
"Kenalin, gue Ersha. Lo bisa panggil gue Echa."
Elaina menatap tangan perempuan yang mengambang kini di depannya. Ia tersenyum lalu menjabat tangan itu. "Elaina. Lo bisa panggil gue El." Ucap Elaina.
Elang yang masih duduk di samping Elaina hanya menyimak percakapan di antara Elaina dan Ersha. Elang tidak akan membiarkan Elaina berteman dengan perempuan yang tidak baik di sekolah. Dan Ersha termasuk anak yang baik. Elang tahu bagaimana Ersha.
"Lo hebat banget tadi. Orang pertama yang ngumpulin dan yang dapet nilai seratus juga. Hebat!" Puji Echa.
Elang menatap Echa. "Gue nya nggak di puji?" Ucap cowok itu.
Echa melirik sinis ke arah Elang. "Lo mah paling nyontek ke El. Selama ini lo belum pernah dapet nilai bagus." Ucap Echa meledek Elang.
"Kurang ajar ya lo." Ucap Elang. Tapi memang benar sih apa yang di katakan Echa.
"Mending kita ke kantin. Lo lapar kan?" Elang mengajak Elaina tapi tidak mengajak Echa. Biarlah, salahkan diri sendiri kenapa meledek nya.
"Dih, El mah sama gue."
"Gue sepupunya. Jadi El sama gue." Ucap Elang.
"El nggak bakal nyaman kalo sama lo dan teman-teman lo yang cowok itu. Mending sama gue, sama-sama cewek. Iya nggak El?"
Elaina menatap Elang dan Echa bergantian. Sampai ia menatap Elang dengan senyum manis. "Gue sama Echa aja ya?"
Elang menatap Echa yang kini memeletkan lidah ke arahnya. Ia berdecak. "Ya udah, tapi kalo dia galak lo langsung telepon gue." Ucap Elang yang di angguki Elaina.
"Yeee... emang gue nenek lampir apa.." Ucap Echa.
Elang tidak menghiraukan Echa. Ia berdiri lalu berjalan keluar dengan Evan dan Ergi yang mengekori dari belakang. Kedua laki-laki itu sedari tadi menunggu Elang di depan pintu kelas.
Echa menatap Elaina lalu tersenyum. "Yuk, kita ke kantin juga." Ucap Echa yang di angguki Elaina.
Keduanya berjalan berdampingan keluar kelas menuju kantin. Banyak yang menatap Elaina sampai gadis itu menunduk karena malu. Kalau seperti ini di kerajaannya lalu di tegur oleh prajuritnya, pasti mereka akan langsung menunduk. Tapi kan disini tidak ada prajurit Kerajaan Klan Bulan.
"Kenapa sih mereka ngeliatin terus?" Bisik Elaina pada Echa.
Echa terkekeh. "Ya karena lo cantik." Ucap cewek itu.
"Lo juga cantik."
"Cantikan lo. Gue juga yang sebagai cewek kagum sama kecantikan lo."
"Lo terlalu berlebihan ah."
Setelah melewati tatapan manusia yang memuja dan ada juga yang sirik, akhirnya mereka berdua sampai di kantin. Keduanya langsung berjalan menuju tempat kosong yang tersedia lalu duduk di sana.
"Berhubung lo masih anak baru, jadi gue aja yang pesan makanan." Ucap Echa yang di angguki Elaina.
"Lo mau apa?"
Elaina yang tidak tahu makanan di sini terlihat bingung. Daripada Echa menunggu lama, jadi apa sajalah. "Samain aja sama lo."
"Samain kayak gue?"
Elaina mengangguk kemudian Echa pergi dari sana untuk memesan. Elaina yang tidak tahu harus apa mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru kantin. "Mereka mainin benda apaan sih? Kayak yang seru. Elang juga punya yang kayak gitu. Jadi pengen." Ucap Elaina yang menjadi ingin punya ponsel melihat semua murid di sini membawa ponsel. "Gue tanyain Elang aja deh. Dan minta dia buat beliin. Eh, tapi dia mau nggak ya?" Elaina mengedarkan pandangannya mencari Elang, dan ketemu! Elang sedang menatap ke arahnya. Ia duduk bersama teman-temannya. Bahkan saat makan pun Elang sedang menatapnya.
