Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
BELAJAR MAIN HP



Elaina dan Elang sudah siap untuk pergi ke sekolah. Bahkan Elaina terlihat sangat semangat. Membuat Elang bertanya-tanya. Ada apa dengan gadis itu?


"Semangat banget. Ada apa emang?" Tanya Elang.


"Kan udah di beliin HP." Ucap Elaina seperti anak kecil.


'Gue kirain apa.' Elang berucap dalam hati.


"Ya udah ayo berangkat. HP nya jangan lupa di bawa." Ucap Elang yang di angguki Elaina.


Keduanya kini sudah berada di parkiran. Elang mengambil motornya dan Elaina yang menunggu. Setelah melihat Elang membawa motornya lalu berhenti tepat di hadapannya, Elaina langsung naik.


"Lang.." Panggil Elaina.


"Hm?"


"Ini gimana aja maininnya?" Elaina menunjukkan ponselnya tepat di hadapan wajah Elang. Menghalangi pandangan cowok itu. Membuat Elang langsung mengambilnya lalu memasukkannya ke jaket kulit yang ia pakai.


"Nanti sebelum masuk gue ajarin. Masih ada waktu sebelum masuk jam pelajaran." Ucap Elang yang di setujui Elaina.


Seperti biasa, saat sudah sampai di sekolah, Elang memarkirkan dulu motornya. Munculnya Elang dan Elaina di parkiran mengundang banyak pertanyaan dari mereka yang menatap dia sejoli itu. Seantero sekolah sudah tahu kalau Elang dan Elaina adalah sepupu. Siapa yang tidak kenal Elang? Anak dari pemilik yayasan. Jika Elaina sepupunya berarti dia adalah keponakan pemilik yayasan dong. Maksud dari pandangan mereka adalah mengapa Elaina dan Elang sangat serasi padahal mereka itu sepasang sepupu?


Keduanya langsung berjalan ke kelas. Saat hari pertama sekolah Elaina merasa aneh dengan tatapan-tatapan para murid yang menatapnya entah kenapa. Tapi saat hari kedua ia mulai mengerti dan mencoba untuk membiasakan karena ini tidak akan berlangsung sebentar. Paling sebenarnya mungkin satu bulan.


"El!!"


Elaina menoleh begitu juga Elang. Keduanya menatap Echa yang sedang berlari ke arah mereka. Saat sudah sampai di hadapan kedua orang itu, Echa mengatur napasnya yang naik turun karena lelah. "Kenapa cha?" Tanya Elaina.


"Untung ada lo. Anterin gue ke perpustakaan yuk?" Ucap Echa. Ia menggenggam tangan Elaina.


Elaina menatap Elang yang menganggukkan kepalanya. "Gue ke kelas duluan." Setelah mengatakan itu Elang pergi menuju kelas sendiri.


"Mau apa ke perpustakaan?" Tanya Elaina saat dalam perjalanan menuju perpustakaan.


"Jadi tuh gue lupa kalau ada PR Bahasa Indonesia yang harus meringkas novel. Gue lupa. Untung pelajarannya nanti abis istirahat. Jadi gue masih ada waktu." Ucap Echa.


"Terus gue juga harus ngerjain nggak?"


"Ya lo mah nggak usah. Bilang aja kalau anak baru."


Ternyata perpustakaan tempatnya tidak jauh. Dari tempat saat ia bertemu Echa, tinggal lurus laku nanti belok dan terus lurus. Nanti akan sampai ke perpustakaan.


"Mau gue bantuin cari novelnya?" Elaina menawarkan bantuan sambil melepas sepatunya. Di sini, jika ingin masuk ke dalam perpustakaan maka harus melepas sepatunya.


"Boleh." Keduanya kemudian masuk ke dalam perpustakaan lalu langsung mencari buku yang di cari. Waktunya tidak terlalu sedikit. Tapi mereka tidak mau menbuang waktu banyak di perpustakaan. Echa yang tidak tahu akan melakukan apa dan Elaina yang mau di ajarkan bermain ponsel oleh Elang.


Saat sedang memilih buku novel untuk Echa, Elaina teringat sesuatu. Ia langsung menegakkan tubuhnya. Ia punya janji akan bicara dengan Evan dan ia lupa. Elaina menatap Echa yang sedang sibuk mencari novel. Elaina tidak tega jika harus meninggalkan Echa sendiri.


