
Pintu gerbang negara Chikyu sudah didepan mata , Kasai dan Kemuri diam tak berkutik ketika menatap dua orang prajurit gagah berdiri tegak dengan menyilangkan kedua senjatanya . Kemudian dengan perlahan dan santai mereka mendekati pintu gerbang utama .
"Siapa Kau! , tunjukkan identitas dirimu dan surat masuk izin dari Negara Chikyu" pinta salah seorang prajurit
Kasai dan Kemuri menunjukkan surat yang semula diberikan ayahnya dan beberapa identitas dirinya pada prajurit Negara Chikyu.
"Baiklah ...silahkan masuk, tapi berhati-hatilah...disana ada banyak jebakan" ucap seorang prajurit setelah memeriksanya
Mereka akhirnya bisa bernafas lega setelah ketegangan menyelimutinya sebab penjagaan negara ini sangat ketat dan bertaruh nyawa jika ingin memasukinya .
Keduanya pun melangkahkan kakinya memasuki gerbang utama setelah mendapat izin untuk masuk.
Suasana asri dan tenteram dengan kesejukan alami hutan kehijauan dan birunya air mengalir deras hingga sesekali memercikkan tetes-tetesan airnya ke permukaan daun membuat suasana alami tersendiri.
Senja mulai menyelimuti bumi, cahaya jingga mengenai wajah Kasai yang membuat auranya semakin tajam.
Tampan? ya...sangat... ;v
Langkah demi langkah dilalui Dua kakak beradik itu dengan tenang.
"Ah ...katanya banyak jebakan ... sepertinya itu hanya ancaman saja!" Ucap kemuri yang membuka suara sembari menghentakkan kakinya pada genangan air didepannya
Kasai yang melihat itu langsung dengan gerakan kilat mendorong Kemuri dari genangan air itu, namun tetap saja, Kemuri berhasil menghindari itu tetapi tidak dengan kasai.
"(Gubrakkkkk)Aarrrgghhhhhh...." teriakan histeris dari kasai mampu membuat burung-burung berlari kesana kemari
"Kasaiii!!!...dasar kau...kenapa kau menyelamatkanku?!" teriak Kemuri dengan mata membola ketika melihat kasai yang terselimut oleh darah
Jebakan genangan air itu mengeluarkan perangkap berduri beracun yang tajam hingga tak segan menjepit sasarannya.
Jebakan itu berhasil mengenai lengan tangan kanan kasai hingga membuat luka yang cukup dalam. Darah merah menetes bagai hujan dipermukaan tanah.
" Sudah ku bilang!!!!...jangan pernah lengah!!!...Arrggghhh" bentak kasai yang meringis kesakitan menahan banyak darah yang keluar dari lengannya
"maafff...a a aku...tak sengaja" ucap Kemuri panik dan mendekati kasai yang semula terpental kesakitan cukup jauh
" biar aku lihat...." Pinta kemuri yang berusaha mencapai tangan adiknya
Kemuri memang ceroboh dan tak pandai bersenjata , namun keahliannya sanggup ia tutupi dengan menguasai ilmu medis dan obat-obatan.
Cukup dalam dan parah...tapi ba..bau ini seperti bau...racun! , dari tanaman itu . batin kemuri
"Baiklah... lukamu biarku ikat dulu dengan kain ini...agar racunnya tak menyebar ke seluruh tubuhmu" sahut Kemuri yang menyobek sebagian dari pakaiannya dan mengikatkannya pada lengan kanan adiknya
"Apa? ... Racun!!!" tanya Kasai kaget
" y...ya..." jawabnya kaku
"Jangan pergi...tetap disini..aku akan pergi mencari obat penawarnya" Teriak Kemuri yang berlari setelah memberikan pertolongan pertama
***
Huffttt...tanaman itu langka ...apalagi penawarnya...mati aku! bagaimana ini!.
batin kasai yang mengobrak-abrik tanaman di semak belukar dengan panik
"Hei!" Teriak seseorang dari belakang
Kemuri kaget hingga sedikit melompat
dan berteriak.
"Aaaaaaaaaaaa"
"hmm..hmm..hmm...sedang apa kau, Nak?" tanya kakek tua
"A..a..aku hanya mencari tanaman obat, Kek" jawab Kemuri yang berusaha mengatur nafasnya ketika melihat kakek tua itu memergokinya
" ApaKau...Ahli mediskah?" tanya kakek tua itu
" ya...sedikit" jawab kemuri gugup
"Siapa yang sakit?" tanya kakek itu dengan mengernyitkan keningnya
"Adikku terluka...dia menyelamatkanku dari jebakan itu" jawab kemuri
"Adikmu?... bawa aku padanya!" pinta kakek tua
"Kenapa?" tanya Kemuri dengan mata sinisnya
"Aku punya penawarnya...tapi bawa aku pada dia!" pinta kaket tua itu dengan tegas
" bbbbenarkah?... ikut aku" ucap kemuri dengan penuh semangat
Kemuri pun membawa Kakek tua itu pada kasai.
"Manaa dia?" batin Kemuri yang mencari dimana sosok adiknya
Yang terlihat hanya bercak darah yang membawa pada balik pepohonan
"Disana!" ajak Kemuri pada Kakek tua sembari menunjuk salah satu pohon didepannya
Langkah keduanya mengeluarkan bunyi yang membuat Kasai refleks memegang pedangnya dengan tangan kirinya mengarahkan pada leher salah seorang dari mereka.