Elaina mengalihkan tatapannya ke arah lain saat Elang menunjukkan senyumannya. "Kenapa dia bisa manis banget kayak gitu?" Gumam Elaina yang salting sendiri melihat senyuman Elang.
Tidak lama menunggu akhirnya Echa datang dengan dua piring makanan yang Elaina tidak tahu apa itu. Ia menaruhnya di atas meja. "Minumannya?"
"Eh, minuman juga? Gue aja yang beli."
Echa menggeleng. "Nggak, nggak. Gue aja. Lo udah duduk di sini aja."
"Nggak papa beneran Cha?"
Echa mengangguk lagi untuk meyakinkan Elaina. "Iya beneran dah. Lo mau apa?"
"Samain aja."
Echa mengerutkan keningnya. "Lo dari tadi samain terus? Kalo lo nggak suka gimana?"
Elaina menatap kiri dan kanan mencari alasan yang bagus. "Oh, itu karena gue belum mengenal makanan di sekolah ini. Terus juga, gue suka apapun itu kok." Ucap Elaina.
Echa menganggukkan kepalanya mengerti. "Ya udah, gue pesen dulu."
Echa pergi lagi, berhubung Elaina tidak punya barang seperti kebanyakan murid di sini, jadi ia memilih untuk memangku dagunya dengan kedua tangan. Yang di lakukan Elaina mengundang tatapan murid-murid yang lain.
"Eh gila, cantik bener. Anak baru? Gue baru liat."
"Sumpah sih sengaja atau nggak tapi dia kiyowooo..."
"Titisan bidadari juga ada yang sekolah ya?"
Dan banyak lagi pujian lainnya. Elaina yang tidak sadar kalau itu di tujukan untuknya hanya diam saja sambil menatap kosong meja yang ada makanan yang dia tidak tahu itu apa. Bentuknya bulat dan ada banyak. Sekitar empat buah dan ada juga yang besar tapi cuman ada satu.
Elaina mengambil garpu lalu mencolok makanan yang menurutnya aneh itu. Ia menatap makanan itu dengan tatapan aneh. "Aneh banget. Kirain keras, ternyata kenyal."
"El, lo lagi ngapain?"
Elaina refleks menaruh kembali makanan yang baru saja ia perhatikan. Ia tersenyum ke arah Echa yang membawa dia gelas minuman lalu duduk di hadapannya.
Elaina menggeleng. "Nggak papa. Udah laper aja."
"Ya tinggal makan duluan."
"Nggak lah. Nggak enak banget."
"Biasa ajaa."
Keduanya kemudian langsung makan. Elaina yang langsung menggigit makanan itu yang tak lain adalah bakso, dan Echa yang membalurinya dulu dengan sambal dan saos.
"Lo nggak suka pedes?" Tanya Echa.
"Suka." Ucap Elaina.
"Ini, pake sambelnya."
Elaina menatap sesuatu yang tadi di sebut sambal oleh Echa. Apakah itu rasanya pedas? Ia menuangkan beberapa ke baksonya lalu mengaduk nya sampai kuahnya berubah warna menjadi warna merah. Setelah itu ia langsung menyantapnya dan memang benar, rasanya pedas.
Elaina langsung menyembunyikan ekspresi kagumnya, tidak mau Echa merasa curiga. Ia kemudian menikmati makanan itu dengan sangat nikmat sampai habis.
"Kenyang?" Tanya Echa dan Elaina mengangguk.
"Masih lama ke bel masuk. Gimana kalo kita ngobrol dulu?"
Elaina mengangguk.
"Kenapa lo pindah ke sekolah ini? Emang sekolah di Canada nggak enak?" Tanya Echa yang membuat Elaina mati kutu. Canada apa? Elaina sudah membayangkan kalau Canada itu adalah sebuah tempat. Tapi ia harus menjawab apa?
"El, gue mau ngomong penting dulu sama lo."
*****