
Elaina menoleh menatap Elang yang sudah berada di sampingnya. Ia kembali menatap Echa sambil tersenyum. "Gue pergi dulu sama Elang ya, cha. Sampai ketemu di kelas." Ucap Elaina lalu bangkit dan tangannya langsung di tarik oleh Elang.
"Ih, nyebelin banget sih tuh orang. Gue belum selesai nanya udah di di bawa kabur aja." Gerutu Echa yang kesal pada Elang.
Elang terus menarik Elaina ke suatu tempat yang tidak Elaina tahu itu dimana. Ia saja baru hari pertama sekolah di sini. Mana tahu ia sama denah sekolah ini?
"Mau kemana lang?"
Elang menoleh melihat sekitar. Memperhatikan kalau tidak ada siapa-siapa di sini. Setelah memastikan kalau di sini tidak ada orang, Elang berdiri menghadap Elaina.
"El,"
Elaina menunggu kelanjutan ucapan Elang.
"Lo dapet pertanyaan yang nggak lo bisa jawab dari Echa?"
Elaina mengangguk. "Iya, pas banget tadi. Untung lo langsung narik gue."
"Dia nanya apa?" Tanya Elang.
"Kenapa gue pindah dari Canada?"
"Udah itu doang?" Elaina mengangguk.
"Untung dia nggak nanya yang aneh-aneh. Nggak tau kenapa gue tiba-tiba kepikiran lo. Gue takut ada sesuatu yang nggak lo ngerti dan lo nggak bisa jawab."
"Jadi karena itu lo narik gue ke sini?" Elang mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Elang.
"Ya udah, mending kita ke kelas, nungguin bel nya di kelas aja." Karena Elaina tidak tahu jalan, jadi ia lebih memilih mengekori Elang yang malah di tarik Elang untuk berjalan di sisinya.
"Jangan kebiasaan jalan di belakang gue. Di samping gue aja." Ucap Elang.
Akhirnya mereka sampai ke kelas yang belum terlalu ramai. Elaina dan Elang langsung duduk di tempat masing-masing. Tapi tangan seseorang mencegah Elaina untuk duduk dan Elaina menoleh.
Echa tersenyum. "Sambil nungguin guru, mending lo duduk di kawasan kita. Ini kawasan cowok, takut lo nggak nyaman kan?" Ucap Echa dan Elaina langsung mengedarkan pandangannya menatap sekitar. Benar yang di katakan Echa, tempatnya di kelilingi oleh cowok.
Elaina menatap Elang yang mengangguk dengan wajah datar. Setelah itu Echa menarik tangan Elaina menuju segerombolan cewek-cewek yang sudah menunggu kehadiran Elaina.
'Jangan sampe Elaina kebawa-bawa sama mereka. Ribet ceritanya nanti...' Batin Elang. Karena kalau di jelaskan perempuan yang ada di kelas nya ini adalah para spesies langka. Elang sendiri tidak bisa menjelaskannya.
"Lo El kan? Gue Esa.." Cewek yang mengaku bernama Esa itu langsung menjabat tangan Elaina saat gadis itu baru duduk.
Elaina tersenyum. "Elaina. Panggil aja El."
"Gue Elvina. Panggil aja Vina."
"Kalo gue Elrika. Panggil aja Rika."
Elaina kembali menyambut tangan yang datang ke arahnya dengan senyuman.
"Lo beneran sepupunya Elang?" Tanya Esa. Cewek itu mendekatkan wajahnya pada Elaina membuat Elaina refleks memundurkan wajahnya.
"Biasa aja Sa..." Rika menarik Esa untuk kembali ke tempat semula.
"Mirip sih." Ucap Vina yang membuat semua orang yang berada di meja itu menoleh.
"Apa? Gue salah ngomong?" Ucap Vina.
"Mirip dari cantik gantengnya doang," Ucap Echa yang memang benar sih. Elaina cantik dan Elang tampan. Mereka mirip jika dalam kategori tampan dan cantik.
"Berhenti muji gue. Gue nggak mau malah terbawa suasana." Ucap Elaina.
