
Bel istirahat berbunyi membuat senyuman cerah di wajahmu yang masam karena pelajaran yang membosankan. Tidak terkecuali kelas 11 IPA 3. Mereka pun langsung mengemasi barang-barang sebelum keluar kelas. Kalau tidak di kemas, jangan salahkan saat sampai ke kelas, barang itu sudah tidak ada.
"Lo mau ikut sama gue atau sama Elang?"
Elaina menatap Echa yang baru saja datang. Kini cewek itu berdiri di samping mejanya. Ia menatap Elang. Elang kan sudah berjanji kalau akan mengajarkan cara memainkan ponsel, masa Elaina sih, yang malah istirahat bareng Echa.
"Mmm... cha. Nanti aja deh kayaknya. Soalnya gue ada urusan sama Elang."
"Its okay. Kalau Elang ngapa-ngapain bilang aja ya." Echa melayangkan tatapan permusuhan dengan Elang.
"Ada juga lo yang ngapa-ngapain El."
"Dih, apaan sih. Lo adanya juga. Lo kan cowok."
"Ya terus kalo gue cowok kenapa?"
"Dih, sok polos."
"Sok polos apaan dih."
"Udahlah, intinya kalau Elang ngapa-ngapain lo, bilang aja gue, gue juga ada di kantin kok. Gue duluan ya."
Elaina tersenyum membalas ucapan Echa. Echa itu teman yang baik. Ia bisa melihat dari cara dan tatapan cewek itu kalau ia tidak akan mengambil keuntungan dekat dengan Elaina.
"Yuk."
"Temen lo yang berdua itu mana?" Tanya Elaina karena biasanya Elang pergi ke kantin bersama dengan dua temannya itu.
"Mereka udah duluan. Gue yang bilang kalau gue nggak bareng dulu."
"Kenapa memangnya?"
"Kan gue mau ngajarin lo main HP." Ucap Elang.
"Ya tapi nggak ngomong nggak bareng juga."
"Emang lo mau di kantin nya bareng sama temen-temen gue? Cowok semua."
Elaina terlihat ragu. Tapi ia juga tidak mau hanya karena dirinya Elang harus seperti ini.
"Udahlah, lagipula gue juga udah ngomong. Jadi nggak perlu di perpanjang. Yuk, lo mau dimana?"
"Dimana aja."
"Kalo di kantin gue takutnya nggak fokus soalnya berisik juga. Di taman sekolah aja gimana?" Tawar Elang yang di angguki oleh Elaina. Elaina pernah lewat ke taman sekolah. Tempatnya tenang, ia suka. Mengingatkan ya dengan taman bunga milik Edrea. Tuh kan, ia jadi ingat Klan Bulan lagi.
"Ayo."
Keduanya berjalan menuju taman sekolah. Sesampainya di taman sekolah, keduanya mencari tempat duduk yang kosong untuk mereka duduki. Sudah menemukan tempat duduk yang kosong, Tiba-tiba Elang berdiri lagi. Membuat Elaina menatapnya.
"Mau kemana?"
"Beli makanan ke kantin. Lo lapar kan? Mau makan apa?"
"Emang nggak kejauhan kalau dari sini ke kantin beli makanan?"
"Ya terus mau gimana lagi? Emang lo bisa munculin makanan?"
Elaina menggeleng. Tapi ia bisa sesuatu. Ia tersenyum saat mengingat kemampuannya. Sudah lama ia tidak melakukan sihir.
"Gue bisa ngelakuin sesuatu."
"Apa?"
Elaina mengeluarkan senyuman yang membuat Elang penasaran. Apa yang akan Elaina lakukan? Elaina bisa melakukan sihir. Jangan sampai cewek ini melakukan hal-hal yang aneh.
"Eh gila!!" Elang terkejut sampai ia jatuh terduduk. Untung ada kursi yang menahannya jadi ia tidak jatuh ke lantai. Tapi satu, semua orang jadi melihat ke arah mereka berdua karena Elang yang tadi berteriak.
"Maaf maaf." Elang meminta maaf pada mereka yang terganggu. Dan siapa yang bisa tidak memaafkan Elang? Semuanya langsung fokus pada kegiatan masing-masing saat tahu kalau orang itu adalah Elang. Sebenarnya semua murid juga takut sama Elang, tapi Elang nya aja yang akrab pada mereka. Elang itu wellcome, friendly banget orangnya. Makanya banyak yang senang sama dia. Dia nggak pernah berbuat semena-mena walaupun dia anak yang punya yayasan.
"Lo kenapa teriak sih."
