Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
BUKU BERSAMPUL COKELAT



Elaina menghela napas entah sudah yang ke berapa kali. Ia menidurkan kepalanya ke atas meja. Guru tidak bisa datang karena ada kendala. Jadi kelas sekarang sangat berisik karena jam kosong.


"El," Elaina menoleh pada Elang.


"Apa?"


"Lo udah ngerjain tugas?" Tanya Elang.


Elaina mengangguk. "Udah." Ia kembali membuka lembar demi lembar kertas buku yang sudah ia baca. Sangat membosankan. Benar-benar sangat membosankan.


Elang menghela napas. Ia harus memberikan buku itu sekarang. Elaina pasti menunggu buku itu. "El," Panggil Elang lagi.


Elaina menatap Elang. "Ya?"


Elang mengambil sebuah buku dalam tasnya. Ia langsung menaruh bukunya ke atas meja lalu mendorongnya ke arah Elaina.


Elaina mengernyit. Ia langsung menegakkan tubuhnya. "Buku siapa?"


"Ini buku tentang sejarah klan lo."


Elaina melebarkan kedua matanya. Ia langsung mengambil buku itu lalu membuka lembar demi lembar. Iya, ini benar buku sejarah klan bulan. Hanya satu di klan bulan. Tidak ada duanya. Dan buku ini hanya di miliki oleh pewaris tahta. Berarti Edwin telah mengirimkan ini?


"Lo ketemu sama kakak gue?"


"Siapa? Kakak gue, yang ngasihin buku ini."


Elang mengangguk. "Oh itu kakak lo?"


"Lo ketemu dimana?" Elaina hampir saja berdiri saking senangnya. Bisa-bisanya Edwin kemari tanpa menemuinya sama sekali.


"Di mimpi."


"Hah?" Elaina makin bingung. "Di mimpi?"


Elang mengangguk lagi. "Iya, di mimpi. Gue ketemu sama orang yang lo anggap kakak lo itu. Dia putih, ganteng, pakaian juga kerajaan-kerajaan gitu, tapi ini lebih kayak mau berkelana. Terus dia ngomong buat gue jagain lo. Pas gue bangun buku ini udah ada di sebelah gue." Ucap Elang menjelaskan kronologi sebenarnya dari kemunculan buku itu.


Elaina terdiam. Pasti ada alasan kenapa Edwin tidak menunjukkan diri langsung kepadanya tapi malah kepada Elang. Pasti ada sesuatu. Ya, dan pasti Edwin punya alasan kenapa ia memberi buku ini. Pasti kuncinya ada di buku ini.


Elaina langsung memeluk Elang membuat Elang terkejut. Bahkan, satu kelas langsung terdiam saat tiba-tiba Elaina memeluk Elang. Semua perhatian langsung tertuju pada dua orang itu. Elang yang sadar lebih dulu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian langsung menaruh jari telunjuknya ke mulut agar mereka tidak menyoraki.


"Makasih, makasih banget Lang, gue bener-bener------"


"WHOAAAAAAA!!!!"


"JADIAN NIH EUY JADINYA??!!"


"WADUH DI KELAS NIH WOY! MAKIN IRI AJA DAH GUE SEBAGAI KAUM JOMBLO!!"


"CAILAH CUMAN SEPUPUAN DOANG MAH NGGAK PAPA KALEEE!!!"


Elaina langsung melepas pelukannya. Ia menatap sekitar dan semua teman sekelasnya sudah menatap ke arahnya. Ia hanya tersenyum kikuk. Ingin sekali ia langsung menghilang tapi ia lupa kalau tidak boleh menggunakan kekuatan di depan mereka.


"Apaan sih lo pada! Kasian tuh si El malu!!" Ucap Elang agar teman-temannya berhenti menyoraki Elaina. Lebih tepatnya mereka berdua.


"El apa lo yang malu Lang?!" Suara Ergi keluar membuat yang lain kembali menyoraki Elaina dan Elang.


Echa langsung berlari menghampiri Elaina. Ia merangkul bahu Elaina. "Jadi kalian jadian nih?"


"Nggak!!" Itu adalah jawaban dari Elang.


"Ya kan gue bersangkutan!"


Echa memutar kedua bola matanya lalu kembali menatap Elaina. "Beneran jadian?"


