Dion, The Golden Boy

Dion, The Golden Boy
Datangnya Bantuan



Begitu Dion terbangun, ia melihat matahari sudah sangat terik. Bocah itu menyadari kalau tangan nya masih terikat saat ini.


Kemudian Dion melayangkan pandangan nya ke sekitar. Dan ia mendapati kalau ia saat ini berada di dalam sebuah tenda luas. Seorang penjaga berbaju zirah menodongkan ujung runcing tombak ke arah nya.


"Diam saja di tempat mu berada, Bocah! Kau jelas tak ingin aku melukai mu dengan tombak ini, bukan?" Ancam lelaki berbaju zirah tersebut.


Dion tak menyahut. Namun ia juga tak memiliki daya untuk bangkit melarikan diri. Benak nya langsung teringat pada kondisi Papa nya saat ini. Seketika, kedua matanya pun menggenang kembali.


"Papa.." lirih Dion dengan kepala tertunduk.


Betapa nestapa nasib bocah lelaki itu. Di saat usia nya baru menginjak lima tahun, ia diculik dan dibawa dari bumi ke dunia lain, persis nya adalah ke kerajaan Goluth.


Selama beberapa tahun Dion ditahan di atas menara tinggi di kerajaan Goluth oleh penguasa tiran tersebut. Darah Dion lalu sering diambil, entah untuk alasan apa yang tak ia ketahui.


Dion hanya tahu kalau setiap dua kali dalam seminggu ia pasti akan disuntik dan diambil darah nya oleh orang-orang tersebut.


Beberapa tahun setelah disekap dan berhasil melarikan diri hingga bertemu kembali dengan Papa nya, Yan Chen, barulah Dion menyadari alasan nya ia ditangkap oleh orang jahat tersebut.


Ternyata dia adalah seorang Golden Boy. Di mana darah nya memiliki keistimewaan mirip seperti keistimewaan darah seekor naga.


Selanjut nya bersama dengan Paoa Yan Chen dan juga ibu sambung nya, Mama Anna, Dion pergi ke dunia yang lain lagi, yakni Dunia tempat nya berada saat ini, Dunia para pengendali naga.


Menurut papa nya, terdapat sebuah pusaka naga yang bisa membantu Dion bertahan sebagai seorang Golen Boy.


Tapi di pertengahan jalan ia malah diculik kembali. Hingga ia tiba di Dream Land. Dari Dream Land, ia dijanjikan oleh Paman Zacko untuk bertemu kembali dengan Papa nya, sehingga akhirnya ia pun tiba di tempat nya saat ini.


Kini, Papa nya telah tiada. Apa lagi tujuan hidup Dion nantinya? Bocah itu sungguh merasa sedih sekaligus juga bingung.


Tiba-tiba saja Dion teringat sesuatu.


"Mama Anna! Di mana Mama Anna sekarang? Aku tak melihat nya bersama dengan Papa di lapangan itu?" Gumam Diom dengan suara sangat pelan.


Penjaga yang menjaga Dion mengabaikan monolog Dion yang didengar nya. Pikir nya, Dion jelas tak akan memiliki nyali untuk melarikan diri lagi.


***


Sekitar setengah jam kemudian, sebuah kejadian magis tiba-tiba saja terjadi.


Dion melihat kain tenda yang berada di belakang penjaga berbaju zirah itu tiba-tiba seperti bergelombang. Ini bukan gelombang karena tersibak oleh angin. Bukan seperti itu!


Melainkan materi nya seperti bergelombang, persis seperti yang pernah dilihat Dion saat ia menyaksikan kejadian magis ini pertama kali nya di gua sempit milik kelompok Exzacta yang dipimpin oleh Bolum.


'Ram! Apa itu sungguhan Ram?!' pekik Dion penuh harap sambil melihat riakan di dinding tenda tersebut.


Sang penjaga menyadari euforia di kedua mata Dion. Sehingga ia pun tergerak untuk ikut melihat ke belakang. Hal ini membuat Dion menyesal karena ia telah membuat penjaga tersebut menoleh.


Tapi syukurlah, belum sempat penjaga itu menoleh, saat sebuah lubang magis tiba-tiba saja muncul di dinding tenda tersebut. Dan dari dalam lubang gelap tersebut, muncul seseorang yang sama sekali tak Dion duga.