"Ya siapa sih yang nggak kaget." Ucap Elang aneh. Ya memang benar, siapa sih yang tidak kaget melihat Elaina ada dua sekarang!
Elang mengedarkan pandangannya, takut ada yang menyadari kalau sekarang Elaina punya kembaran. "Mereka tau nggak?"
"Nggak. Dia cuman bisa gue yang liat. Tapi karena gue ngizinin lo buat bisa liat dia, jadi lo bisa liat dia."
"Oh jadi lo nggak mau lihat?"
"Eh, nggak. Nggak jadi. Nanti yang ada gue kepo."
Elaina menatap copy dari dirinya sendiri yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan kosong. Ya, ini hanya boneka yang dapat di perintahkan bagaimana saja. Jadi tidak perlu khawatir.
"Aku ingin kau membelikan ku makanan di kantin."
"Baik nyonya. Apa yang nyonya inginkan?"
"Lo mau apa?" Elaina menatap Elang.
"Gue, gue makan apa ya? Roti aja deh tapi tiga."
"Oke. Minumnya?"
"Air putih aja."
Elaina kembali menatap bonekanya. "Belikan aku empat roti dan dua botol air." Elaina kembali menatap Elang. "Uangnya?"
Elang memberikan uang lima puluh ribu pada boneka yang mirip dengan Elaina itu. Setelah menerima uang itu, boneka itu kemudian pergi. Cara berjalannya pun berbeda. Tidak selamat manusia. Baru saja Elang akan melihat kepergian boneka itu, tapi sekarang boneka itu sudah tidak tahu ada di mana.
"Kemana bonekanya?"
"Ya ke kantin lah."
"Cepet banget. Eh, terus gimana belinya? Kan dia nggak keliatan."
"Nanti pas deket deket kantin, di tempat sepi, dia bakal nunjukin wujudnya. Tapi nanti dia bakal berubah dingin. Kalau ada yang nyapa dia, dia nggak bakal jawab. Intinya dia itu benar-benar nggak bakal ngelakuin apapun tanpa perinta dari tuannya."
"Kalau dia ketemu sama Echa dan yang lain, terus di tanya dia bakal tetap diam aja?"
Elaina mengangguk.
"Terus nanti kalau mereka nanyain pas di kelas gimana?"
"Gue tinggal nyari alasan. Gampang pokoknya." Ucap Elaina tapi Elang tampak ragu. Walaupun begitu ia tetap percaya kalau Elaina bisa melewati itu.
"Dia cuman butuh waktu tiga puluh detik. Lima detik lagi. Satu, dua, tiga, empat, lima."
Elang terkejut saat melihat boneka mirip Elaina itu sudah berada di hadapan Elaina sekarang.
"Gila sih..."
Boneka itu memberikan sekantung plastik pada Elaina. Isinya adalah pesanan atau makanan yang tadi Elaina inginkan.
"Terima kasih."
Setelah menganggukkan kepala, boneka itu pergi dari sana. Bukan pergi, lebih tepatnya menghilang.
"Dia kemana?"
"Udah, pengen tau aja." Elaina menaruh sekantung plastik yang tadi di berikan bonekanya. Mengeluarkan isinya dan benar semua.
"Gue lapar." Elaina langsung membuka bungkus roti lalu memakannya.
"Emang lo cukup satu roti?"
"Ya cukuplah. Memang lo, tiga roti."
"Ya kan gue nggak mau ngekang lambung gue. Kalo lapar ya makan, nggak usah di tahan."
Elaina tidak menjawab. Ia sibuk menghabiskan roti yang kini ada di tangannya. Setelah habis, ia meraih sebotol air mineral. Ia menatap air mineral itu. Cara bukanya sama seperti di dunianya tapi modelnya saja yang berbeda.
Elaina mencoba membuka tutup botol. Tapi tidak bisa. Ia sudah menariknya sekuat tenaga tapi tetap tidak bisa membukanya. Elang yang menatapnya hanya menahan tawa sambil memakan roti.
"Jadi kalau di lo cara bukanya itu di tarik?" Elaina mengangguk polos.
"Kalo di sini beda. Gini nih." Elang mengambil alih botol air mineral yang di pegang Elaina lalu membuka tutup botol. Saat itu juga Elaina mengerti bagaimana cara membuka botol.
Elaina tersenyum saat menerima air mineral dari Elang. "Makasih Elang."
Elang hanya bergumam sambil memberikan botol itu pada Elaina. Ia kembali memakan rotinya. Ada yang aneh. Kenapa jantungnya berdetak tidak karuan?
*****