
Setelah Cukup jauh berjalan menyusuri hutan , Kasai mulai merasakan sakit yang semula ia rasakan di istana. Tusukan Jarum beracun tadi sudah mulai bereaksi ditubuh kekarnya.
Kasai meringis kesakitan sebab luka sebelumnya pun belum sepenuhnya sembuh total.
"Arrgghhhhhhhh....." teriakannya mampu membuyarkan keheningan hutan
Pandangannya pun melayang-layang dan perlahan mulai menghitam. Tubuh Kasai terputar merasakan rotasi bumi . Kesadaran yang perlahan menghilang , mampu menjatuhkan Kasai dari pendiriannya kehamparan tanah yang dilapisi rerumputan dan dikelilingi banyaknya pepohonan yang rimbun.
***
Raja Tsumetaidesu mengelilingi dan memantau seluruh istana dengan teliti , berharap jejak musuh bisa diketahui dan secepatnya akan diberitahu pada Kasai.
"Ayah....kenapa ayah membiarkan Kasai pergi begitu saja..dia bahkan belum menjalani perawatan yang maksimal ...bahkan ia juga belum makan" teriak putri Nami dari belakang
" Dimana sopan santunmu?" jawab Raja dengan intens dan hanya menoleh lewat bahu saja
Putri Nami semakin menggeram kesal dengan tingkah sang Ayah yang selalu berubah , kadang menjadi seorang ayah yang penyayang dan kadang menjadi sesosok Raja yang tegas dan bijak.
"Aku tidak punya sopan santun lagi! . melihat perilaku ayah yang penuh ketegasan selalu saja tidak memikirkan keselamatan setiap orang. Apakah itu yang dinamakan Raja yang bijaksana?"
"Cukup!!!"
Raja berbalik dan menatap putrinya dengan sendu.
"Maaf...kali ini perasaan Ayah sedang hancur dan pikiranku sedang kacau...aku bingung harus berbuat apa untuk keselamatan kerajaan , keselamatan keluargaku , keselamatan kejutan yang baru saja terjadi.
Ayah hancur...." ucapnya dengan berlinang air mata
Putri Nami merasa bersalah atas tingkahnya yang masih saja memikirkan lelaki yang yang amat ia cintai dibanding sang ayah maupun keluarganya yang sedang dalam jalur merah.
"A-yah...maaf. Aku terlalu panik"
Raja hanya tersenyum tulus dan memeluk putrinya dalam dekapan yang hangat.
"jadi, tolong . Kita sekeluarga harus saling mengerti"
"Baik Ayah..."
Disisi lain , Kemuri mencari dan seseorang yang ada dipikirannya. Ia juga sering menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
Hikss...dimana dia?. batinnya
Mata yang menerawang seluruh ruangan berharap yang ada dipikirannya pun muncul dihadapannya.
"Eh..itu seperti putri Nami?" tanya kemuri dalam hatinya
Ia segera berlari dan menghampiri sosok wanita yang dilihatnya tadi.
"Putri Nami..." sambutnya dengan membungkukan badan seraya memberi hormat
Putri Nami membalas hormat dari Kemuri dengan cara yang sama
" Kemuri...bukankah kuperintahkan padamu untuk menjaga adikku?" tanyanya panik
" Ouh...dia sedang dalam pengawasan Ratu. Putri...aku ingin bertemu Raja. Dimana keberadaanya saat ini?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin mohon izin untuk keluar istana...aku ingin mengawasi Adikku yang sedang terluka parah saat ini. Jika terlalu dipaksakan maka akan membahayakan nyawanya"
"Ada dihalaman belakang kerajaan"
"Baik. Terima kasih" ucapnya dengan kembali memberi hormat
Setelah membalas hormat yang diberikan kemuri, Putri Nami sempat berpikir sejenak.
"eh..aku ikut" teriaknya sembari mengejar Kemuri
Mereka pun berjalan beriringan mencari Raja
"Apa kau ingin ikut?" tanya Kemuri disela-sela melangkahkan kakinya
"Ya...aku khawatir dengan keadaan Kasai"
"Ummm...jika Ayahmu mengizinkan"
Setelah berjalan cukup lama, Akhirnya mereka menemukan Raja yang sedang duduk termenung menatap hamparan Prajurit yang masih belum sadarkan diri.
"Raja..." ucap kemuri sembari memberi hormat
" Aku mohon Izin untuk keluar dari istana. Aku ingin mencari Kasai sebab kondisinya saat ini sangat mengkhawatirkan. Luka yang dialami sebelumnya belum sembuh total. Jika tak segera ditangani maka akan membahayakan nyawanya"
"Baik...pergilah " jawab Raja yang langsung memberikan izin
Setelah mendapat Izin , Kemuri beranjak dari duduknya yang sebelumnya berlutut memberi hormat penuh dan perlahan meninggalkannya.