"Blaze!" Seru Dion memekik.


Blaze tak menbalas seruan Dion. Dia langsung menyerang penjaga berbaju zirah yang menjaga Dion. Dan dalam beberapa perlawanan saja, penjaga zirah tersebut pun akhirnya tumbang di tempat. Kemungkinan besar ia telah pingsan.


Ya. Setelah Blaze menumbangkan penjaga yang menahan Dion, Dion pun sempat melihat wajah Ram yang menunggu dari dalam lubang hitam (dimensi gelap). Di dekat Ram, tampak pula wajah Anna yang memandang cemas ke arah Dion.


Tanpa menunggu Blaze, Mama Anna langsung keluar dari lubang di dinding tenda tersebut. Lalu mendekati Dion. Begitu sudah berada di hadapan anak sambung nya itu, Anna langsung saja memeluk erat Dion.


"Syukurlah, Diy.. kamu baik-baik saja!" Seru Anna dengan kelegaan yang terdengar jelas dalam suara nya.


Mata Dion pun seketika mengembun lagi.


"Tapi Papa, Ma.. Papa.." Dion mencoba memberitahu Anna tentang kondisi Papa nya saat ini.


Rahang Anna tiba-tiba mengeras. Wanita itu pun sudah melihat sendiri kondisi suami nya yang ia temukan tergeletak tak bergerak di sebuah dataran sepi. Bersama dengan tubuh-tubuh para pengendali naga lain nya yang kebanyakan telah terbujur kaku dan mati.


"Kita akan bicarakan itu nanti. Sekarang, kita harus pergi dulu dari tempat ini!" Sahut Anna dengan nada mendesak.


"Dion! Ayo cepat pergi!" Ajak Blaze juga.


Gadis tersebut lalu melepaskan ikatan tali perak yang mengikat kedua tangan Dion. Selanjutnya, ketiga orang itu pun mendekati lubang tempat Ram masih menunggu dengan wajah cemas.


"Bergegaslah kalian! Aku mendengar suara orang datang mendekat ke tempat ini!" Ujar Ram pula dengan nada panik.


Tanpa banyak kata, Dion mengikuti langkah Blaze di depan nya. Sementara Anna mengikuti Dion dari belakang.


Akan tetapi, sebuah hardikan mengejutkan rombongan Dion.


"Berhenti di sana! Jangan lari! Atau kau akan ku bunuh di tempat!" Hardik suara itu.


Dion sempat menoleh, dan jantung nya seketika berpacu lebih cepat saat ia melihat Ah Roo, lelaki yang sudah menangkap nya ke tempat ini.


Tanpa membuang waktu, Dion langsung mempercepat langkah nya hingga ia berhasil memasuki dimensi gelap milik Ram. Namun saat ia menoleh, ia terkejut karena Anna tak berada di belakang nya.


Begitu Dion melihat kembali menembus lubang gelap ke dalam tenda, ia dibuat cemas karena ternyata saat ini Anna sedang bertarung dengan Ah Roo.


"Mama!" Pekik Dion mencemaskan ibu sambung nya itu.


"Pergilah Diy! Pergilah sekarang juga!" Teriak Anna di sela-sela kesibukan nya menangkis serangan pedang dari Ah Roo.


"Enggak! Dion gak akan ninggalin Mama!" Tolak Dion yang langsung hendak berlari kembali menuju lubang hitam tersebut.


"Dion! Jangan gila deh! Kamu bisa ditangkap lagi nanti sama mereka!" Larang Blaze dengan emosi tinggi.


"Tapi Mama ku dalam bahaya, Blaze!" Jawab Dion dengan panik.


"Kamu tunggu di sini, oke. Biar aku yang ke sana! Ram! Tahan Dion di sini!" Titah Blaze kepada Ram.


"Cepat lah Blaze! Aku tak bisa menahan portal ini terbuka lama-lama," komentar Ram dengan kecemasan yang sama kuat nya.


Blaze mengangguk singkat. Sebelum akhirnya kembali melewati pintu portal yang menghubungkan antara dimensi gelap dengan ruang dalam tenda di seberang nya itu.


***