mau, Paman!" Koor ketiga nya bersamaan.


"Kalau begitu, tidur lah! Dan jangan bertanya lagi! Paman ingin berkeliling sebentar. Raff, kau ikut lah Paman. Yang lain, jaga anak-anak!" Titah Paman Zack dengan sikap berwibawa.


Tak berselang lama kemudian Paman Zack dan juga salah satu Anak Besar yang bernama Raff pun pergi menjauhi tenda tempat Dion dan lain nya beristirahat.


Sementara itu, langit malam kian pekat. Udara dingin yang berhembus lembut di sekitar tenda itu pun dengan mudah nya membuat para manusia di dalam tenda cepat pulas dalam tidur nya.


Atau mungkin juga karena kelelahan yang mereka rasakan, usai perjalanan kaki yang memang melelahkan selama berhari-hari ini.


***