Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Getar Suara Hati



Sepekan berikut nya, Dion rutin berlatih pedang bersama Blaze dan juga Haikal. Di awal pelatihan nya, Dion masih sering dikalahkan oleh Haikal. Sementara dengan Blaze, Dion selalu kalah.


Hal ini terjadi mungkin karena faktor umur. Karena umur Blaze lebih tua lima tahun dari Dion. Sementara Haikal seumuran dengan nya.


Haikal adalah seorang anak biasa tanpa kemampuan khusus seperti Blaze. Meski begitu ia senang berlatih pernah. Karena menurut nya itu permainan yang keren.


Saat latihan, mereka selalu menggunakan pedang dari kayu. Jadi tak ada luka serius yang terjadi setelah ketiga nya bermain pedang.


"Ayo kita berenang di sungai, Diy! Kau perlu memperkuat otot kaki mu. Dalam seni bela diri pedang, kekuatan otot kaki sangatlah penting karena otot kaki yang kuat menandakan bahwa kuda-kuda mu juga kuat. Kuda-kuda yang kuat juga sangat penting, apalagi untuk menguji ketahanan kita untuk bermain pedang lama-lama," ujar Blaze memberikan ilmu nya.


Dan jadilah akhirnya Dion, Blaze dan juga Haikal pergi ke sebuah sungai yang terletak agak jauh dari mansion.


Sekitar setengah jam saat mereka berenang di sungai, tiba-tiba saja Ram muncul sambil berteriak histeris.


"Blaze! Paman Zack pulang! Dia pulang, Blaze!" teriak Ram dari jauh.


Blaze dan juga lain nya yang sedang berenang pun langsung naik ke daratan dan menghampiri Ram.


"Paman Zack sudah pulang?! Bagus! Ayo cepat kita ke mansion!" Ajak Blaze segera.


Ketiga nya kembali memakai baju luar mereka yang tadi dilepaskan di pinggir sungai. Terkecuali Blaze yang tetap memakai baju utuh untuk berenang.


Begitu sampai di halaman mansion,


"Ram, Dion, Haikal, kalian masuk lah terlebih dulu! Aku akan berganti baju ke kamar ku!" Ujar Blaze lalu menghilang ke pintu samping mansion, tempat terdekat menuju kamar tidur nya.


Ketiga anak lelaki itu pun lanjut masuk ke dalam mansion. Persis nya ke aula besar. Di mana anak-anak yang lain telah berkumpul di sana.


Dion menyadari ada beberapa anak baru yang berdiri di dekat seorang lelaki dewasa. Lelaki dewasa itu mungkin seumuran dengan Yan Chen, Papa Dion. Lelaki itu memiliki jambang tipis serta sebuah kacamata yang tergantung melingkari leher nya.


Sekilas Dion bisa menilai kalau lelaki itu adalah seorang yang serius.


"Paman! Aku membawa Dion kembali!" Seru Ram bersemangat sambil mendekat ke arah Paman Zack.


Pandangan Dion pun lalu beradu dengan sepasang mata elang yang menilai nya cukup intens.


Dion sampai merasa tak nyaman karena ditatap lekat oleh mata elang tersebut.


"Jadi, kau adalah seorang Golden?" Tanya Zack kepada Dion.


Dion sungguh ingin bersembunyi. Karena lagi-lagi ia menjadi pusat perhatian semua orang saat itu jua.


"I..iya, Paman!" Jawab Dion singkat dan padat.


"Siapa nama mu?" Tanya Zack lagi.


"Dd..Dion, Paman!"


"Oh.. dan jangan bilang kalau nama Ayah mu adalah Yan Chen, hum?" Tebak Zack.


Seketika pandangan Dion yang sempat tertunduk pun terangkat.


"Benar sekali, Paman! Bagaimana Paman bisa tahu?!" Tanya Dion begitu terkejut.


Seulas senyuman terbit di bibir tipis milik Zack.


"Tentu saja aku tahu, boy. Karena aku adalah teman lama Ayah mu!" Ungkap Zack kemudian.


Dan Dion pun kembali dibuat terkejut usai mendengar ucapan dari lelaki asing di depan nya itu.


***


Sementara itu di Sekte Devada dari Pengendali Naga...


Yan Chen sedang berlatih pedang dengan Abiel, salah satu tetua dari sekte Devada yang usia nya tak jauh dari usia Yan Chen.


Prang. Ctak. Prang. Ctak.


Bunyi kedua pedang besi pun terdengar nyaring saat beradu. Membuat ngilu mereka yang memiliki pendengaran tajam.


Setelah satu jam berlatih pedang, Yan Chen pun mengajak Abiel untuk beristirahat di tempat.


