Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
HARI PERTAMA SEKOLAH



Hanya satu kelebihan yang di miliki Elang. Tidak pernah bangun kesiangan. Satu kemampuan yang sangat ia banggakan. Mau ia tidur jam berapa pun itu, ia tidak akan bangun kesiangan. Entah kenapa tubuhnya selalu merespon jika matahari sudah muncul.


Dan kini, Elang sedang menyiapkan sarapan. Saat ia sedang mengoles selai di rotinya, ia teringat kalau ia tidak tinggal sendiri lagi. Ia harus menyiapkan sarapan dua roti selai.


"Kau sudah bangun?" Elaina membuka pintu sambil menguap. Gadis itu mengucek matanya karena baru bangun tidur.


Elang tersenyum. "Mandi terus sarapan. Gue udah nyiapin sarapannya ini."


Elaina mengangguk kemudian berbalik kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mandi.


Elang pikir Elaina akan sama seperti gadis kebanyakan. Mandinya seabad. Entah apa yang para cewek lakukan di kamar mandi sampai selama itu.


"Bakal ke buru nggak ya kalo nungguin dia?" Ucap Elang sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tungguin aja dulu lah. Kalo nggak keburu gue tinggal."


"Elaaaang!!!"


Elang menatap Elaina yang baru saja keluar dari kamar. Dengan kaos yang ia berikan untuk sementara Elaina pakai karena ia tidak mempunyai pakaian perempuan. Elaina terlihat menggemaskan dengan celana pendek, kaos kebesaran dan rambut yang di cepol asal.


"Gue lapar." Ucap Elaina yang mulai membiasakan bahasa dunia ini. Ia menatap roti selai yang ada di atas meja. "Di gue juga ada yang kayak gini." Ucap Elaina. Ternyata makanan mereka tidak jauh berbeda.


"Ya berarti lo tau dong rasanya roti selai. Ya udah lah gapapa. Biar gua juga nggak susah ngenalin nya." Ucap Elang. Setelah rotinya habis, Elang berdiri membuat tatapan Elaina mengikutinya yang sedang berdiri.


"Lo mau kemana?"


"Sekolah." Ucap Edwin. Tunggu dulu, jangan bilang di sana tidak ada sekolah.


Elaina tersenyum lebar. "Gue ikut!"


"Emang di lo ada sekolah?" Tanya Elang.


"Ya ada lah. Emang di dunia lo doang yang ada sekolah?" Ucap Elaina. Tapi bedanya sekolahnya dengan sekolah rakyat biasa berbeda. Jika rakyat biasa bisa berbaur dan bertemu teman mereka di sekolah, berbeda dengan sekolah nya anak Raja. Guru yang datang ke kamar mereka dan melakukan pembelajaran privat.


"Masalahnya lo nggak punya seragam. Gue juga nggak punya seragam cewek." Ucap Elang.


"Apa seragam cewek sama kayak seragam yang lo pakai sekarang?" Tanya Elaina dan Elang mengangguk.


"Bedanya kalo cewek pakai rok." Ucap Elang. Agar lebih jelasnya ia membuka ponsel. Ia memiliki foto bersama temannya dan ada teman perempuannya yang tidak sengaja ikut terbawa di foto itu.


"Kayak gini." Elang menunjukkan ponselnya ke hadapan wajah Elaina. Lebih tepatnya memberitahukan Elaina bagaimana seragam perempuan.


"Okeee..." Hanya dengan menjetikan kedua jarinya Elaina sudah berganti memakai seragam SMA tempat belajar Elang.


Elang menelan salivanya susah. Sehebat itu? Ia tidak habis pikir bagaimana kehidupan di Klan Bulan yang di maksud Elaina. Semua orang mempunyai kekuatan. Itu pasti sangat keren.


"Jadi gue bisa ikut sekolah kan?"


"Belum. Syarat masuk sekolah lo harus punya ijazah SMP sama SD. Terus lo juga nggak punya Kartu Keluarga dan teman-temannya. Gimana lo bisa daftar sekolah?"


Elaina mengernyit tidak mengerti dengan apa yang di katakan Elang. "Tunjukin ke gue kayak gimana. Biar gue bikin." Ucap Elaina.


Elang langsung mencarinya di google. Ia menunjukkan semua yang harus di butuhkan untuk pendaftaran sekolah. "Tapi ini harus sesuai nama lo. Terus ini harus sesuai sama nama Ibu lo ini juga....." Elang menjelaskan semuanya pada Elaina dan Elaina menganggukkan kepalanya mengerti. Hanya dalam waktu satu detik semua persyaratan pendaftaran untuk masuk ke SMA Elgantra sudah ada di atas meja.


