Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
Bab 8 : Perasaan Tak Terduga



Badan yang kaku mulai menggerakkan sedikit dan aliran darah mulai berjalan normal. Mata yang terpejam cukup lama berusaha terbuka walau sedikit .Suasana yang buram dan pendengaran yang kacau tak mengerti dengan apa yang terjadi .


**ada apa ini**?. batinnya


Setelah menyelaraskan aliran darah yang semula kaku , tubuhnya perlahan bergerak dengan mata yang berusaha menerawang seluruh isi ruangan walau nampak buram baginya.


Manshion Putri Nami dimana tempat beristirahat dan penjagaan Putri Hikari ambruk tak karuan.


Barang-barang terhempas kesana-kemari separuh diantaranya pecah berserakan.


Dari sudut lantai Putri Nami menempatkan Putri Hikari dalam pangkuannya walau badan yang terhempas cukup jauh tepat pada dinding yang berbentuk siku 90°.


Didepan Putri Nami terdapat sosok lelaki berjubah hitam memegang pedang dan menunjukkan kearah musuh. Bercak darah dipakaiannya tak kunjung kering. Darah terhempas menodai dinding dan lantaibManshion Putri Nami.


Kegugupan dan Ketakutan putri Nami melihat kejadian itu mampu membuat tubuhnya bergetar habis, meski disisi lain ia harus tetap sadar akan tugas yang diberikan oleh sang Ayah.


"Beraninya Kau mendekati dia! Jika maju selangkah lagi , maka maut akan menjemputmu!" Bentak lelaki berjubah hitam yang tengah melindungi Kedua Putri itu.


"Heiii...berhentilah...aku tak mau bermain-main denganmu Bocah! Minggir!!! tujuanku bukan dirimu!!" bentak seseorang dari balik topeng


"Baiklah...tapi jika kau berurusan dengan Putri maka kau sama saja mencari MATI!"


Tak membutuhkan waktu yang lama , lelaki itu maju dengan gerakan kilat dan langsung berdiri dibelakang musuh menempatkan pedang yang dimilikinya tepat dileher sasaran.


Wajah yang semula tak nampak akibat ditutupi jaket mantel hitamnya mulai menampakan wajahnya jika berada dibelakang musuh.


Lelaki muda itu dengan cepat menggesekkan pedangnya pada leher musuh . Darah yang berjatuhan dan terhempas hingga disudut ruangan tampak seperti badai merah segar.


Disisi lain tak ia sadari bahwa setusuk jarum besar beracun tepat menusuk arah uluh hati pemuda itu.


"Arrrggghhhh" teriaknya histeris ketika merasakan tusukan yang menyakitkan


Tubuh yang semula penuh luka dan lemah kini bertambah lagi dengan tusukan mematikan oleh jarum yang semula di beri racun.


Disela-sela leher yang putus akibat gesekan pedang yang cukup dalam dan mengeluarkan darah hingga organ tubuh mulai nampak terdengar suara yang berusaha keluar.


"Kkaauu aakkann ddatanggg ppadannya" pita suara dan tenggorokan yang mulai putus berusaha untuk tetap berbicara menyampaikan pesan terakhir


Putri Nami tak tahan melihat suasana itu , Ia berteriak sekencang mungkin melepaskan apa yang ia rasakan saat ini.


Jasad musuh terselimut darah kental merah yang segar jatuh kelantai dan berubah menjadi asap merah kemudian menghilang dalam sekejap meninggkalkan bercakan darah disetiap sisi ruangan.


Lelaki muda itu menempatkan kembali pedangnya pada belakang pundaknya.


Tatapan sendu melihat gadis malang yang harus menyaksikan pembunuhan itu cukup menyakitkan namun suasana mulai kembali seperti semula meskipun beberapa jejak masih tertinggal.


Putri Nami yang berusaha untuk diam, menatap sosok lelaki muda yang ada didepannya.