Kedua nya lalu duduk selonjoran sambil menyesap minuman cocktail yang sudah dibawakan oleh istri Abiel, Lorran.


Glek. Glek. Glek.


"Hah.. kemampuan pedang mu sedikit menumpul, Chen. Kau pasti jarang berlarih ya?" Tuding Abiel sambil menatap ramah ke arah Yan Chen.


"Nah. Tebakan mu itu ada benar nya juga Biel. Aku memang jarang berlatih beberapa bulan terakhir. Terlalu sibuk bermain dengan putra ku, kau tahu.." sajut Yan Chen sambil menengadah ke atas. Mengambil pasokan oksigen sebanyak mungkin dari udara di sekitar nya.


"Biel..?" Panggil Yan Chen tiba-tiba.


"Ya?"


"Menurut mu, apa yang sudah menyebabkan Zacko berubah haluan?" Tanya Yan Chen tiba-tiba.


"Etahlah, Chen. Tapi ku pikir, itu ada kaitan nya dengan Naulla, kekasih nya yang ternyata seorang penyihir itu. Besar kemungkinan Zacko marah pada para Tetua karena mereka telah melukai Naulla hingga parah lalu mengusir nya jauh dari dataran ini," ujar Abiel bercerita.


"Memang nya Zacko tak tahu kalau kekasih nya itu seorang penyihir?" Tanya Yan Chen.


"Entaj lah. Tapi yamg jelas, sejak peristiwa pengusiran itu, Zacko mulai berubah. Hingga akhirnya dia tiba-tiba pergi begitu saja dari dataran ini," lanjut Abiel.


Hening..


"Apa menurut mu, Dion sekarang ada bersama nya?" Tanya Yan Chen dengan raut khawatir.


"Mungkin. Bisa saja, Chen. Karena dia lah satu-satu nya yang paling memungkinkan telah membocorkan tentang Dion ke kelompok Exzacta," Abiel menyampaikan dugaan nya.


"Hh.. aku takut bila Dion kenapa-kenapa, Abb," lirih Yan Chen sambil menyembunyikan wajah nya di antara dua lutut yang terangkat.


Abiel lalu menepuk punggung nya beberapa kali.


"Tenang lah, Sob. Bukan kah Tetua sudah mengirimkan pasukan untuk mencari keberadaan putra mu itu? Bisa jadi, Dion saat ini masih berada di tangan para kelompok Exzacta. Karena yang menyerang mu adalah para harpy bukan? Mereka adalah pasukan langit kelompok Exzacta."


"Maksud mu, bukan Zacko yang menculik Dion?" Tanya Yan Chen menatap Abiel.


"Abiel baru pergi beberapa bulan yang lalu. Jelas, ia tak akan memiliki kapasitas untuk bisa dipercaya ke dalam kelompok Exzacta sepenuh nya. Jadi dia tak akan punya wewenang untuk memerintahkan para harpy. Jadi.."


"Jadi..?"


"Jadi dugaan ku, Zacko mungkin hanya memberikan informasi saja. Sementara kelompok Exzacta tertentu yang mengeksekusi dan menculik Dion. Jika dugaan ku ini benar. Maka Putra mu setidak nya bisa ku pastikan masih tetap hidup saat ini.." imbuh Abiel dengan ekspresi merenung.


"Tapi sampai kapan, Abb?!" Pekik Yan Chen dengan nada gusar.


Di gebrak nya tanah di dekat tempat nya duduk dengan salah satu tangan. Beberapa kerikil terangkat. Beberapa lain nya meninggalkan luka pada tangan lelaki berwajah oriental tersebut.


"Hh.. entah, Chen. Itu tergantung aeberapa kuatnya darah Golden pada putra mu.. ku harap, putra mu itu memiliki jenis darah yang terbilang kuat," ujar Abiel dengan wajah menyesal.


"Memang apa penting nya sih kuat tidak nya darah seorang Golden, Abb? Aku tak mengerti. Kenapa harus putra ku yang mereka incar?!" Yan Chen masih merasa gusar.


"Soal itu.."


Belum selesai Abiel berkata, Anna tiba-tiba datang mendekati kedua nya.


"Yan.." panggil Anna dengan nada mendesak.


"Ada apa, Anna?" Tanya balik Yan Chen.


Lelaki itu langsung berdiri dan menyambut uluran tangan Anna yang terjulur ke arah nya.


"Sekilas tadi, aku sempat merasakan getar suara hati milik Dion, Yan!" Ujar Anna dengan wajah begitu yakin.


"A..apa?!" Pekik Yan Chen terkejut.


Begitu pun dengan Abiel, yang tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh istri dari sahabat nya itu.


***