Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
MIMPI



Elang bangun dari tidurnya dengan napas yang tidak beraturan. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Elang seperti bisa merasakan aura makhluk yang ia dengar suaranya di alam mimpi tadi. Ia menatap ke sekitar. Takut ada sesuatu yang memperhatikannya.


"Untung gue masih bisa balik lagi." Elang mengusap dadanya dengan perasaan lega. Ia menyenderkan kepalanya dengan mata yang terpejam. Setelah merasakan ketenangan yang tidak seberapa, Elang memilih untuk ke dapur mengambil minum.


Elang terkejut saat akan bangun dari tempat tidurnya, ia menemukan buku bersampul cokelat yang sudah lusuh. Ia memperhatikan buku itu. Setelah lama memperhatikan ia baru berani untuk mengambilnya.


"Sejarah Klan Bulan?" Elang membaca judul yang tertera di buku itu. Bukunya tebal sekali. Bahkan Elang tidak yakin bisa membaca seluruh isi buku itu.


"Apa gue kasihin aja ke cewek itu?" Gumam Elang sambil menimang-nimang buku tebal yang sudah Elang pastikan kalau halamannya ada 700 lebih halaman.


"Nggak, nggak. Gue juga pengen tau. Gue baca yang penting-pentingnya dulu baru nanti gue kasihin ke dia." Ucap Elang. Ia bangkit berdiri kemudian menaruh buku itu di antara bukunya yang lain. Setelah itu ia keluar untuk mengambil air di dapur.


Elang menajamkan tatapannya. Ada perempuan yang sedang menonton televisi. Elang yakin pasti dia adalah perempuan yang berasal dari Klan Bulan itu.


"Hey," Panggil Elang karena belum mengetahui nama cewek itu.


Elaina menoleh, ia tersenyum yang membuat Elang tidak bisa berkedip. 'Kok manis banget ya?!'


Elang berdeham untuk menghilangkan kecanggungan. Padahal Elaina biasa saja. Elang nya saja yang canggung karena Elaina yang terlalu cantik.


"Di rumahmu ada barang seperti ini ya? Apa di duniamu memiliki semua barang seperti ini? Di duniaku tidak ada."


Elang hanya tersenyum menanggapi Elaina. Mana ada dunia seperti itu ada televisi? Ia pun ikut duduk di sebelah Elaina. "Namamu siapa?"


"Elaina."


"Jadi gini Elaina. Di duniaku jarang menggunakan bahasa baku. Jadi kamu harus belajar bahasa yang sering di gunakan di duniaku." Ucap Elang. Jarang berbicara baku membuatnya kurang lancar untuk mengatakannya.


Elaina mengernyit. Setelah beberapa detik ia pun mengangguk. "Bagaimana caranya?"


"Mm.. bentar." Elang beranjak dan berjalan menuju ke kamarnya. Sedangkan Elaina hanya memperhatikan sampai laki-laki itu keluar dari kamarnya.


"Ini buku, yang bisa mengajari kamu bahasa di duniaku." Elang menyerahkan buku yang di pegangnya. Sebenarnya saat itu, saat ia berada di perpustakaan sekolah untuk mengerjakan tugas kelompok, entah kenapa ia tertarik dengan buku ini. Alhasil ia meminjam buku ini dan belum di kembalikan sampai sekarang. Sudah lama, sekitar dua bulan. Setiap petugas perpustakaan menagihnya, ia selalu beralasan ketinggalan di rumah. Dan memang benar tertinggal di rumah.


"Kamus Bahasa Gaul?" Elaina membaca judul buku yang di berikan Elang untuknya. Ia kemudian menatap Elang.


Elang mengangguk. "Nanti kamu baca. Kalau bisa kamu mengerti semuanya." Ucap Elang. Ia duduk di sebelah Elaina.


Elaina mulai membuka buku yang di berikan Elang untuknya. Ia bisa mengingat isi satu baku hanya dalam satu kali baca. Itu adalah keturunan karena ia adalah anggota kerajaan. Selama membaca, kadang ia tersenyum. Ternyata bahasa di dunia ini lumayan aneh.


Setelah selesai membaca buku itu, Elaina menutup bukunya yang membuat Elang menatapnya. Kenapa cepat sekali.


"Sudah?"


"Udah kok."


