Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
EFROET



Disini lah mereka berdua berada. Di kafe guardian. Elang menemani Elaina untuk membaca buku di sini. Elang hanya ingin membuat Elaina fokus karena menurutnya buku ini tergolong rumit karena istilah yang tidak ia ketahui. Tapi mungkin Elaina tahu. Elang hanya ingin membuat Elaina nyaman sambil membaca buku itu.


Elang menatap Elaina yang tampak fokus membaca kata demi kata dari buku itu. Elang terkekeh pelan mengingat dirinya yang tidak bisa fokus karena banyak istilah yang tidak ia ketahui. Bahkan ia bolak-balik melihat internet karena tidak mengerti. Dan yang lebih lucunya internet pun tidak tahu. Aneh, mungkin hanya klan Bulan yang mengetahui itu.


Sudah satu setengah jam tapi Elaina belum sama sekali meminum minuman yang Elang pesan. Elang menyentuh cangkir minumannya. Sudah dingin. Ia ingin menyuruh Elaina untuk meminumnya tapi takut mengganggu gadis itu.


"Elang?"


Elang langsung mendongak menatap Elaina. "Ya?"


"Gue udah selesai. Pulang yuk."


"Udah semua?"


Elaina tertawa. "Ya enggak lah. Bukunya tebal, nggak mungkin habis sehari ini aja. Kita udah berapa jam di sini?" Tanya gadis itu.


"Satu setengah jam."


"Wow, lumayan lama ya." Elaina mengambil secangkir cappucino yang tadi di belikan Elang lalu meminumnya.


"Emang enak?" Tanya Elang karena Elaina meminumnya dalam keadaan dingin.


Elaina mengangguk. "Enak."


"Kan udah nggak panas."


"Pas aku megang, aku panasin dulu, baru aku minum." Ucap Elaina.


Elang sepertinya lupa kalau Elaina ini Puteri Klan Bulan. Pasti kekuatannya juga luar biasa.


"Yuk kita pulang." Setelah menghabiskan cappucino, mereka berdua pulang.


"Lo mau makan apa?" Tanya Elang setelah mereka berdua sudah berada di atas motor.


"Gimana kalau kita masak sendiri aja? Nggak usah beli." Ucap Elaina.


"Lo bisa masak?"


Elaina mengangguk. "Bisa, gue masakin masakan klan Bulan mau?"


"Oke, eh tapi bahan-bahannya?"


"Mm... kita beli aja dulu di supermarket."


"Emang bahan-bahannya sama?"


"Ya kalau nggak ada gue tinggal beli aja yang mirip. Gampang." Ucap Elaina.


Elang membawa motornya menuju supermarket terdekat. Setelah itu ia memarkirkan motornya. Mereka berdua masuk ke dalam supermarket. Elaina sudah hampir dua minggu tinggal di dunia fana. Jadi dia sudah bisa beradaptasi dengan semua yang ada di sana. Hanya saja Elaina bingung, sudah hampir dua minggu ia tinggal di sini tapi kenapa ia belum juga mendapatkan tantangan yang di maksud Evan? Ia pernah menanyakan nya pada Evan, dan Evan menjawab kalau mungkin sebentar lagi akan datang. Mungkin, tunggu saja.


Keduanya berjalan menuju tempat daging-daging karena Elaina yang menginginkan itu. Elaina akan membuat Efroet, makanan dari Klan Bulan yang berasal dari daging Fear.


"Mm.. di sini tidak ada daging Fear ya?"


"Hah? Daging apa?"


"Fear."


"Hewan apaan tuh?" Elang sangat asing dengan nama itu.


"Itu hewan berkaki empat. Mempunyai telinga yang panjang, tapi tidak sampai menjuntai ke bawah. Dan dagingnya sangat empuk. Kalau masih suaranya dia suka berbunyi seperti bunyi lonceng."


"Hah?" Elang berpikir. Sepertinya tidak ada hewan sejenis itu.


"Ada nggak?"


"Disini nggak ada hewan kayak gitu."


"Mm... yaudah nggak papa. Disini yang daging nya empuk apa?"


"Sapi aja gimana?"


"Oke."


"Apa lagi?"


"Kita ke tempat sayuran."


