Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
Bab 10 : Perasaan yang mulai muncul



"itu Kasai!" teriak putri Nami yang berlari sembari menunjuk-nunjuk sesuatu disana


Kemuri mulai tersadar dari lamunannya dan ikut berlari mengejar Putri Nami.


Setelah sampai ditempat yang ia tuju , Putri Nami langsung menempatkan tubuh kasai yang dingin bagai es yang telah beku dipangkuannya . Tubuh yang lemas tak bertenaga membuat Putri Nami tak berhenti menangis.


"Kasaiiiii!!! bangunnn"


"Sebaiknya kita bawa dia dibawah pohon itu, biarkan dia beristirahat penuh. Aku akan mencari tanaman obat" ucap Kemuri dengan tatapan sendu


Mereka pun membawa Kasai dan menidurkannya dibawah pohon yang rimbun.


Dengan segera putri Nami memulai aksinya, ia ingin membalut luka kasai dengan beberapa kain yang dibawanya . Tapi terlebih dahulu ia harus membersihkan bercak darah yang mulai membeku.


"Putri Nami...lukanya jangan dulu dibalut. Aku akan menempelkan beberapa tanaman obat agar mempercepat penyembuhannya" kata kemuri dengan bijak


"Baik!" jawab putri Nami sembari menganggukan kepalanya


Selang beberapa lama mencari sesuatu di semak-semak , ia mulai menemukan tanaman obat yang dicarinya. Dengan segera mungkin kemuri berlari agar sampai tepat waktu.


" Aku mendapatkannya!" teriak kemuri sembari melambaikan beberapa tanaman yang dipegangnya


Setelah sampai, Kemuri meracik tanaman obat itu sambil menghaluskanya dengan peralatan yang disediakan Putri Nami dan menempelkannya dilengan dan perut Kasai.


"Selesai!" ucap kemuri dengan gembira


"Ya...aku berharap Kasai segera sadar"


Ajaib!!! Ucapan Putri Nami baru saja itu langsung terkabulkan, Kasai mulai sadar dari pingsannya . Ia berkali-kali berusaha membuka mata yang tertutup cukup lama.


Kegembiraan merasuki Putri Nami dan Kemuri yang berhasil menyelamatkan sosok pahlawan itu.


"Kasai!" teriak Putri Nami sembari memeluk erat tubuh Kasai


Sedangkan Kemuri yang melihat itu hanya bisa tersenyum lepas.


"Arrgghhh...kau berat" gumam Kasai yang membuat Putri Nami sadar


"Maaf...Sebaiknya kamu minum dulu dan makan ini ya" ajak putri Nami yang menyodorkan bekal yang disembunyikan olehnya dibalik balutan kain yang dibawanya


Kasai yang merasa tak berdaya hanya mengangguk dan mengiyakan apa yang dikatakan Putri Nami.


"*Aku akan melindungimu semampuku "


"Jangan pernah tinggalkan aku ya*"


Perasaan tak terduga bermunculan dihati Kasai. Bayangan bagai kaset rusak terputar dipikirannya mengingat beberapa ingatan masa kecilnya bersama Putri Nami.


Setelah merasa cukup , lelaki bertubuh atletis namun dibalut dengan mantel hitam yang dikenakannya berusaha bangkit lagi.


"Cukup...kau istirahat dulu" pinta kemuri


" Tidak...kita harus mencari orang itu kak"


"Siapa....kasai?" tanya Putri Nami merasa kebingungan


Kasai tak merespon dan menjawab apapun yang ditanyakannya. Ia adalah orang yang keras kepala , selalu merasa tidak tenang jika tujuannnya belum terpenuhi.


Dengan paksa Kasai berdiri walau kaki yang digunakannya untuk berpijak masih terlalu lemah.


"CUKUP KASAI!!!!" bentak Kemuri


" Sebaiknya kau istirahat dulu...esok kita akan lanjutkan perjalanan ini...hari sudah semakin gelap" ucap Putri Nami


Setelah melalukan beberapa penolakan, akhirnya Kasai larut didalamnya. Ia harus ikut apa yang dikatakan mereka.


****


Fajar mulai menyinari bumi, beberapa kicauan burung menyambut cahaya yang perlahan mewarnai bumi.


Putri Nami sesekali mengusap matanya yang masih kelelahan.


"Kasai!!!" dimana Kasai!!!" teriak putri nami yang mencari-csri sosok lelaki yang ada dipikirannya


Kemuri yang masih terlelap dalam tidurnya langsung tersentak bangun .


"Apa!!! dimana dia?" teriak Kemuri yang kaget akan ketidakberadaan Kasai disisinya


Kasai menghilang tanpa jejak yang ditinggalkannya.