
"Gue bakal jelasin. Lo berdua dengarkan baik-baik." Ucap Evan lalu menatap Elaina dan Elang bergantian.
"Gue waktu masih di sana, di Klan Matahari, gue sempet latihan berburu sama kakak gue. Disitu kakak gue berinisiatif kalau lebih baik kita berdua mencar aja. Gue nurut. Jadi kita mencar, nah pas mencar, gue nemu rusa. Gue kejar rusanya, dan ternyata rusanya masuk ke dalam gua. Gue ikutin. Gue nggak tau kalau pintu masuk gua itu adalah pintu portal menuju dunia fana."
Elang mengernyit. "Berarti lo di sini udah dua tahun?" Tanya cowok itu dan Evan mengangguk.
"Tantangan gue belum selesai."
"Apa tantangan lo yang belum lo selesain?" Tanya Elaina. Bahkan ia tidak tahu kalau mau keluar dari sini harus melewati tantangan.
"Gue harus ngebahagiain orang yang selalu bikin gue bahagia."
"Siapa?"
Elang mengangkat kedua bahunya. "Gue juga nggak tahu."
"Emang kalau mau keluar dari dunia fana harus melewati tantangan?"
Evan mengangguk. "Tantangan itu bakal datang seminggu setelah lo tinggal di dunia fana. Karena lo baru dua hari, mungkin nanti akan datang. Lo tunggu aja."
"Berapa tantangan?"
"Sepuluh. Dan tantangannya aneh-aneh. Gue juga nggak ngerti." Ucap Evan.
"Ini benaran kan, kalau kita ngelewatin tantangan bakal balik lagi?" Ucap Elaina yang sudah merindukan Klan Bulan.
Evan mengangguk. "Sejarahnya juga mengatakan begitu."
"Gue nggak pernah denger."
"Berapa usia lo?" Tanya Evan.
"17 tahun."
"Lo masih terlalu muda untuk tahu kisah portal dunia fana."
"Memang di batas umurnya?"
Evan mengangguk.
Elang menatap Evan. Elaina saja yang berusia 17 tahun tidak tahu tentang portal dunia fana. Bagaimana dia bisa tahu? Memangnya dia umur berapa? "Emang lo umur berapa?"
"27 tahun."
"27?!" Pekik Elaina dan Elang bersamaan.
Evan mengangguk.
"Tapi lo masih keliatan umur 18 tahun." Ucap Elang yang tidak percaya kalau sahabatnya ini berumur 27 tahun.
"Gue juga nggak tau. Mungkin emang di takdirkan kayak gini."
Elaina menganggap ini wajar karena Evan berasal dari Klan Matahari. Karena Klan Matahari punya kebiasaan mandi di mata air keabadian yang membuat mereka selalu muda.
"Ya kan lo dari Klan Matahari."
"Apa hubungannya?"
"Klan Matahari suka mandi di mata air keabadian. Lagi pula itu mata air milik Klan Matahari. Kekayaan Klan Matahari yang tidak bisa di tukar oleh apa pun."
"Pinter juga lo."
Elaina memutar kedua bola matanya. "Gue juga nggak bakal tau kalau gue bukan Puteri Klan Bulan. Jadi Puteri membuat gua harus tau banyak hal. Bahkan di luar tentang Klan gue sekalipun."
"Itu sih konsekuensinya. Gue denger lo punya kakak. Iya?"
Elaina mengangguk. "Iya, kakak gue ada empat. Tapi satunya udah gue bunuh."
Elang melebarkan kedua matanya. "Lo ngebunuh kakak lo sendiri?"
Elaina mengangguk. "Ceritanya panjang Lang. Mungkin kalau gue ceritain ke lo nggak bakal selesai. Tapi mungkin lo ngerti Van."
"Apa?"
"Lo tau kompetisi mencari bunga Arabella?"
Evan mengangguk. Itu adalah kompetisi yang di adakan klan bulan. "Kenapa?"
"Gue sama kakak-kakak gue ikut lomba itu. Dan salah satu kakak gue ngincer kakak gue yang lain, yang sekelompok sama gue. Jadi mau nggak mau gue bunuh dia."
