
Dalam buku disebutkan,
'Penyihir harus mengarahkan sihir nya tepat ke mengenai jembatan varol. Jembatan varol adalah bagian penghubung dalam otak manusia yang menghubungkan antara otak kecil kanan dan juga kiri.
Untuk menyembuhkan penderita kutukan Dingin, maka sang penyihir harua mengirimkan jalinan sihir secara tepat dan kontinyu (terus menerus) selama sepuluh menit. Di mana jalinan sihir nya itu tak boleh mengenai Medulla oblongata.
Medulla oblongata adalah bagian otak yang dibentuk oleh sumsum tulang belakang bagian atas. Letak Medulla oblongata sendiri berdempetan dengan jembatan varol. Karena itulah penggunaan sihir harus stabil dan tak boleh mengenai sedikit saja bagian dari medulla oblongata ini.'
Dion ikut membaca buku tua di tangan Ram itu dengan serius. Kepada Ram kemudian ia bertanya,
"Di buku ini sihir tertulis seperti sesuatu yang bisa dikendalikan. Memang nya seperti itu, Ram?" Tanya Dion.
"Tentu saja, Kak! Aku pun setiap kali menggunakan sihir maka perlu berkonsentrasi se fokus mungkin. Jika aku tak fokus, maka aku tak mungkin bisa membukan portal ke dimensi gelap," jawab Ram menjelaskan.
"Lalu, bagaimana dengan teknik penggunaan sihir yang tertulis di sini. Apa menurut mu kau bisa melakukan nya, Ram?" Tanya dion kembali penuh harap.
"Soal itu.. aku sulit mengerti penjelasan nya, Kak Dion. Maaf.. aku tak tahu, apa itu jembatan varol dan medusa bolongata?" Ram mengaku.
"Medulla oblongata, Ram! Bukan Medusa bolongata!" Koreksi Rim seketika.
"Eh? Iya kah? Maaf. Aku lupa nama nya. Yang pasti, mengingat namanya saja sudah susah. Apalagi untuk mengenali wujud asli nya. Maaf ya Kak Diy. Aku gak berani coba melakukan nya. Lagipula, kalau aku nekat melakukan nya, risiko nya juga fatal kan?" Imbuh Ram kemudian.
Telunjuk Ram lalu mengarah ke sebuah paragraf di dalam buku.
'Sedikit saja sihir mengenai Medulla Oblongata. Maka akan membuat kerusakan permanen pada bagian otak tersebut. Di mana penderita nya dapat meninggal seketika. Karena fungsi dari Medula oblongata sendiri adalah untuk menjalankan sistem pernapasan, pencernaan, detak jantung dan aktivitas menelan.'
Membaca paragraf itu, seketika Dion pun lemas dibuat nya.
"Lalu bagaimana dengan Mama? Apa yang harus ku lakukan untuk menolong Mama?" Tanya Dion entah pada siapa.
"Kita harus mencari seorang penyihir hebat yang juga ahli di dunia kedokteran. Dulu sekali, aku pernah mengenal salah satu nya. Dia bernama Rudolf. Tapi tak tahu bagaimana dengan nya saat ini. Mungkin dia juga sudah tiada seperti ku," ujar Rim tiba-tiba.
Perkataan Rim itu jelas membuat nya menerima pandangan aneh dari Ram dan juga Dion. Blaze sendiri tak ada di sana. Ia sudah kembali ke kamar nya di mansion.
"Rim.. kenapa kamu bilang dirimu sendiri sudah tiada? Seolah-olah kamu pernah mati saja," komentar Ram pada akhirnya.
Rim lama tak menjawab pertanyaan kembaran nya itu. Ia hanya menatap Ram lama, sebelum akhirnya ia berkata.
"Ram.. ketahui lah. Sebenarnya, saudara mu Rim sudah sejak beberapa tahun yang lalu meninggal dunia," ungkap Rim dengan pandangan kukuh.
"Apa?!" Pekik Ram tak percaya.
"Tapi kan. Kau ada di sini Rim? Kamu Rim kan? Jangan bilang kamu itu hantu!" Tuding Ram sambil tertawa hambar.
"Hh.. kalian mungkin akan sulit mempercayai ini. Tapi ketahui lah. Jiwa yang sedang menempati tubuh Rim yang kalian lihat saat ini adalah jiwa lain dari Rim itu sendiri," ungkap Rim lebih lanjut.
Melihat raut tak mengerti di wajah Ram dan juga Dion, Rim kembali melanjutkan penjelasan nya.
