Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
Bab 7 : Serangan Tiba-tiba



"hei apa kau yakin dengan kedatangan calon putri bungsu kerajaan ini?"


" sepertinya tidak...bagaimana iya? usianya saja sudah remaja dan tak jauh dengan usia Putri Nami kita"


"Aneh, bukan?"


"ya...kan biasanya kalau kejutan seperti itu seharusnya dimulai dari bayi bukan langsung tumbuh besar seperti itu!"


"Heiiii...apa jangan-jangan ini adalah kutukan!!!"


"Syuuttt...syuttttt jangan berbicara seperti itu jika kita didengar maka kepala kita akan dipenggal!"


Para pelayan kerajaan sibuk menceritakan kejadian fenomena tadi malam sambil mengerjakan tugas yang diberikan.


Kemuri yang masih berjalan menyusuri koridor kerajaan sempat mendengar apa yang diceritakan oleh para pelayan.


hmmm seorang putri yang sudah besar?. Apa itu kejutannya, tapi jika iya maka ada sesuatu yang disembunyikan!. batin Kemuri


Kemuri pun menghentikan langkahnya dan pergi menuju para pelayan itu dengan santai dan gagah.


" ekhemmm...apa aku boleh bertanya?"


ucap Kemuri diselingi dengan dehem sok kerennya


Para pelayan yang mendengar itu langsung saja kaget tak karuan kemudian berbalik badan dan melihat sesosok remaja laki-laki yang tampan dan gagah dengan pedang balik punggungnya .


"Heii...apa dia prajurit baru disini?" bisik para pelayan cantik dan muda itu pada teman-temannya


" ukhhhmmm sepertinya...iyaaa" balas pelayan lain


Kemuri yang mendengar itu sedikit menaikan keningnya agar menarik suasana.


" aku bertanya loh " ucapnya sok keren


"ahhh ...iyaa...boleh-boleh" jawabnya dengan tersipu malu


" ummm ruangan singgasana kerajaan dimana ya?" tanya Kemuri


" ouh...jalan lurus, belok kanan terus lurus lagi dan belok kiri tapi ada dua jalur pilih jalur kanan terus lurus lagi belok kiri " jawab para pelayan secara bersamaan


ekhemm ini maksudnya apa ya? aku tak mengerti dengan jalur yang mereka jelaskan hahahaha. batin Kemuri yang menertawakan dirinya


" ouh begituuu...aku mengerti tapi apa bisa dijelaskan ulang?" jawabnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal diselingi dengan tawaan yang riang


"Astagaaa aku pikir dia keren dan pintar ternyata sebalinya...dia bodoh!" bisik pelayan pada temannya


Kemuri dan para pelayan tampak berisik dengan pembicaraan yang tak selesai-selesai sembari menunjuk-nunjuk jalan menuju tempat yang ditujunya. Putri Nami yang tak sengaja berjalan dibelakang dan melihat mereka, ia pun pergi mendekatinya.


" ada apa ini? " tanya Putri Nami dengan lembut


Dan seketika pelayan yang mendengar itu langsung saja memberi penghormatan dengan membungkukan badan sesuai tradisi.


"Oh ...tuan Putri..." ucap mereka


Kemuri yang membelakanginya pun berbalik badan dan keget. Ia pun dengan segera mungkin mengikuti cara pelayan memghormatinya


"Terima kasih..." jawab putri Nami dengan membalas anggukan para pelayan


"Putri Nami?" tanya Kemuri dengan sedikit terkekeh


" umm ya..aku tadi bertanya...sedang apa ribut-ribut??? " tanya putri Nami dengan sedikit tersenyum anggun mempesona


Mereka yang semula hening kembali ribut bersama menjelaskan apa yang terjadi pada Putri Nami. Ia hanya sedikit tersenyum riang namun tetap terlihat anggun.


"ahhh..cukup-cukup...biar aku saja yang mengantarnya" ucap Putri Nami yang menyelesaikan masalah konyol itu dengan terkikik geli


"Ah baik tuan Putri...dia orangnya bodoh sulit untuk dijelaskan" ucap para pelayan yang diselingi dengan tawaannya


"heii..kalian saja yang tidak pandai dalam menjelaskan!" kata Kemuri dengan kesal


"sudah..jangan mulai lagi...ayo Kak" ajak Putri Nami


Mereka berdua pun berjalan menyusuri jalan ruangan kerajaan yang megah itu .


Suasana yang semula hening kini terpencahkan oleh suara Kemuri


"eh putri...kau lupa padaku ya?"


" uummm..tidak..aku masih mengingatmu kok" jawab Putri Nami yang sedikit mengingat masa lalunya bersama Kemuri


"ah baguslah..aku pikir kau melupakannya" ucap Kemuri yang terkekeh


"Kau masih saja seperti dulu...lemah lembut, baik, cantik dan bijak dalam bertindak...aku merindukanmu setelah kian lama kita tidak berjumpa" lanjutnya sembari menatap wajah Putri Nami disampingnya


seandainya dia yang mengucapkan itu...aku akan sangat bahagia. batin Putri Nami yang tengah memikirkan seseorang


"Hei!!! apa kau mendengarkanku?" tanya Kemuri


" ah ya...terima kasih...aku bahagia mendegarnya" jawab Putri Nami yang pikirannya terkocahkan oleh suara dari Kemuri


"hehhehe sama-sama , tapi apa kau tak mau mengatakan sesuatu padaku?" tanya kemuri yang masih saja tetap menyelaraskan langkahnya


Astaga apa yang harus aku katakan?!. batinnya


"hahahahaha...kau masih saja seperti duluu...tetap kaku di depan Laki-laki"


ucap Kemuri yang tak sanggup menahan tawaannya


"ekhmmm.. kenapa kau mencari singgasana Kerajaan?" tanya Putri Nami yang mengalihkan pembicaraan


"haaa..selalu saja begituuu..." jawab Kemuri dengan Kesal dan melanjutkan kalimatnya "umm tentunya untuk melapor pada Raja."


