Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
APARTEMEN



Elaina menatap pria yang kini duduk di hadapannya. Keduanya sudah sampai di rumah pria itu. Sedangkan pria itu menatap Elaina dari atas sampai bawah. Seperti yang sedang menilai.


'Kenapa style nya kuno banget. Kayak yang mau mrngembara.' Ucap pria itu saat melihat cara berpakaian Elaina. 'Gue harus ngomong baku dulu nih, sementara? Sementara doang sampe lo tau dimana rumahnya. Iya.'


"Kenalkan, namaku Elang." Elang mengulurkan tangannya yang di sambut Elaina.


"Elaina."


"Aku bisa membantumu. Tapi kau harus menceritakan dulu kau darimana dan kenapa kau bisa tersesat disini." Ucap Elang.


"Aku berasal dari Klan Bulan. Soal bagaimana aku bisa ada di sini, aku sedang mengikuti kompetisi mencari Bunga Arabella. Saat itu aku sudah menemukannya, tapi sayang, Bunga Arabella tumbuh di atas pusaran air yang membuatku tertarik ke dalam. Dan tiba-tiba aku sudah berada di jalan saat kau menemukanku." Ucap Elaina.


Elang berdecak. Perempuan ini kenapa sih? Dia bicara apa? Klan Bulan? Klan Bulan apanya? Memang ada klan-klan seperti itu.


"Mm.. maaf sebelumnya bicaralah yang sebenarnya. Aku tidak bisa membantumu kalau kau terus berkhayal seperti ini." Ucap Elang.


"Aku tidak berkhayal, kau mau bukti?"


Elang langsung mengangguk. Ia butuh bukti. Bukti kalau perempuan ini tidak sedang berhalusinasi. Dan Elang percaya Elaina tidak mempunyai bukti.


Elaina menggunakan sihirnya untuk menjelaskan bagaimana Klan Bulan dan bagaimana kehidupannya. Beruntung sihirnya tidak menghilang. Ia menarik napas sebelum memperlihatkannya pada Elang.


"Kau lihat?"


Elang menatap layar monitor yang di gerakkan hanya satu tangan oleh Elaina. Layar itu terpampang jelas di depannya. Elang menatap Elaina. Apakah wanita itu manusia?


"Perhatikan. Kau meminta bukti padaku. Sudah ku tunjukkan dan semoga kau percaya."


Elang kembali menatap layar monitor. Ia tidak bisa percaya ini. Apakah ini mimpi? Di layar monitor itu menunjukkan kehidupan Elaina di Klan Bulan. Elang mengernyit saat melihat banyaknya pengawal yang ada di rumah Elaina.


"Kau seorang Puteri Raja?" Tanya Elang dan Elaina mengangguk.


Setelah tayangannya selesai, layar monitor itu tiba-tiba menghilang. Menciptakan kesunyian di antara mereka sampai Elaina berucap.


"Ku mohon, tolonglah aku, aku ingin kembali ke Klan ku." Ucap Elaina memohon.


Elang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia kira akan mudah. Setelah menanyakan tempat tinggalnya ia akan langsung mengantarkan perempuan ini pulang. Ternyata tidak semudah itu. Tempatnya saja Elang tidak tahu ada di mana.


"Kenapa kau tidak menggunakan kekuatanmu itu? Teleportasi? Kau bisa teleportasi?" Ucap Elang yang tidak tahu harus apa.


Elaina tersenyum lebar. Ya, teleportasi! Kenapa tidak terpikir sejak tadi. "Aku akan mencobanya."


Elang mengangguk. Ia menatap Elaina yang bersiap untuk menghilang.


"Aduh!"


Elang melebarkan kedua matanya. Ia langsung membantu Elaina yang terjatuh di lantai. "Kau tidak apa?" Ucap Elang.


Elaina mengangguk. Ia kemudian bangun dengan bantuan Elang. "Sepertinya tidak bisa."


Elang menghembuskan napasnya. "Ya sudah, kalau begitu kau istirahat dulu. Besok kita pikirkan lagi. Ini sudah tengah malam. Di apartemen ku ada dua kamar." Ucap Elang yang di angguki Elaina.


"Itu kamarmu. Sekarang istirahat lah." Elang menunjuk kamar yang akan di tempati Elaina.