"Jadi gue bisa sekolah kan?"


Elang mengangguk. "Iya, ayo berangkat. Eh tapi lo nggak bawa tas?" Elang menunjukkan tasnya pada Elaina dan Elaina langsung memunculkan tas dengan model yang sama.


"Ganti El. Nanti lo keliatan tomboy di sekolah kalo pakek tas kayak gitu." Ucap Elang. Elaina mengingat kata tomboy. Perempuan yang menyerupai laki-laki.


"Oke, bakal gue ganti." Ucap Elaina yang langsung mengganti model tasnya.


Elang menganggukkan kepalanya saat melihat tas yang di pakai Elaina. Setelah siap keduanya keluar dari apartemen menuju sekolah. Hari ini mereka akan bersekolah.


"Ini namanya apa?" Tanya Elaina sambil menunjuk motor Elang.


"Ini namanya motor." Ucap Elang.


Elang ingin tertawa mendengar Elaina yang memang tidak tahu. Tapi ia tahan agar tidak menyinggung Elaina. "Ayo naik."


"Kecepatannya lebih cepat motor atau kuda?" Tanya Elaina saat naik ke atas motor.


"Motor lah." Ucap Elang. Tapi ia berpikir lagi. Ia saja belum pernah naik kuda, tapi pasti lebih cepat motor kan daripada kuda?


"Pegangan El, kalo nggak mau jatuh."


"Gini maksudnya?" Elaina memeluk Elang yang langsung membuat Elang tegang saat itu juga. Memang di Klan Bulan tidak ada pegangan saat berkendara? Tapi tidak apa lah. Daripada pegangan ia akan terlihat seperti tukang ojek.


Elang mulai melakukan motornya. Selama perjalanan keduanya diam saja. Elang yang fokus dengan jalanan dan Elaina yang menatap kagum sekitar.


"Kerajaannya yang mana?" Tanya Elaina sambil menatap gedung-gedung tinggi.


"Apa?" Elang tidak bisa mendengar dengan jelas suara Elaina karena ia memakai helm.


Elaina mengerti. Ia mendekatkan kepalanya. "Kerajaannya yang mana?"


"Kerajaan apa? Mermed?" Ucap Elang tidak mengerti.


"Apaan sih bukan. Di sini banyak bangunan tinggi. Terus kerajaannya yang mana? Pasti yang paling tinggi kan?" Ucap Elaina polos.


Elang terkekeh. Ia geleng-geleng kepala. "Di sini nggak ada istana El. Kita sistemnya presiden?"


"Presiden apaan?"


"Nanti kan sekolah nih. Lo bakal di jelasin."


Elaina menganggukkan kepalanya mengerti. Tidak lama mereka sampai di gerbang SMA Elgantra. Elang terus melakukan motornya sampai ke tempat parkir lalu memarkirkan motornya.


Elaina masih menatap takjub sekolah yang kini akan menjadi tempatnya belajar. Bangunannya sangat besar. Ya walaupun yang di Klan Bulan juga besar, tapi yang ini modelnya agak lain.


"Turun," Ucap Elang dan Elaina ikut turun. Ia menunggu Elang melepas helmnya. Tubuhnya tidak berhenti berputar memperhatikan sekolah.


"Hey," Elang menepuk bahu Elaina yang membuat gadis itu menatapnya.


"Ya?"


"Ayo, kita harus daftar."


Elaina mengangguk. Ia berjalan mengebor Elang. Baru beberapa langkah tangannya di tarik Elang untuk berjalan di sisinya. Banyak pasang mata yang menatap Elaina. Elaina yang bingung hanya tersenyum saja menanggapi orang-orang yang menatapnya.


"Lang," Bisik Elaina. Elang membalasnya dengan gumaman.


"Mereka kenapa ngeliatin gue?" Tanya Elaina.


"Lo nya terlalu cantik." Jawab Elang yang memang benar.


"Gila sih ini anak baru? Cantik bener."


"Titisan princess disney ini mah."


"Siapanya Elang? Kok bisa bareng Elang? Tapi cocok juga sih. Cantik banget lagi."


"Ini nih definisi bidadari jatuh dari surga. Cantik bener dah."


"Gila kok cantiknya kebangetan sih?"


Elaina terus menunduk saat banyak suara yang tertuju olehnya. Elang yang di sebelahnya terus menggenggam tangannya.


'Kayak nggak pernah ngeliat yang cantik aja.' Gumam Elang dalam hati.


*****