Mereka berdua pergi ke tempat sayuran. Elaina mengambil sayuran secukupnya. Yang hanya dia butuhkan untuk membuat Efroet. Setelah itu, mereka membayar ke kasir.


"Nggak ada bumbu yang lo butuhin?"


"Di rumah kamu banyak bumbu kan?"


Elang mengangguk. Ia suka menstok bumbu-bumbu karena terkadang ia memasak sendiri untuk makan. "Ada,"


Setelah membayar mereka pun pulang. Jarak antara supermarket dan apartemen tidak terlalu jauh. Selama di jalan, Elang menanyakan seperti apa Klan Bulan. Dan Elaina menjawabnya dengan senang hati. Ia senang jika di suruh menceritakan klannya. Dan ia hanya bisa menceritakan Klan nya pada Elang.


Sesampainya di apartemen mereka langsung naik ke lantai tujuh, tempat apartemen Elang berada.


"Lo langsung mandi. Biar gue yang masak." Ucap Elaina saat sudah masuk ke dalam apartemen.


"Lo nggak butuh bantuan gue?"


"Nanti kalau butuh gue panggil lo." Ucap Elaina.


Elang kemudian berlalu menuju kamarnya. Ia membersihkan diri setelah lelah seharian belajar di sekolah. Elang selesai dalam beberapa menit. Mungkin kurang lebihnya dua puluh menit. Ia sudah keluar lagi dengan kaos dan celana pendek. Ia berjalan menghampiri Elaina yang sedang sibuk memasak di dapur.


"Udah?"


"Bentar lagi." Ucap Elaina. Ia langsung menghalangi pandangan Elang yang akan melihat Efroet buatannya.


"Lo nggak boleh liat dulu. Sebelum jadi, lo nggak boleh liat Efroet."


"Oke, oke." Elang memilih duduk di pantry. Ia menatap Elaina yang sibuk memasak dengan rambut yang di ikat asal. Terlihat sangat cantik.


Elang langsung menepuk pipinya beberapa kali. "Apaan sih gue. Nggak, nggak boleh." Saat Elang sedang sibuk menepuk pipinya, Elaina berbalik lalu berjalan menuju kamar.


"Lo mau kemana?" Tanya Elang.


"Gue mau mandi dulu. Jangan di buka awas! Gue udah pasang mantera jadi nggak akan bisa lo lihat." Ucap Elaina sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"Hm... Iya iya." Ucap Elang yang lebih memilih memainkan ponsel sambil menunggu Elaina selesai mandi.


Elaina tidak pernah menghabiskan waktu banyak di dalam kamar mandi. Hanya beberapa menit gadis itu keluar dengan pakaian santai. Elaina sudah membuat sendiri pakaiannya menyesuaikan dengan para gadis di dunia ini.


"Yuk, makan. Eh tapi tunggu. Lo harus tutup mata dulu." Ucap Elaina.


Elang menghembuskan napasnya kesal. "Kenapa ribet banget sih?"


"Ini tuh kejutan buat lo. Ayo cepetan. Jangan buka, kalau lo buka mata gue bakal----"


"Iya iya cepetan gue lapar." Elang langsung menutup matanya.


Elaina tersenyum. Ia menyiapkan meja. Mulai dari nasi, piring, gelas, buah dan air. Semuanya sudah ia taruh di atas meja. Yang terakhir, Efroet nya.


"Udah belum?"


"Belum, belum. Jangan di buka dulu." Elaina tersenyum. Sebenarnya sudah, hanya saja ia sedang membercandai Elang.


Elang melipat kedua tangannya. "Cepetan. Gua lapar nih."


"Iya, iya. Ini bentar lagi." Elaina menghitung dari angka sepuluh mundur. Setelah mulutnya menyebutkan angka satu, ia langsung membuka tangan Elang.


Elang yang masih dalam posisi mata tertutup terkejut saat tangannya di buka. "Ini siapa yang nyingkirin tangan gue?"


Elaina tertawa. "Gue, sekarang lo buka mata lo."


Elang membuka matanya. Ia langsung terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Elang langsung menatap Elaina.


"Gimana? Ayo cobain." Ucap Elaina. Ia yakin pasti Elang pertama kali melihat Efroet.


"Ini di sini juga ada, cuman nama doang yang beda! Ini mah sop daging sapi!"


*****