Kedua insan pun bertatapan cukup jauh dengan jarak 1 meter.


*Dia melindungiku??? setelah kian lama berpisah , akhirnya aku bisa menatapmu lagi*. batin putri Nami


Sosok pemuda itu adalah Kasai. Ia yang semula terbaring lemah diruangan pengobatan kerajaan memaksakan diri untuk melindunginya agar tak terjadi apa-apa padanya.


Setelah melewati beberapa fase belajar bela diri dan ilmu pedang ia dianugrahi bisa membaca pikiran atau kata hati setiap orang yang berada didekatnya apa lagi ada hubungan dekat diantara mereka.


*Sial...dia mengetahuinya*. batin Kasai


Tubuh Kemuri mulai bisa dikendalikan dan berusaha untuk bangkit setelah tak sadarkan diri cukup lama.


"Aapa yang terjadii??" tanya Kemuri


"Sialll...disaat seperti ini kenapa kau malah tidur Hah?!.... apa kau ingat tugas yang ayah berikan...kau benar-benar mengecewakanku kak!!!" jawab Kasai penuh emosi dan berusaha mengendalikan suasana agar putri Nami tak baper melihatnya yang berusaha melindunginya mati-matian


"Aaku tidak tahu...setelah mencium asap yang memenuhi ruangan ...aku jatuh tak sadarkan diri" Kemuri berusaha menjelakan apa yang ia rasakan sembari memegang kepala yang masih terasa sakit akibat benturan keras ketika jatuh pada lantai Kerajaan


Setelah mendegar penjelasan dari sang Kakak tak mampu membuat dirinya tenang sebab wanita yang selalu ada didekatnya pada masa kecil berada dalam bahaya.


" Cukupp!!...jangan berbohong padaku!!!..jika memang kau pingsan akibat mencium aroma asap itu mengapa tidak dengan dia hah?" bentak kasa penuh pertanyaan


"Aaakkuu...mmeennciiummnyya jugaa tetapi...aku berusaha untuk tetap sadar sebab Ayah memberiku tugas yang penting untk menjaga putri Nami...jika aku pingsan maka tujuan musuh akan tercapai" jawab putri Nami dengan penuh kegugupan yang luar biasa, jantung berdetak bagitu cepat membuat dirinya tak sanggup untu menarik nafas


Kasai mendengar suara itu membuat dirinya teringat kembali tentang masa lalu yang ia hadapi bersama Putri Nami.


"*Dasaarr tomat"


" heii jangan menganggunya!"


" Apa kau bocah...jangan sok jadi pahlawan jika dipukul saja langsung menangis"


" Hahahahah"


"Arrgghhhh"


"Berhentiii...Ikut Aku ,akan ku beritahu Tabib kerajaan untuk mengobati lukamu"


" Jangan mengelak..ayoo cepat*"


Ingatan bagai kaset rusak terbayang olehnya ketika di usia yang ke 7 tahun , ia berusaha melindungi Putri Nami dari gangguan teman-temannya walaupun wajah putri Nami memerah akibat ulahnya .


Jadi, Wajah Putri Nami ketika merasa malu dan gugup dan berada didekat tubuh Kasai akan berubah menjadi warna merah tomat yang masak.


"Kasai!!!" suara Kemuri yang memecahkan ingatan Kasai pada masa lalunya


"Kau percaya padaku kan?" lanjutnya


"Entahlah!!!" sahut Kasai yang mulai mendingin dan pergi meninggalkan keduanya


*Dia pergi lagi??? aku harus mengejarnya dan meminta maaf atas kejadian yang pernah terjadi dahulu*. batin Putri Nami


Ia mulai beranjak dari duduknya dan menempatkan Putri Hikari yang terbujur lemah pada dinginnya lantai Kerajaan dan berlari mengejar sosok lelakk yang selama ini ia nanti-nantikan.


Tepat berdiri dibelakang pemuda itu , Putri Nami berusaha menghentikan langkahnya.