Elaina menggeleng. "Nggak kok. Gue cuman ngomong makasih karena, karena Elang udah beliin gue buku. Iya, beliin gue buku." Ucap Elaina meyakinkan Echa.


Echa mengeluarkan senyuman jahil. "Sampe meluk gitu bilang makasih nya?"


Elaina bingung harus menjawab apa. Ia melirik Elang agar membantunya. Elang yang mengerti kode dari Elaina langsung menjawab.


"El kalau ngomong makasih itu suka sambil meluk orangnya."


"Aaaaa.... lo kode-kodean ya tadi.. gue liat tadi mata lo." Sahut Esa.


Semuanya kembali menyoraki Elang. Elang hanya berdecak. Kenapa harus jam kosong sih?


"Eh, nggak kok. Gue sama Elang nggak ada hubungan apa-apa. Bener kata Elang, kalo gue ngucapin makasih itu sekalian meluk." Memang benar apa yang di katakan Elang. Elaina kalau mengucapkan terimakasih selalu memeluk orang. Tapi tidak semua. Hanya orang-orang terdekat.


"Ah iyain aja yaaa... Biasa yang lagi kasmaran mah selalu ngelak." Ucap Ergi.


Elang menatap tajam Ergi. Kenapa kalau soal meledek temannya ini sangat lancar mulutnya. Membuatnya ingin langsung menyembunyikannya ke dalam gudang agar tidak ikut meledek. Karena pasti ada saja kata yang keluar dari mulutnya setiap meledek siapa pun itu.


"Udah udah. Ganggu aja lo pada." Semua orang langsung menatap ke arah Evan. Semua orang langsung terdiam saat orang itu mengeluarkan suara. Evan adalah orang yang paling di takuti di kelas ini. Entah kenapa setiap Evan mengeluarkan kata selalu membuat satu kelas hening. Menurut mereka, Evan mempunyai aura yang menakutkan jika sudah memperingatkan.


Semua nya kembali berisik tapi tidak lagi meledek Elaina dan Elang. Mereka kembali sibuk pada kegiatan mereka sebelum meledek Elaina dan Elang.


Elaina menatap Evan. Sedangkan Evan hanya menyunggingkan senyumnya karena Elaina mengucapkan terimakasih menggunakan gerakan mulutnya.


Elang yang melihat itu langsung mengalihkan pandangannya. 'Nggak. Kok gue nggak mau sih kalo El udah berinteraksi sama dia? Kenapa ya? Jangan sampai gue suka sama dia! Nanti kalo dia pulang ke klan nya kan gue yang sakit.' Elang memberikan pemikiran seperti itu pada dirinya sendiri agar tidak sakit nantinya.


"Elang," Panggil El.


Elang menoleh. "Ya?"


"Gue pengen baca buku ini, tapi kapan ya bagusnya?"


"Menurut lo enaknya kapan?" Balik tanya Elang. Elang heran kenapa pula Elaina bertanya padanya. Itu suka-suka dia ingin membacanya kapan.


Elaina mengangkat kedua bahunya. "Gue ikut lo aja deh. Lo kalo baca buku ini kapan?"


Elang melebarkan kedua bola matanya. "Kok lo tau kalau gue udah baca?"


"Oh jadi lo ngiranya gue belum tau?"


"Lah lo tau darimana?"


"Tau aja sih. Ya pasti lo udah baca lah. Karena apa? Karena buku ini punya saya tarik. Setiap orang yang lihat buku ini bakal tertarik. Siapa pun itu. Mau yang suka baca atau pun nggak bakal suka sama buku ini. Itu sih yang gue tau dari Kak Edwin."


Elang membenarkan perkataan Elaina. Memang benar, saat pertama kali melihat buku ini, ia langsung tertarik untuk membacanya. Padahal ia buka tipe orang yang suka membaca buku. Ya walaupun nggak suka-suka amat. Intinya Elang kurang suka.


"Berarti yang ngelihat buku ini bakal tertarik untuk baca?"


Elaina mengangguk. "Tergantung. Kalau bukunya ngizinin mereka untuk baca berarti boleh. Tapi kalau nggak di izinin mereka nggak bakal tertarik." Elaina memeluk buku itu. Menyembunyikannya agar tidak terlihat orang lain.


"Kalau buku ini setuju di baca oleh orang itu, berarti orang itu di terima di klan bulan."


*****