" aku sudah mengatakannya pada Raja..tapi ia marah dan malah menyuruhku untuk menjaga Putri Hikari" ucap Putri Nami dengan kesal


" bbbbenarkah?...jadi dimana Raja saat ini?" tanya Kemuri dengan gugup


" entahlah...aku juga tak mengetahuinya...aku kesal sekali" jawab Putri Nami dengan memalingkan pandangannya


Mendengar itu Kemuri langsung saja memohon pamit dan pergi mencari Raja dengan sendirinya.


****


"Bagaimana keadaanya?" tanya Raja yang tiba-tiba berada dibelakang mantan tabib Kerajaan itu


"Raja...." ucap Kakek tua yang kaget dan langsung membungkukkan badan seraya memberi penghormatan


"ya" jawabnya singkat


" Keadaanya cukup parah...jika kita tidak menanganinya dengan cepat maka kesempatan hidupnya hanya


5 banding 100" sahut Kakek tua dengan penuh penjelasan


"selamatkan dia!!!" ucap Raja dengan tegas


" baik Yang Mulia "


Kemuri datang dengan tiba-tiba di arah pintu ruangan itu dengan nafas sedikit sesak ia terus berusaha mengoptimalkan oksigen yang masuk kesaluran pernafasannya.


"Yang mulia..." ucap Kemuri seraya memberikan penghormatan


"aku mengerti...sebaiknya kau kutugaskan untuk menjaga ruangan Putri Hikari beristirahat dan melindungi Putriku Nami dari musuh yang tiba-tiba datang" perintah Raja dengan tegas


"Baik Raja...tapi saat ini aku telah kehabisan tenaga " ucap Kemuri yang tak fokus dengan suasana


" ya sudahlah, aku mengerti...datanglah ke ruang makan kerajaan...makanlah sesukamu" jawab Raja dengan datar


"Baik!!... terima kasih Raja" ucapnya yang memberi penghormatan dan pergi menuju ruang makan kerajaan


saat-saat seperti ini masih saja mementingkan makanan. batin Kakek tua itu dengan beberapa kali menggelengkan kepalanya


****


Setelah memuaskan dirinya dengan banyak makanan , ia langsung menuju dimana Putri Nami berada.


"Hai...putri Nami...apa kau sudah makan" tanya Kemuri dengan memegang perutnya yang kekenyangan


" sudah..." jawabnya singkat


" bagaimana keadaannya?" tanya Putri Nami tanpa basa basi


"ummm...maksudmu Kasai?" tanya Kemuri keheranan


"ya.." jawabnya dengan sedikit gugup


"kurang baik...saat aku datang tadi, mantan tabib sedang berusaha menyelamatkannya dan raja tidak jadi marah heheheh" jawabnya berusaha agar tetap terlihat riang


" begitu ya..." kata Putri Nami yang memalingkan pandangannya dan menuju Putri Hikari yang tengah tak sadarkan diri


Ia duduk tepi ranjang dan menatap sendu adik bungsunya itu. Sedangkan Kemuri yang ditinggalnya masih tetap berdiri dibalik pintu kamar.


"Putri Nami?? apa aku boleh masuk? aku ditugaskan Raja untuk melindungimu dan menjaga Putri Hikari" teriaknya memastikan


" silahkan..."


Setelah mendapat izin masuk dari Putri Nami , ia melangkahkan kakinya dan melihat suasana kamar yang indah itu.


Disetiap sisi ruangan dipenuhi dengan hiasan cantik dan indah. Kemuri pun berdiri dan melihat Putri Hikari yang terbujur lemas


" apa dia Putri Hikari?" tanya Kemuri


" Ya...sebenarnya untuk saat ini tak boleh seorang pun yang boleh melihatnya . Tapi kau mendapat izin dari Raja...jadi tak ada alasan untuk menolak" jawab Putri Nami dengan jelas


" bbbenarkah?? dia sangat cantik" kata Kemuri yang terpesona


Disela-sela pembicaraan antara Putri Nami dan Kemuri, ada asap yang masuk kedalam dan tak sengaja dihirup oleh Kemuri.


Asap yang dihirupnya tak menampakkan dirinya karena terlihat transparan. Wajah Kemuri menjadi aneh sebab yang ia cium adalah bau sesuatu yang dikenalinya.


Suasana penglihatannya perlahan menggelap dan tampak berkunang-kunang hingga suara Putri Nami yang didengarnya pun sedikit menggema berulang kali.


Tak membutuhkaan waktu yang lama, tubuh Kemuri jatuh terhempas dengan keras ke lantai tempatnya berpijak.