
Pertarungan pun kini terjadi di antara tiga orang di dalam tenda. Dua wanita melawan satu pria. Mama Anna dan Blaze melawan Ah Roo.
Blaze melawan dengan pedang nya. Sementara Anna melawan dengan dua cemeti cahaya di tangan nya.
Ah Roo tampak kepayahan melawan kedua wanita tersebut. Ia hampir saja dikalahkan oleh kedua nya. Namun di detik-detik genting nya lelaki itu tiba-tiba melesatkan sesuatu ke arah Anna.
Benda itu seperti lempengan logam runcing bernama kunai. Serangan Anna pun seketika terhenti. Sehingga Ah Roo bisa sedikit menyeimbangkan serangan Blaze kini.
Menyadari kalau rekan nya terluka, tanpa membuang waktu lagi, Blaze pun melemparkan serbuk ke arah Ah Roo. Sehingga lelaki itu terbatuk-batuk lalu tak sadarkan diri.
Anna pun ikut tak sadarkan diri karena tak sengaja menghirup serbuk tersebut. Sementara Blaze sudah menahan napas semenjak ia berniat melemparkan serbuk ke arah Ah Roo tadi.
Tanpa membuang waktu lagi, Blaze langsung memanggul tubuh Anna dengan susah payah, dan melewati pintu portal, di mana Dion dan Ram sudah menunggu nya dengan wajah khawatir.
Setelah Blaze melewati pintu portal tersebut, Ram langsung menutup pintu portal nya saat itu juga. Sehingga kini keempat orang itu pun berada di dalam ruang dimensi yang gelap sempurna. Mereka kini ada di Dimensi Gelap milik Ram, Sang penyihir cilik.
"Tunjukkan jalan pulang ke Dream Land, Ram!" Titah Blaze kemudian.
"Tapi Mama? Bagaimana dengan Mama, Blaze? Mama sepertinya terluka!" Seru Dion yang khawatir akan kondisi Mama nya.
Blaze mengangguk singkat, kemudian melihat ke arah kunai yang menancap di pinggang Anna. Melihat kunai yang ujung nya berwarna kehitaman itu, sadarlah Blaze kalau kunai tersebut beracun.
"Sial! Kunai nya beracun! Kita harus segera kembali ke Dream Land dan membawa nya ke Rim, Diy!" Seru Blaze sambil mencabut kunai beracun tersebut dari pinggang Anna. Lalu membalut luka kecil di pinggang wanita tersebut dengan kain bersih dari baju yang ia pakai.
"Beracun?! Bagaimana ini? Mama pasti akan selamat kan, Blaze?!" Tanya Dion dengan panik.
Sementara itu, Blaze menuangkan sebuah cairan dari dalam vial kecil yang ia bawa di saku nya ke dalam mulut Anna yang tak sadarkan diri. Setelah itu, barulah Blaze menjawab pertanyaan Dion tadi.
"Karena itulah kita harus segera kembali ke Dream Land, Diy! Hanya Rim yang bisa membantu Mama mu saat ini! Aku hanya bisa memberinya ramuan penetral racun standar. Aku takut, racun yang ada pada kunai tadi lebih beracun dari racun biasa," jawab Blaze dengan raut cemas.
Setelah itu, ketiga nya pun bergegas pergi dengan membopong tubuh Anna yang tak sadarkan diri.
Cukup lama ketiga nya berjalan. Mungkin sekitar satu jam lama nya.
Memang aneh. Perjalanan yang dilalui oleh Dion selama hampir seminggu menuju dataran tempat nya bertemu dengan naga Maryleen itu berhasil ditempuh nya hanya dalam hitungan jam saja melalui dimensi gelap milik Ram.
Sampai kemudian, akhirnya mereka berhasil kembali ke Dream Land, saat itu hari sudah berubah menjadi petang. Sehingga tak ada penampakan anak-anak di luar mansion yang bisa dilihat oleh Dion.
Bersama dengan Blaze dan juga Ram, Dion lanjut menggotong tubuh Anna ke gubuk kecil milik Rim.
Tok.tok.tok.
"Rim! Buka lah, Rim! Ini aku!" Panggil Ram seketika saat mereka sudah berdiri di depan pintu gubuk Rim.
Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Dan tampak lah Rim dengan jubah putih nya.
"Ram? Apa yang terjadi? Ku dengar kau pergi dengan Paman Zack?" Tanya Rim dengan raut bingung.
Kembaran nya Ram itu lalu menyadari keberadaan Dion dan juga lain nya. Saat mata nya menangkap wajah pucat Anna dengan bibir keunguan, ia pun sadar kalau situasi nya sedang sangat genting saat ini.
"Ini Rim. Kami.." ucapan Ram tiba-tiba langsung dipotong oleh Rim.
