Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
EVAN



Elaina memangku wajahnya dengan kedua tangan sambil mendengarkan guru yang sedang menjelaskan. Biasanya ia akan bersemangat kalau itu urusannya dengan belajar. Tapi sekarang ia tidak bersemangat karena semua yang di ajarkan di sini selebihnya sudah di ajarkan saat ia sekolah di Klan Bulan. Beberapa tahun yang lalu dan Elaina masih mengingatnya.


"Gabut ya?"


Elaina menatap Elang. Ia mengingat kata gabut. Gabut itu artinya bosan. Sedetik kemudian Elaina mengangguk.


"Sama, gue juga."


Elaina kira Elang akan mengatakan apa. Ternyata hanya mengatakan itu. Menyesal ia mendengarkannya.


Elaina sedikit terkejut saat ada kertas yang di remas lalu di jadikan bola mendarat di mejanya. Ia menoleh, tapi ke kanan kiri. Tapi kanan kirinya tidak ada yang mencirikan kalau mereka yang melempar bola kertas ini. Elang pun tidak menyadari kalau ada kertas yang mendarat di mejanya.


Elaina membuka kertas itu perlahan. Di dalamnya ada tulisan. Ia meregangkan kertas itu agar tulisannya bisa di baca.


Lo bilang kalau lo mau tahu kalau gue itu darimana. Waktu lo kosong kapan? Mumpung gue baik hati dan mau cerita.


Elaina menatap Evan yang kini tengah menatapnya. Ternyata Evan. Ia hampir lupa kalau ia Evan akan menceritakan sesuatu.


Sekarang aja pulang sekolah.


Elaina kembali menjadikan kertas itu seperti bola. Lalu dengan hati-hati ia melemparkannya ke tempat Evan. Ia juga sudah mengira-ngira kalau guru tidak akan melihatnya.


Elaina bisa melihat kalau Evan membuka kertas itu. Ia membacanya lalu mendongak menatap Elaina yang kini tengah menatapnya. Ia menganggukkan kepala.


"Lo ngapain?" Elang menyentuh pundak Elaina.


"Kenapa?" Balik tanya Elaina.


"Nggak. Takut keliatan guru tadi lo ngeliat ke belakang." Ucap Elang lalu kembali pura-pura memperhatikan ke depan.


Elaina menghembuskan napasnya. Untung tidak sampai ketahuan. Kalau tidak, pasti akan di hukum. Semua sekolah pasti sama saja. Akan ada hukuman untuk anak yang tidak memperhatikan. Mau itu di dunia fana atau pun di dunia Klan sekalipun.


Setelah jam pelajaran selesai, mereka bisa pulang. Senang rasanya saat bel terdengar. Rasa penat karena belajar selama berjam-jam akan mereka obati dengan hal yang berbeda. Ada yang main dengan teman, nge-mall, berendam dengan air hangat, atau ada yang mengabdikan dirinya pada pendidikan dengan cara pulang sekolah langsung belajar lagi. Belajar boleh tapi tidak boleh berlebihan. Tubuh juga butuh istirahat.


"Elang," Panggil Elaina saat Elang sibuk memasukkan bukunya ke dalam tas.


"Ya?"


"Gue... mau main dulu sama Evan boleh?"


Pergerakan tangan Elang tiba-tiba terhenti. Ia menatap Elaina. Sejak kapan cewek itu akrab dengan Evan? Dan sejak kapan Evan akrab dengan perempuan?


"Lo deket sama Evan sejak kapan?" Tanya Elang.


"Mm... Gimana ya.." Sebenarnya Elaina tidak mau berbohong pada Elang. Elang adalah orang yang menyelamatkannya. Jadi ia merasa kalau Elang berhak tahu tentang semuanya. Tapi bagaimana?


Elaina tersenyum saat menyadari sesuatu. Evan kan tidak memberitahunya kalau ia tidak boleh mengajak orang saat bertemu dengannya. Kalau Evan terkejut melihatnya membawa Elang, tinggal bilang saja kalau Evan kan tidak mengatakan boleh membawa orang atau tidak.


"Lo mau ikut?"


"Lo ngajak gue?"


"Ya iyalah. Sekalian kalau mau pulang nggak perlu minta jemput." Ucap Elaina.