'Maafin gue, Evan. Mungkin lain kali." Ucap Elaina dalam hati karena ia tidak bisa jika harus meninggalkan Echa sendiri.


"Echa sini dulu." Panggil Elaina dan Echa mengangguk.


"Kenapa El?"


"Novel ini aja. Kayaknya seru." Ucap Elaina menunjukkan buku yang kini ia pegang.


"Judulnya?"


"Hope." Ucap Elaina membaca judul buku yang kini ia pegang. Ia menunjukkan bukunya pada Echa. Echa yang tidak tertarik sepertinya demi menjaga perasaan Elaina, ia menerima novel yang di berikan Elaina.


"Seru nggak El?" Tanya Echa.


"Nggak tau. Kan belum baca." Ucap Elaina yang di benarkan oleh Echa.


"Gue bakal minjem lima novel, gue bakal baca kronologi nya dan yang menang di hati gue bakal gue ambil dia."


"Mau gue bantuin nggak?" Elaina menawarkan bantuannya pada Echa.


"Nggak ah. Gue bisa sendiri kok. Nanti aja kalo ada yang gue nggak bisa gue bakal ngomong ke lo."


"Mm... oke.."


Keduanya berjalan ke tempat masing-masing. Elaina yang duduk dengan Elang dan Echa yang duduk dengan Esa.


"Elang mana?" Elaina menaruh tasnya di kursi. Ia mencari Elang dan ternyata cowok itu sedang bermain ponsel bersama teman-temannya di barisan paling belakang.


Elaina cemberut. Elang sendiri yang mengatakan kalau ia akan mengajari nya bermain ponsel. Tapi ia malah sibuk sendiri.


"Tau ah!' Elaina memilih duduk lalu membenamkan wajahnya di lipatan tangan. Mode nya tiba-tiba hilang karena Elang.


" Kenapa lo?" Elang yang baru saja muncul menggoyangkan lengan Elaina. Tapi tidak ada respon dari Elaina.


"Katanya mau di ajarin main HP. Tapi malah tidur." Ucap Elang yang membuat Elaina langsung mendongak.


"Gue nggak tidur." Elaina langsung mendongakkan kepalanya.


"Lah? Terus ngapain?"


"Gue marah sama lo. Lo sendiri yang mau ngajarin tapi lo malah sibuk sendiri."


Elang terkekeh mendengar alasan Elaina. Kenapa cewek di sampingnya ini begitu manis?


"Gue ajarin sekarang mau?"


Elaina yang awalnya kesal dengan Elang langsung menganggukkan kepalanya saat Elang menawarkan akan mengajarkan main ponsel.


"Sini lo nya." Elang menarik kursi Elaina untuk mendekat. Sangat mudah karena Elaina sangat kecil.


Elaina menatap ponsel yang kini berada di tangan Elang. Ia memperhatikan saat Elang menyalakan ponsel itu. "Oh gitu...."


"Lo mau main apa?"


"Apa aja."


"Ya udah, gue ajarin ini dulu ya."


Elaina terus memperhatikan. Ia sangat fokus sampai Elang mencolek dagunya, membuat Elaina menatap ke cowok itu.


"Biasa aja. Serius banget."


"Kan gue mau bisa."


"Ini mah nggak serius juga pasti ngerti."


"Iya kah?"


Elang mengangguk. "Gue nggak perlu ngomong ya. Lo aja yang liatin gue." Elaina menjawabnya dengan anggukan kepalanya.


Elang terus memainkan ponsel Elaina. Semuanya. Semua aplikasi yang sudah Edis sediakan, ia mainkan semuanya. Elaina yang berada di sampingnya terus menganggukkan kepalanya mengerti. Tanpa sadar kalau mereka berdua sudah terlalu dekat sekarang.


"Udah, udah bel." Ucap Elang. Ia memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.


Elaina yang masih belum puas hanya bisa menerima sambil mengerucutkan bibir. Elang yang menatap itu hanya tersenyum gemas.


"Nanti gue ajarin lagi istirahat." Ucap Elang yang langsung mengundang wajah antusias Elaina.


*****