Elang menatap punggung Elaina yang kemudian menghilang. Ia menghela napas. Bagaimana bisa ia bertemu dengan orang Klan Bulan? Klan Bulan. Memikirkan nya saja sudah membuatnya gila. "Untung cantik." Gumam Elang.


Ia mendudukkan bokongnya ke sofa. Ia menyalakan televisi. Ia tidak tahu mau menonton apa. Tapi entah kenapa ia tidak mengantuk sekarang. "Gue boleh percaya nggak sih?" Gumam Elang. "Tapi dia udah nunjukin ke gue. Masa iya gue tetap nggak percaya?" Lanjutnya lagi.


Elang memang sering menonton film fantasi. Bahkan film fantasi adalah favoritnya. Tapi ia tidak pernah memikirkan kalau ia akan kedatangan orang dari dunia fantasi. Awalnya ia tidak mau menolong Elaina, tapi ia kasihan. Tersesat di dunia orang itu tidak menyenangkan. Awalnya Elang berpikir kalau Elaina berasal dari dekat-dekat sini. Tapi ternyata dunia nya benar-benar tidak bisa di jangkau.


Elang menganti saluran televisi. Laki-laki itu mencari film yang ia sukai. Ia berdecak saat tidak menemukan saluran televisi yang bagus. Jadi Elang memilih untuk mematikannya.


Elang berjalan menuju kamarnya. Tapi, sebelum mencapai kamarnya, ia mengintip Elaina yang sudah tertidur. Ia tersenyum lalu melanjutkan langkahnya.


"Berarti gue harus ngurusin dia selama dia berada di dunia." Ucap Elang saat dirinya sudah masuk ke dalam kamar. Ia meniduri tubuhnya lalu menyelimuti nya. Bahkan sebelum tidur pun ia masih memikirkan Elaina.


"Berarti dunia kayak gitu beneran ada ya. Gue nggak nyangka banget. Dan emang sih, mukanya tuh muka-muka Tuan Puteri banget." Ucap Elang.


Ia mencoba memejamkan kedua matanya. Dan ternyata tidak sesusah itu. Baru beberapa detik ia memejamkan mata, ia langsung berada di alam mimpi.


*****


Elang terbangun dengan suasana tempat yang berbeda. Semuanya gelap. Padahal ia ingat kalau ia tertidur di kamar. Ia mengedarkan pandangannya. Tidak ada apa-apa. Di sini benar-benar gelap.


"Ada orang di sini?!" Teriak Elang. Tapi tidak ada yang menjawabnya sama sekali.


Elang terus berputar, setidaknya menemukan setitik cahaya dari ruang gelap ini. Bahkan Elang tidak tahu kalau ruangan ini mempunyai sudut.


"Kau Elang?"


Elang langsung mencari sumber suara yang baru saja menyebutkan namanya. Tapi mau seberapa kali pun ia mencari, ia tidak akan pernah menemukannya.


"Siapa lo?! Keluarin gue dari sini!" Teriak Elang agar orang itu bisa mendengar suaranya.


"Dengarkan aku." Suara itu kembali terdengar. "Ini hanya mimpi. Jika terbangun kau bisa kembali ke duniamu, tenanglah."


Elang mengernyit. Berarti ini semua mimpi? Tapi mengapa terasa begitu nyata? "Siapa lo?!"


"Kau tidak perlu mengetahui siapa aku. Yang terpenting adalah, aku sangat berterima kasih karena kau telah menampung orang dari Klan Bulan itu."


Elang mengernyit. Maksudnya perempuan yang kini berada di apartemennya? Ah, Elang lupa untuk menanyakan namanya. "Lo punya hubungan sama dia?"


"Kurang lebih begitu. Aku berharap kau bisa menjaganya sampai dia bisa kembali ke dunianya. Aku akan berterima kasih sekali padamu jika kau benar-benar menjaganya."


"Jadi dia beneran dari Klan Bulan? Dunia fantasi?"


"Klan Bulan bukan dunia fantasi. Tapi Klan Bulan benar-benar ada."


"Ya intinya dunia fantasi yang jadi kenyataan gitu?"


"Kurang lebih seperti itu. Ya sudah, aku hanya ingin mengatakan itu. Sampai jumpa, semoga kita bisa bertemu lagi. Aku pergi dulu."


"Heh! Tunggu dulu!! Gue belum selesai nanya!!! Gimana kalau-----"


*****