Elang tampak berpikir sebelum mengangguk.


"Oke."


Elaina sudah bisa menggunakan ponsel. Jadi ia menghubungi Evan. Menanyakan dimana mereka akan bertemu. Evan yang sudah mengerti pasti Elaina mendapatkan nomornya dari Elang langsung memberitahukan tempatnya. Ia tidak menanyakan kalau Elang akan ikut atau tidak. Itu membuat Elaina menghembuskan napas lega.


"Dimana?"


"Kafe Encok. Dia udah di sana katanya."


"Oke."


Setelah sampai, Elang langsung menggenggam tangan Elaina. Elang hanya takut Elaina hilang. Dia juga dari dunia asing. Ia hanya ingin menjaga Elaina karena ia merasa menjadi orang paling bertanggung jawab atas Elaina. Di tambah mimpi itu. Seakan-akan ada orang yang ingin mengatakan kalau ia butuh bantuan Elang untuk menjaga Elaina.


"Dimana Evan?" Elang mencari Evan dengan mata tajamnya. Ia langsung bisa menemukan Evan yang sedang memainkan ponsel dengan earphone yang cowok itu pakai.


Elang berjalan sambil membawa Elaina di belakangnya. Sebenarnya Elaina ingin protes karena ia merasa seperti hewan peliharaan yang di tarik ke sana dan ke sini oleh Elang. Di tambah cara berjalan Elan yang sangat cepat. Elaina tidak bisa mengimbanginya. Kakinya terlalu pendek untuk mengimbangi langkah kaki Elang yang panjang.


Evan mendongak saat melihat kaki yang kini berada di hadapannya. Ternyata Elang. Sebenarnya ia sedikit terkejut, tapi ia langsung bisa mengatur keterkejutan nya itu.


"Elang? Ngapain lo di sini?"


"Nih." Elang menarik Elaina untuk maju.


Evan mendengus. Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia lupa bilang pada Elaina kalau jangan membawa orang.


"Tadinya El mau datang sendiri. Tapi dia takut, jadi nyuruh gue buat ikut." Ucap Elang mengarang alasan.


Keduanya kemudian duduk di depan Evan. Setelah memesan minuman, Elang menatap Evan.


"Lo mau ngomongin hal penting apaan sama El?"


Evan menatap Elaina yang mengeluarkan cengiran nya. Sepertinya gadis ini sengaja membaws Elang. Evan menggunakan kekuatan telepati nya untuk berbicara dengan Elaina.


"*Kenapa lo bawa dia?"


"Ya lo nya juga nggak ngelarang buat bawa orang kok."


"Gue kira lo ngerti. Soalnya ini tentang dunia Klan. Ini rahasia El."


"Elang tau kalau gue dari dunia Klan, Van. Jadi lo nggak perlu takut."


Evan yang terkejut langsung menatap Elaina dan Elaina memberikan anggukan. Meyakinkan Evan.


"Elang,"


"Ya?"


"Lo tau kalau El dari Klan Bulan?"


Elang terkejut. Bagaimana Evan bisa tahu kalau Elaina berasal dari Klan Bulan. Elang langsung menatap Elaina. Gadis itu hanya diam memasang wajah polos.


"Kok lo tahu?"


Evan tertawa. "Gue kira nggak ada yang tahu lo dari Klan Bulan." Cowok itu menatap Elaina.


"Dia yang nyelamatin gue. Mana mungkin dia nggak tau kalau gue dari Klan Bulan."


Elang yang masih tidak mengerti hanya menatap kedua orang itu bergantian. "Bisa lo berdua jelasin ke gue?"


"Jadi gini." Evan menatap Elang dan Elaina bergantian. Tatapannya berakhir di Elaina. "Gue dari Klan Matahari."


"Apa?" Elaina langsung menutup mulutnya tak percaya mendengar apa yang di katakan Evan. Sedangkan Elang, cowok itu tidak bisa berpikir lagi. Terlalu banyak orang dari dunia Klan di hidupnya.


"Gue-gue nggak ngerti. Jelasin." Ucap Elaina yang tidak mengerti kenapa orang dari Klan Matahari bisa berada di Dunia Fana?


"Gue bakal jelasin. Lo berdua dengarkan baik-baik."


*****