"Masuk dulu! Bawa wanita itu masuk, cepat! Racun nya sudah menyebar banyak sepertinya!" Titah Rim dengan mendesak.
Selama beberapa menit berikutnya, Rim, tabib genius di Dream Land itu lalu mengusahakan segala cara untuk menetralkan racun dalam tubuh Anna.
Setelah setengah jam berupaya, Rim akhirnya berhenti. Kepada Dion dan yang lain nya, Rim pun berkata.
"Tunggu sebentar di sini. Aku ingin mengecek sesuatu terlebih dulu," ujar Rim sebelum menghilang ke sebuah ruangan di dalam gubuk tersebut.
Dion menyadari perubahan suhu tubuh Anna ini semenjak beberapa saat setelah Anna diserang. Tadi nya memang suhu tubuh Anna hanya dingin biasa. Tapi lama kelamaan dingin nya kian menjadi. Sampai-sampai Dion ikut menggigil setiap kali kulit nya tak sengaja bersentuhan dengan kulit Mama sambung nya itu.
Tak lama kemudian Rim kembali dengan sebuah buku di tangan nya. Ia terlihat membolak-balik lembaran pada buku tersebut.
Dilihat dari cover nya, buku itu sepertinya adalah buku tua. Bahkan setiap lembaran nya sudah berwarna kuning lusuh dengan bercak-bercak noda di mana-mana.
"Apa Mama ku sudah selamat, Rim?" Tanya Dion dengan wajah yang masih juga menampakkan cemas.
"Belum," jawab Rim lugas.
"Belum? Apa yang terjadi dengan Mama? Suhu tubuh nya juga dingin," sahut Dion kembali.
"Dari mana sebenarnya kalian? Ku kira kalian pergi dengan Paman Zack?" Tanya Rim mengalihkan pembicaraan.
"Ceritanya panjang Rim. Cepat katakan saja, apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita ini," Blaze memotong rasa penasaran Rim atas perjalanan mereka yang tak menyenangkan itu.
Rim lalu mengajak ketiga teman nya itu duduk di sebuah kursi sofa. Sementara ia sendiri duduk di atas kursi kecil yang ia ambil dari dapur kecil nya.
"Wanita itu adalah Mama mu? Nama mu Dion, bukan? Kau si anak baru itu?" Tanya Rim menatap langsung mata Dion.
Dion mengangguk singkat.
"Apa yang terjadi pada Mama ku, Rim? Tolong selamatkan dia!" Seru Dion penuh permohonan.
Sebenarnya Dion merasa sedikit sangsi bila harus meminta tolong kepada Rim. Karena Rim bahkan berusia lebih muda dari Dion.
Rim adalah kembaran Ram. Usia mereka baru menginjak angka delapan tahun saja. Meski begitu, pandangan mata Rim yang terlihat sangat dewasa untuk anak seumuran nya itu membuat Dion mampu menepiskan keraguan nya untuk sementara.
Rim terlihat menghela napas dalam terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Dion tadi.
"Mama kamu seperti nya terkena kutukan dingin, Dion," jawab Rim dengan ekspresi serius.
"Kutukan dingin? Apa itu?"
"Kutukan dingin adalah serangan sihir paling mematikan nomor tiga. Itu menurut buku yang ku baca ini," jawab Rim sambil menunjuk pada buku yang masih dipegang nya itu.
"Maksud nya apa itu? Tapi Mama bisa sembuh kan?" Tanya Dion penuh harap.
"Bisa. Tapi ia hanya bisa disembuhkan oleh pengobatan gabungan dengan menggunakan ramuan, mantra dan juga sihir. Sayang nya, aku hanya menguasai dua hal saja, yakni ramuan dan juga mantera. Sementara untuk sihir nya, aku tak punya kapasitas untuk itu," jawab Rim dengan raut menyesal.
"Sihir? Ram! Kau kan penyihir, bukan?!" Seru Dion tiba-tiba.
"Ehh? I..ya?" Sahut Ram kebingungan.
"Apa kau bisa.."
Ucapan Dion itu kembali dipotong oleh Rim.
"Ram boleh mencoba nya. Tapi jelas ia harus mempelajari teknik nya dulu. Ada beberapa penjelasan penggunaan sihir yang diperlukan untuk menyembuhkan penderita kutukan dingin di buku ini. Cobalah baca dulu, Ram," ujar Rim sambil menyodorkan buku tersebut kepada saudara kembar nya itu.
Ram menatap bingung pada buku yang disodorkan oleh Rim. Namun saat ia melihat wajah penuh harap nya Dion, bocah lelaki itu pun akhirnya menerima buku tersebut untuk kemudian dibacanya.
"Baik lah.. Aku akan mencoba nya.." sahut Ram singkat.
***