"Ya udah, sekarang kenapa lo nggak tidur? Ini udah malem." Ucap Elang yang sebenarnya sedang mengetes Elaina.


"Gue nggak bisa tidur. Nggak tau, nggak ngantuk aja." Ucap Elaina.


"Bagus, lo langsung lancar." Ucap Elang.


"Apa kedengarannya kaku?" Tanya Elaina yang baru pertama kali mengucapkan kata-kata itu. Ia merasa sedikit aneh.


Elang menggeleng. "Nggak, bagus kok." Ia menunjukkan jempolnya yang membuat Elaina tersenyum.


"Gue panggil lo El aja bisa? Kalo Elaina kayak kepanjangan gitu." Ucap Elang meminta izin. Iya sih, kalau Elaina itu terlalu panjang.


Elaina mengangguk. "Ibunda dan Ayahanda juga sering memanggilku dengan sebutan itu." Ucapnya.


"Lo pasti bahagia banget ya?"


Elaina mengangguk. "Tapi bagaimana lagi. Aku udah ada di sini." Ia mulai berbicara dengan cara yang ia baca di buku itu.


"Sekarang lo tidur. Udah malem."


Elaina menghela napas. Kenapa Elang mirip sekali dengan Edwin? Membuatnya merindukan kakak nya itu. Kira-kira Edwin sedang apa ya sekarang?


"Gue suruh lo tidur bukannya bengong. Kalo lo nggak tidur, gue nggak bakal mau nampung lo lagi."


Elaina panik. Ia langsung berdiri. "Ya udah kalo gitu gue tidur dulu." Gadis itu langsung berlari ke kamarnya yang membuat Elang tertawa melihatnya.


"Nggak sia-sia gue nampung dia. Lucu juga orangnya." Ucap Elang yang ikutan berdiri. Setelah mematikan televisi cowok itu berjalan ke kamarnya.


Saat Elang akan tidur, ia teringat dengan buku bersampul cokelat yang tiba-tiba berada di atas kasurnya. Ia menatap ke arah rak buku dan buku itu masih ada di sana. "Gue penasaran. Tapi kalo gue baca sekarang besok sekolah gue kesiangan." Ucap Elang. Ia menatap jam dinding dan jam sudah menunjukkan pukul setengah dua.


"Tidur ajalah. Masih ada besok." Ucap Elang yang langsung menyelimuti tubuhnya dan terlelap ke alam mimpi.


Sedangkan di Klan Bulan, tepatnya di tempat Edwin dan Eddy. Edwin membuka matanya, membuat Edy langsung bertanya.


"Ada apa? Apakah ada yang terjadi pada Elaina?"


Edwin dan Edy sudah tahu kalau Elaina masuk ke dalam portal yang mengirimkan perempuan itu ke dunia fana. Hanya saja mereka berdua tidak tahu portal itu berjenis apa. Karena portal itu selalu berbeda jenisnya jika muncul ke permukaan. Padahal kedua orang tuanya sudah memberitahukannya tapi ia tetap saja ceroboh. Ia bisa tahu Elaina masuk ke dalam pusaran air karena saat ia memeriksa keberadaan Elaina, perempuan itu tidak bisa terdeteksi. Membuatnya khawatir dan berpikir ke arah sana. Dan benar saja. Dengan kekuatannya Edwin mengutus rohnya untuk pergi ke alam fana untuk mencari Elaina dan ia menemukan nya. Tapi ia tetap tidak bisa berbicara dengan Elaina. Ia bisa datang ke setiap mimpi orang yang ada di dunia fana tapi tidak dengan mimpi Elaina karena itu akan menguras habis kekuatannya.


"Dia baik-baik saja. Dia tinggal dengan orang yang baik." Ucap Edwin yang membuat Edy menghembuskan napasnya lega. Ia juga sangat khawatir saat mendengar Elaina masuk ke dalam portal dunia fana. Ia tahu sedikit tentang portal itu. Portal yang muncul setiap 500 ribu tahun sekali. Jika ada yang masuk ke dalam maka ia harus menjalani rintangan. Rintangan akan muncul setelah satu minggu orang itu tinggal di dunia fana. Kalau tidak bisa menjalani rintangan maka ia akan selamanya tinggal di dunia fana.


"Kita doakan saja Elaina. Semoga dia bisa menjalani rintangannya." Ucap Edwin yang di angguki Edy.


*****