"Nama ku yang sebenarnya adalah Boba. Aku adalah seorang alchemist di Dunia sihir. Suatu kali aku melakukan sebuah percobaan yang ternyata malah membuat ku mati. Sampai kemudian aku tiba-tiba terbangun kembali dalam tubuh anak bernama Rim ini. Rim pun ternyata memiliki pengalaman yang serupa dengan ku."
Keheningan cukup lama mengisi suasana di gubuk kecil Rim itu. Sampai kemudian Dion lah yang memecahkan keheningan yang terasa aneh itu.
"Jadi, Anda ini adalah jiwa bebas bernama Boba yang kebetulan menempati tubuh Rim. Tapi, lalu di mana jiwa Rim sebenar nya?" Tanya Dion kemudian.
Ram masih menatap bingung ke arah Rim. Sedari tadi ia hanya terfokus pada kalimat Rim yang mengatakan kalau saudara nya itu sebenar nya sudah mati.
"Aku sendiri tak tahu, Dion. Bahkan penyebab kenapa aku bisa menempati tubuh ini pun aku juga tak tahu," jawab Rim dengan ekspresi menyesal.
Suasana kembali hening.
Sampai akhirnya terdengar suara terisak dari Ram yang tiba-tiba saja memeluk Rim dengan sangat erat.
"Rim.. kamu tetap Rim saudara ku kan? Jangan bilang kamu sudah mati lagi ya, Rim. Itu membuat ku sangat sedih," Ujar Ram dengan mata berurai tangis.
Rim menghela napas letih. Ia tahu. Seharusnya ia tak mengatakan identitas asli nya kepada anak-anak ini. Karena pasti seperti ini lah hasil yang akan di dapat oleh nya.
"Ya.. ya.. aku tetap Rim, saudara mu, Ram. Sudah. Jangan menangis lagi. Oke? Aku masih ada di sini kan?" Ucap Rim menghibur.
Perlahan Ram kembali tenang. Sementara Dion menatap Rim dengan pandangan yang berbeda.
'Pantas saja dia terlihat lebih dewasa dari anak-anak lain yang se usia dengan nya. Ternyata begitu ya.. hmm.. aku ingat. Di Nevarest pun sepertinya aku pernah mendengar cerita tentang jiwa yang tertukar ini. Kalau tak salah, salah satu penjaga dari ratu Charrine yang bernama Aro pernah mengalami jiwanya tertukar. Dia mengaku sebagai orang lain yang asal nya dari bumi,' gumam Dion dalam hati.
(Baca cerita Aro di novel Mel lain nya yang berjudul "Meretas Rasa")
"Jadi, sekarang kita harus mencari penyihir yang juga merangkap sebagai ahli pengobatan hebat? Di mana aku bisa menemukan penyihir seperti itu?" Tanya Dion dalam bentuk gumaman.
"Di Arkadia. Di sana ada banyak penyihir yang juga merangkap sebagai dokter," jawab Rim seketika.
"Arkadia? Ada di mana itu?" Tanya Dion penuh harap.
"Sayang nya, kota Arkadia terletak di dunia tempat jiwa ku berasal. Itu adalah salah satu kota terbesar di Dunia Magis," jelas Rim.
"Apa? Lalu, bagaimana cara nya kita pergi ke sana?" Tanya Dion seketika putus asa.
"Maaf. Untuk itu aku tak tahu.."
Kembali hening sejenak.
"Tapi, salah seorang kenalan ku yang bernama Rudolf, dia juga seorang tabib hebat, mengaku kalau dia sebenarnya berasal dari dunia lain selain Dunia Magis. Katanya dia datang ke Dunia Magis melalui sebuah pintu ajaib. Aku mula nya tak percaya dengan apa yang ia katakan. Tapi setelah ia menunjukkan kekuatan magis yang diberinya nama inner power. Dan memang itu sangat berbeda dari sihir yang ada di dunia Magis, barulah aku mulai mempercayai nya," lanjut Rim menjelaskan.
"Tunggu dulu! Apa katamu tadi, Rim? Pintu ajaib?" Tanya Dion tiba-tiba.
Untuk sesaat saja, ia jadi teringat dengan pintu ajaib yang ia lewati bersama dengan Yan Chen dan juga Anna untuk menuju ke dunia Pengendali Naga ini.
'Apa jangan-jangan pintu ajaib yang dimaksud itu adalah pintu yang sama seperti yang ku lewati bersama Papa dan juga Mama?' benak Dion berpikir cepat.
***