"Kkasaii...tungguu" teriak Putri Nami


Mendengar suara yang amat ia rindukan pun mampu menghentikan langkahnya dan menoleh sebatas bahunya saja.


"Ada apa?"


"Aakuu minta maaf...atas kejadian itu"


"Sudahlah tak perlu dibahas lagi!"


"Kau marah?"


Kasai berusaha menghindari Putri Nami dengan pergi meninggalkannya yang masih bertanya tentang dirinya.


Disetiap langkahnya bayangan bagai kaset rusak terus menghantuinya.


**10 tahun yang lalu, Kasai ditugaskan oleh sang Ayah untuk terus melindungi putri Nami hingga saat ini . Namun karena keserakahan Raja Tsumetaidesu , ia berusaha mengambil alih wilayah yang dimiliki oleh Raja Nozu dengan memanfaatkan Sang anak untuk dijodohkan diusia dini. Putri Nami dan Putri Hikari telah bertunangan pada masa itu namun karena cepat mengetahui tujuan buruk dari sang Ayah, Raja Nazo pun tak segan melawan atas tindakan jahatnya.


Raja Tsumetaidesu memulai peperangan untuk mendapatkan wilayah yang dimiliki oleh Raja Nazo . Tetapi karena saat itu ia belum menguasai Teknik andalannya membuat Raja Nazo kalah telat.


Wilayah Nazo akhirnya dikuasai oleh Raja Tsumetaidesu.


Kasai marah besar pada keluarga Putri nami yang selama ini dimanfaatkan oleh sahabantnya sendiri.


Dahulu Kasai mati-matian melindungi Putri Nami akibat perintah sang Ayah kini mulai menjadi dendam yang tak kunjung sirnah.


Air susu dibalas dengan air tuba.


Kasai dengan janji dihatinya berusaha untuk membunuh orang yang telah merusak kebahagiaan Kerajaan Nazo.


Namun disisi lain, Setelah mendapat wilayah kerajaan Nazo , Raja Tsumetaidesu tak membiarkan Pemimpin dari kerajaan yang dirampasnya terlantar dengan sendirinya. Ia tetap memanfaatkan jasa dari Kerajaan itu sebagai Pelindung untuknya dan memberikan upah yang semestinya**.


"Kasaiii!!!" teriakan dari belakang yang membuyarkan lamunannya


Langkah kakinya pun terhenti dan kembali menoleh sebatas bahu.


"Kau mau kemana?" tanya Kemuri yang tengah menggendong Putri Hikari karena tak mungkin ia tinggalkan sendiri didalam ruangan


"Pergi melanjutkan Misi yang diberikan Raja Tsumetaidesu"


"Kenapa??? kau seharusnya beristirahat dulu..." teriak Putri Nami yang posisinya berada disamping Kemuri


"Tidak perlu...bagiku misi lebih penting"


"Kasai..jangan keras kepala!!!" teriak Kemuri


"Aku tidak peduli...sebab disini aku merasa tidak nyaman"


Kasai pun melanjutkan langkahnya meninggalkan Kerajaan yang saat ini masih


dalam kondisi memprihatinkan akibat serangan dadakan dari musuh. Namun Kasai berhasil melindungi semuanya termasuk Putri Nami dan Putri Hikari.


Saat tiba didepan Gerbang Utama Negara Chikyu tiba-tiba seseorang memanggilnya.


" Kasai!!!" panggilanya


"Terima Kasih telah melindungi Kerajaanku" lanjutnya


" Itu sudah tugasku..." jawab Kasai dengan datar


"Aku akan melanjutkan misi yang kau berikan tapi kau harus melindungi Kerajaanmu dengan sendiri" lanjutnya


"Baik"


Kasai pun Melangkahkan Kakinya keluar dari gerbang Negara Chikyu yang keadaan Para prajurinya masih terlelap tak sadarkan diri akibat asap yang menyelimuti Kerajaan.