"Siapa kau!" tanya Kasai dengan tatapan membunuhnya
"Ka...kasai...Aku membawa penawarnya" jawab Kemuri yang menaikkan kedua tangannya
"Mana!!... siapa dia...?!" tanya Kasai penuh pertanyaan
"Kau!!!... " jawab Kakek tua itu dengan menunjuk wajah Kasai penuh pertanyaan
"Kau ..anak itu bukan?!" tanya kakek tua itu membuat Kemuri kebingungan
"Aaahhh...kau sudah tumbuh besar, Nak".Ucap Kakek tua dengan penuh kegembiraan
"Siapa kau?" tanya Kasai dengan sinis
"Ekhmmm...kakek katanya mau berikan penawarnya...jika kalian terlalu banyak basa basi maka racunnya akan membunuh Kasai...Adikku" Sahut Kemuri yang semula berdehem melihat keasyikan dua insan yang bertemu setelah sekian lama
Entahlah aku tidak mengerti kapan mereka berjumpa tapi keselamatan Kasai tetap nomor satu bagiku.batin Kemuri
"Ahh iyaa...lukamu sangat parah...ikut aku...biar aku obati...sebab tanamannya ada dirumahku" ucap Kakek tua itu kaget dan merangkul Kasai membawanya pergi
"Heiii...kau melupakanku" teriak Kemuri yang berusaha menyeleraskan langkahnya
Hikksss dasar Kakek tua! pelupa! aku yang membawanya...aku juga yang dilupakan! . batin Kemuri yang mengeluh
Ditengah perjalanan tampak hening hingga Kakek tua itu membuka bicara
"Aku mantan tabib Kerajaan Tsumetaidesu, Nak" kata Kakek tua yang membuat dua pemuda itu kaget
"dasar tomat!!!"
" heii...jangan ganggu dia!"
"apa kau mau melindunginya?"
" hahahahah...coba lihat wajahnya semakin memerah"
"cukupppppp!!! hentikan, aku tidak suka jika kalian mengganggunya"
"Arrrrrrrgggghhhhh!!!! saaakitttttt"
" makanyanya jangan sok jadi jagoan...kena pukul saja menangis"
"jahat!! .....ayo ikut aku...Tabibku akan mengobatimu"
"lukamu cukup dalam...biar aku obati"
Ingatan bagai kaset rusak terputar di memori Kasai. Ia mulai mengingat siapa Kakek tua itu.
"sampai...ini dia rumahku" kata kakek tua itu
"silahkan masuk...maaf jika sedikit berdebu...tubuhku semakin menua jadi membersihkannya pun sulit bagiku heheheh" lanjutnya
rumah ini sama seperti dulu...tak ada perbedaan sedikipun. batin Kasai
"sebaiknya bawa dia istirahat dulu dikamar" perintah kakek tua itu pada kemuri
"Baik" jawabnya lalu menuju pintu kamar
"Sebaiknya kau istirahat dulu...aku akan membantu Kakek menjengkelkan itu ya" pinta Kemuri yang membaringkan tubuh adiknya diranjang
"hmmmm" jawab Kasai singkat
Kemuri pun pergi membantu Kakek tua itu mencabut tanaman obat yang ditanamnya dibelakang rumah.
"cukup! sebaiknya cuci dan haluskam terlebih dahulu" perintah Kakek tua itu pada Kemuri
"Baik" jawab Kemuri
Setelah semua selesai, mereka pun membalut dedaunan yang dihaluskan itu pada lengan kasai dan membungkusnya dengan kain.
"Selesai!" ucap Kemuri
" Apa masih sakit?" lanjutnya
" ya...sedikit" jawab Kasai dengan datar
"Baiklah...jika sudah selesai datang dan makan malam" teriak Kakek tua dari arah dapur
"yaa..kakekk...heheheh kebetulan aku sangatt laparrr" jawab kemuri dengan semangat
Mereka pun beranjak dari tempat tidur menuju arah dapur. Tiba-tiba kasai terhenti pada sebuah meja yang dilihatnya.
"Heii...ayo cepatt..aku laparrr" keluh Kemuri
"Duluan" jawab Kasai dingin
Kasai melangkahkan kakinya pada sbuah meja yang dilihatnya. Sebuah kalung dengan permata emerald hijau tergantung pada sebuah foto gadis kecil yang dilihatnya.
"Dia?" tanya Kasai pada dirinya
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu Kasai dari arah belakang
"Cukup...Nak...saatnya makan" ajak Kakek tua yang membuat lamunan Kasai terhenti
"Ahh...yaa" jawabnya singkat
Dari arah dapur terlihat Kemuri makan dengan lahap makanan yang tersaji diatas meja yang sebatas lutut itu.
"Dasar Rakus!!!" Ucap Kasai dengan volume kecil namun masih didengarkam
Kakek tua itu
"hah ...aku memasakkan makanan kesukaaanmu" ucap kakek tua
Kasai dan Kakek tua itu duduk dilantai kayu yang masih kokoh tanpa lapuk sediktpun
masih seperti dulu. batin kasai yang merasakan sejuknya lantai kayu yang didesain khusus itu
Makan malam pun dimulai meski Kemuri lebih dulu sebab ia sangat lapar setelah melakukan perjalanan jauh yang ditempuhnya bersama adiknya.
" Istirahatlah...kalian cukup lelah" pinta kakek yang membereskan piring kotor
"ahh yaa...kakek aku sangat lelah" ucap Kemuri yang merangkul Kasai membawanya di ruang tidur yang semula
Suasana mulai hening sebab semua sudah terlelap dalam tidurnya. Tetapi, tidak dengan Kasai yang matanya teertuju pada jendela kamar .
Astagaaa!!! malam ini???. batin Kasai yang terkejut
Dengan secepat kilat , ia menghilang dari tempat tidurnya meninggalkan Kemuri yang masih terlelap dalam tidurnya.