" A-yah...aku ingin ikut" pinta putri Nami
"Sebelumnya , aku menyuruhmu untuk menjaga putri Hikari" jawab sang ayah
"Ayah...Putri Hikari sudah besar. Dia sudah tumbuh sempurna sebelum diturunkan ke bumi. Dia hanya beda setahun dengaku. Aku rasa dia pandai menjaga diri hanya saja dia belum sadarkam diri. Jadi, aku mohon Izin pada Ayah ... berikan aku kesempatan untuk membalas kebaikan dari dua saudara itu ayah. Aku ingin membantu mereka."
Setelah mendapat penjelasan rinci dari sang putri membuat Raja sadar akan perlunya membalas kebaikan dari mereka.
" Baiklah...tapi jaga dirimu baik-baik"
"B-enarkah? terima kasih Ayah"
Putri Nami langsung mengejar sosok Kemuri yang belum lama meninggalkannya.
"Kemuri!!!" teriak Putri Nami sembari berlari dengan membawa beberapa kain yang berisi beberapa peralatan medis.
Di Akademi Khusus Putri , Para Putri kerajaan maupun kalangan biasa semua mempelajari teknik medis secara mendalam sesuai tingkatan umur mereka masing-masing.
" Aku akan ikut bersamamu" ucapnya dengan ceria
" Baguslah...kalau begitu ayo... langkah kita dipercepat agar sampai dengan tepat waktu" ajak Kemuri yang mulai bersemangat
Mereka Berlari dengan cepat meninggalkan Pintu gerbang utama Negara Chikyu dan menyusuri hutan yang penuh dengan musuh tersembunyi.
"Putri Nami...AWASSS!!!" teriak Kemuri yang Mendorong tubuhnya menjauh dari perangkap musuh yang tersembunyi
"Auuuhhhh" teriak putri Nami kesakitan sebab kakinya tergelincir ke tanah
Sedangkan Kemuri berteriak histeris, separuh tangannya masuk dalam perangkap . Darah merah segar terhempas kesana-kemari
Luka yang dialaminya tertusuk cukup dalam . Namun Kemuri sempat tersenyum tipis.
jadi, ini yang kamu rasakan selama ini Kasai?!. SAKIT. batin Kemuri
Ia mulai bangkit dari terpentalnya yang cukup jauh. Berdiri lagi dan berjalan menghampiri putri Nami yang kesakitan , walau separuh tangannya masih mengeluarkan darah yang cukup banyak.
" Kau tidak apa-apa?" tanya kemuri yang menjeda kalimantnya
" Ah kamu keseleo , sebentar ya...cukup tahan sekuat mungkin . Bila kamu merasa tidak kuat atau kesakitan cukup remas tangan tubuhku saja " lanjutnya
Tangan kanan Kemuri masih bisa digerakkan seperti biasa sebab yang terkena perangkap adalah setengah dari tangan kirinya.
Kemuri mulai menggerakan kaki Putri Nami melawan arah sakitnya. Teriakan histerisnya mampu membuyarkan lamunan para penghuni hutan. Jemari putri Nami mulai meremas tangan Kanan Kemuri sekuat mungkin .
"Aaaaaaaaaaarrrggghhhhh"
"Sudah..."
Putri Nami mulai menggerakkan kakinya dan merasa nyaman sebab sakit yang dirasanya dalam sekejap menghilang. Namun Matanya sempat menangkap lengan Kemuri yang masih berbanjir darah.
"apa ini??Luka??? tanganmu mengeluarkan darah cukup banyak" ucap Putri Nami khawatir
"Ahh...tidak apa-apa" jawab Kemuri dengan santai berusaha menutupi rasa sakitnya
"Biar aku obati "
Dengan segera mungkin ia mengambil kain yang dibungkusnya . Peralatan medis yang dibawanya cukup lengkap. Jadi, dengan mudah ia mengobati luka Kemuri.
"Selesai "
"Terima Kasih "
Mereka mulai melanjutkan perjalanannya yang cukup jauh. Menempuh beberapa bukit , lembah dan gunung yang menjulang tinggi.
Berusaha mendaki dengan beberapa pegangan pada pepohonan yang tersedia memang cukup melelahkan.
jadi, ini yang dialaminya selama beberapa tahun terakhir ini?. batin kemuri
Kemuri sibuk memikirkan apa yang telah dilalui sang adik. Berbagai lika-liku kehidupan yang ia lewati sendiri tanpa mengharapkan belas kasih setiap orang. Mandiri dan Bijak adalah karakter yang selalu dipegang teguh olehnya.
Beberapa lama kemudian , putri nami melihat sosok lelaki bermantel hitam tergeletak ditanah .