"Gue nggak ngerti." Ucap Elang.
Elaina menghela napas. "Gue juga bilang lo nggak bakalan ngerti. Butuh penjelasan panjang kalau sama lo. Kalau sama Evan kan, karena dia tahu klan gue jadi nggak usah bertele-tele."
"Bisa lo ceritain nanti di apartemen?"
Elaina mengangguk. Cewek itu kembali menatap Evan. "Dan sekarang lo tinggal dimana? Terus uang lo? Lo makan make apa?"
Evan menyunggingkan senyumnya. "Gue kerja sebagai guru les. Walaupun nggak seberapa muatlah untuk makan. Pengetahuan di dunia fana gue tinggal baca sendiri."
"Berarti itu alasan lo kenapa lo pinter banget?" Tanya Elang.
Evan mengangguk. "Iya,"
"Jadi intinya kalo gue mau balik lagi, gue harus ngelewatin tantangan?"
Evan mengangguk. "Iya,"
"Apa setiap tantangan nya beda-beda."
"Iya, beda-beda. Setiap orangnya nggak akan mendapat tantangan yang sama."
"Oke kalau gitu makasih. Pulang yuk, Lang." Ucap Elaina.
Evan tersenyum kecil. Baguslah kalau Elaina ada yang menampung. Baru kali ini terjadi seorang tuan Puteri yang terlempar ke dunia fana. Semoga Elang bisa menjaganya dengan baik.
"Ayo. Van, kita pulang dulu ya,"
"Yoi," Balas Evan.
Elaina dan Elang pergi keluar. Meninggalkan Evan yang masih duduk di sana. Tadi Evan bilang kalau duluan saja.
Elang menatap Elaina. "Lo mau makan apa hari ini?" Tanya Elang.
Elaina tampak berpikir. Ia sudah mencoba beberapa makanan di sini. Tapi ia belum tahu banyak. "Apa aja. Yang menurut lo enak."
"Oke,"
Mereka berdua kini sudah berada di atas motor. Elang langsung melajukan motornya saat Elaina sudah berpegangan.
"Nanti kapan-kapan masakin masakan lo yang ada di sana ya?" Ucap Elang. Ia mengucapkannya sedikit keras karena suaranya tertelan angin.
Elaina mengangguk. "Tapi jangan salahin kalau nggak enak."
"Emang lo nggak bisa masak?"
"Bisa, cuman nggak terlalu bisa. Tapi kayaknya makanan yang disini lebih gampang buat di coba deh daripada makanan yang di sana."
"Memangnya susah?"
Elaina menggeleng. "Nggak susah. Cuman guenya aja yang nggak bisa-bisa." Keduanya kemudian tertawa sampai Elang memberhentikan motornya di dekat tempat pecel lele. Setelah membeli, tidak butuh waktu lama karena tidak terlalu ramai, Elang kembali dengan pecel lele di kantong plastik yang ia bawa.
"Apa itu?"
"Pecel lele. Enak banget. Lo harus coba." Ucap Elang.
Elaina tersenyum lebar. Kalau Elang mengatakan enak berarti makanan itu memang enak. "Ayo pulang, gue jadi nggak sabar!"
Keduanya kemudian kembali ke apartemen. Dengan langkah yang di ayun Elaina masuk ke dalam apartemen di ikuti Elang di belakangnya. Elang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Elaina. Hanya pecel lele tapi cewek itu benar-benar senang.
"Mau langsung makan apa mandi dulu?" Tanya Elang.
"makan dulu aja ah. Gue lapar."
"Oke, ambil piring."
Elaina berjalan ke arah dapur lalu mengambil piring yang di minta Elang. Tak lupa ia membawa nasi karena orang di sini tidak akan di sebut makan kalau tidak ada nasi. Mau sebanyak apapun itu makanannya.
"Ini,"
Elang menerima piring yang di berikan Elaina. Ternyata Elaina tidak susah di beri tahu. Bahkan hanya perlu satu kali di beri tahu Elaina akan langsung mengerti.
"Pecel lele siap!!"
"Yeay!!!"