Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
Bab 11 : Aku Dimana???



"Aku terpaksa melakukannya yang mulia, Maafkan aku" ucap seorang lelaki yang sedang berlutut


"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk melukainya!!!! sialan kau!!!" bentak Raja Nazo


Raja Nazo? ya, dia adalah dalang dibalik semua ini. Pemikiran dan rencana liciknya sangat teratur sesuai rencana.


Dengan cepat , Ia mengambil sebilah pedang bermata 6 miliknya dan menghadapkannya ke leher orang itu.


"Itu adalah racun yang berbahaya!!! Penawarnya pun sulit untuk didapatkan!!!"


"Sekarang , kau harus mencari Penawarnya!!! jika Putraku Kasai mati karena racun itu ...maka aku tidak akan mengampuni keluargamu bahkan garis keturunanmu!!!. aku akan membunuh mereka , hingga tak menyisakan sedikit pun diantara kalian!" ancam Raja Nazo


Dengan pakaian lusuh dikenakannya , orang itu bersujud memohon ampun .


"Ampuni kami yang mulia...jangan bunuh mereka...bunuh saja aku" pinta lelaki paruh baya itu dengan isakan tangisnya


" jelas aku tidak akan membunuhmu... tapi apabila kau tidak menemukan penawarnya...MAKA SEMUA GARIS KETURUNANMU AKAN MATI DITANGANKU!!!"sergah Raja dengan pedangnya


Lelaki itu dibasahi peluh diwajah hingga sekujur tubuhnya karena ketakutan.


"B-baik yang mulia. Hamba akan mencari penawarnya dengan bartaruh nyawa sekalipun" lirihnya


Sedangkan disisi lain ada seseorang yang sedang mengamati mereka dari jauh. Namun suara mereka tetap terdengar olehnya.


" ouh jadi begitu ya?"


***


Kemuri dan Putri Nami berkeliling ditempat sekitarnya beristirahat sembari berteriak memanggil "Kasai"


"sepertinya dia sudah menjauh dari sini" sahut Kemuri yang menyerah


"Tidak...dia masih disekitar sini" Ucap Putri Nami dengan tekad yang kuat


Ia terus berkeliling mencari sosok Kasai walau sesekali pakaian yang digunakan para Putri kerajaan sobek akibat goresan Kayu yang tajam.


***


Kerajaan Tsumetaidesu


Seorang Putri turunan dari bulan masih terbaring lemas didalam manshion putri Nami.


"Putri Hikari..." panggil Ratu yang masih setia duduk ditepi ranjang


Perlahan tapi pasti , ia berhasil membuka mata indahnya. Tampilan pupil mata bagai bulan purnama sangat memanjakan mata yang melihatnya.


Senyuman merekah dibibir manisnya. Lentikan mata alaminya mengedip beberapa kali agar melihat ruangan itu untuk pertama kalinya.


"Aku dimana?" tanya gadis itu dengan lembut


"Selamat datang dikerajaan Tsumetaidesu, Nak." jawab Ratu dengan tatapan yang meyakinkan


Melihat Putri Keturunan bulan itu sadar , Ratu dengan segera mungkin menyuruh para pelayan kerajaan untuk memberitahu raja.


Kesadaran putri Hikari mampu meramaikan kerajaan yang semula sepi akibat serang dadakan itu.


Raja berlari dengan senyuman kemenangan menggeruguti hatinya tak sabar melihat putri bungsunya.


"huh..huh..huh..Putriku Hikari??" kata Raja dengan nafas yang terengah-engah


Tak membutuhkan waktu lama , Raja dengan cepat memeluk putri bungsunya.


Untuk pertama kalinya Putri Hikari mendapat dekapan hangat langsung dari seorang ayah kemudian dilanjutkan oleh Sang Ratu.


Penyambutan kebahagiaan atas kesadaran putri Hikari sangat mewarnai kerajaan itu.


"Untuk semua pelayan...aku akan membagikan koin emas dalam jumlah banyak setelah kalian membereskan separuh reruntuhan dan kerusakan kerajaan ini" perintah Raja dengan hati yang senang


Para pelayan dan Prajurit kerajaan antusias membersihkan semuanya demgan cepat.


"Kau sekarang adalah Putri bungsu kami" timpal ratu


Putri Hikari berbalik menatap lekat wajah yang akan dianggapnya sebagai seorang ibu.


"Permaisuriku...tolong hias putri bungsu kita selayaknya seorang putri kerajaan" perintah raja dengan tersenyum


Kembali lagi , putri hikari menatap sosok lelaki tua yang akan dianggapnya seorang ayah.


Terasa aneh bukan, disaat bangun dari tidur yang panjang kita sudah menjadi seorang putri bungsu kerajaan ternama di negara Chikyu.