"Kalian juga cantik kok."
"Lo tuh lahir di Canada atau cuman sekolah aja di Canada? Soalnya muka lo tuh ada bule-bulenya dikit sih. Ini rambut lo asli kan?" Vina menyentuh rambut Elaina yang berwarna keemasan tapi tidak seluruhnya. Hanya sebagian besar.
Elaina mengangguk. "Iya, ini asli." Ucap cewek itu.
"Baru aja gue mau ngomong, anak baru nggak sopan banget baru masuk sekolah rambutnya udah di chat kayak gitu? Setidaknya kalau pertemuan pertama beri kesan yang baik lah." Ucap Rika yang membuat lainnya tertawa.
"Eh, ternyata emang asli."
"Mata lo juga bagus. Malta lo beda. Warna hazel nggak sih itu?" Vina bertanya pada teman-temannya dan teman-temannya menganggukkan kepalanya.
"Iya ih gila. Orang tua lo blasteran apa kalo boleh tau?"
"Berarti sekarang lo tinggal di Indoensia dong?"
"Rumah lo dimana? Kalo suatu hari gue ngelewat bisalah mampir dulu ke rumah lo."
Elaina bingung harus menjawab pertanyaan aneh dari teman-teman barunya. Ia menatap yang juga kini tengah menatapnya. Elang langsung bangkit lalu berjalan menghampiri Elaina.
"Heh lo pada jangan racunin otak sepupu gue ya." Ucap Elang. "Dia mah masih polos."
"Dih, nggak jelas. Orang cuman nanya doang."
"Nanya nya ke gue aja."
"Emang lo tau apa?"
"Tau semuanya lah." Ucap Elang.
"Bahkan gue lebih tau El daripada El nya sendiri." Setelah mengatakan itu ia langsung pergi dengan Elaina yang di tarik olehnya.
"Dih, lo mah orang gue mau ngobrol-ngobrol hangat doang." Ucap Echa saat Elaina sudah di bawa Elang.
"Nyebelin banget sih tuh orang. Ganggu aja." Ucap Rika yang di angguki Esa.
"Iya, asal lo pada tau ya, pas di kantin aja waktu gue mau ngobrol sama Elaina, Tiba-tiba Elang datang terus narik tangan El. Emang dasar tuh orang!"
"Mungkin karena orang tua El mercayain banget El sama Elang. Makanya Elang kayak gitu."
"Tapi nggak gitu juga kali Vin."
Di sisi lain Elaina merasa tidak enak pada teman-teman perempuannya juga Elang. Takut kalau menyusahkan Elang dan membuat teman-teman perempuannya kesal pada Elang.
"Lang mabar lang!"
Elaina menoleh ke belakang dan menemukan banyak sekali cowok yang sedang duduk di sana. Ergi, orang yang tadi memanggil Elang tersenyum genit ke arah Elaina sambil mrngedipkan matanya. "Hei, cantik!"
Elaina langsung menghadap ke depan lagi. Is menatap Elang yang juga ikutan menoleh. "Nanti aja lah, keburu ada Ibu!" Ucap Elang. Dia memberikan kode dengan tangannya menyerupai tembakan lalu di arahkan pada Ergi. Itu adalah ancaman untuk Ergi karena berani mengedipkan matanya pada Elaina.
Ergi mengeluarkan cengirannya. "Santai, bro. Becandaaaa...."
Suasana kelas langsung ramai saat seseorang mengatakan kalau guru mata pelajaran sedang berjalan menuju ke sini. Mereka yang tidak berada di tempat duduk masing-masing langsung kembali ke tempatnya.
Di saat semua murid menyapa guru yang baru datang, tidak dengan Evan. Pria yang paling dekat dengan Elang setelah Ergi itu terus menatap Elaina. Ada aura yang aneh yang bisa ia rasakan dari Elaina. Ia bisa merasakan sesuatu yang kuat di tubuh Elaina. Apa itu sebenarnya?
"Gue harus cari tau. Dia pasti bukan manusia biasa. Gue harus tau dia siapa."
*****