
Setelah urusan pendaftaran sudah selesai, keduanya berjalan menuju kelas 11 IPA 3. Kelas yang di tempati Elang dan akan di tempati juga oleh Elaina. Elang sudah bilang pada guru yang mengurus pendaftaran kalau Elaina ini pindahan dan sepupunya. Ia masih tidak punya teman dan selalu ingin bersamanya. Jadi Elang meminta Elaina di tempatkan di kelas yang sama dengannya.
Koridor yang di lewati oleh Elang dan Elaina sangat sepi karena semua murid sudah masuk ke kelas masing-masing. Hal itu dikarenakan Elang dan Elaina harus mengurus pendaftaran dulu.
Elang membuka pintu, membuat semua murid yang berada di dalam menoleh ke arahnya. Elang tersenyum pada guru yang sedang mengajar. "Selamat pagi Bu."
Bu Elly yang kini sedang mengajar menatap Elang dari atas sampai bawah. "Kenapa telat?"
"Ini bu." Elang menarik tangan Elaina untuk masuk. "Abis ngurusin pendaftaran sepupu. Dia anak baru."
Semuanya langsung senyap. Benar-benar tidak ada yang bicara saat Elaina masuk ke dalam kelas.
"Oh, begitu. Yasudah, kamu boleh duduk. Dan kamu anak baru, perkenalkan diri kamu."
Elaina mengangguk. Ia menatap Elang yang menganggukkan kepalanya lalu pergi ke tempat duduknya.
Elaina berjalan mendekat. Ia berdiri di hadapan semua siswa siswi kelas 11 IPA 3. Ia tersenyum untuk menghilangkan kecanggungan dan para murid malah ribut tidak jelas.
"Manis banget gila!!"
"Otw jadi crush gue!"
"Gila sih ada cewek secantik ini."
Elaina tersenyum semakin lebar saat melihat Elang sedang tersenyum ke arahnya. "Hai, perkenalkan namaku Elaina. Kalian bisa panggil aku El."
"Kamu pindahan dari sekolah mana?" Tanya Bu Elly yang membuat Elaina bingung harus menjawab apa.
Elang mengangkat satu tangannya. Membuat semua orang menatap ke arahnya. Tak terkecuali Bu Elly. "Dia pindahan dari Canada Bu." Ucap Elang yang langsung mendapat decakan kagum dari para murid.
"Pantesan cantik, bule Canada..."
"Neng, kenalin aa Bandung,"
"Senyumnya sih bisa buat mati gaya."
Dan masih banyak. Elaina yang bingung harus apa menatap Elang sambil menggigit bibirnya.
"Nggak di suruh duduk Bu?" Ucap Elang.
"Oh iya. Kamu mau duduk di mana? Banyak tempat kosong. Terserah kamu mau duduk sama siapa. Senyamannya kamu."
Elang menatap Ergi, teman sebangku nya. "Heh, gi."
Ergi menoleh. "Apa lang?"
"Gue duduk sama El. Lo duduk sama Evan aja."
"Hah?" Elang, Ergi dan Evan sudah dekat dari kelas sepuluh. Dan selama tiga tahun itu pula mereka selalu berada di kelas yang sama.
"Kasian El kalo duduk sama yang lain. Kalo sama gue kan nggak canggung. Maafin gue..." Ucap Elang mengusir Ergi.
Ergi mengerti. Ia bangkit berdiri sambil membawa tasnya. "Tapi ada imbalannya. Nanti istirahat lo traktir gue."
Elang menghembuskan napasnya. "Iyaaa.."
Setelah Ergi pindah, Elang menatap Elaina dan memberikan kode pada gadis itu untuk duduk di sebelahnya.
Elaina berjalan menghampiri Elang lalu duduk di samping cowok itu. Ia menaruh tasnya. "Kenapa lo ngusir teman sebangku lo?" Bisik Elaina.
"Emang lo nggak mau sebangku sama gue?" Balas Elang berbisik.
Elaina tersenyum. Elang sangat mengerti. Takut kalau terkena marahan guru karena mengobrol, mereka berdua memilih untuk memperhatikan guru di depan.
"Minggu kemarin Ibu mau ngasih soal ini tapi Ibunya malah rapat. Jadi sekarang kerjakan soalnya ya." Ucap Bu Elly lalu menyuruh sekretaris kelas menulisnya di papan tulis.
Elaina sangat suka sekolah. Jadi saat ia di beri kesempatan untuk bersekolah seperti orang layak, ia akan memanfaatkan sebaik-baiknya.
Elaina tidak pernah belajar materi seperti yang di tuliskan di papan tulis. Jadi ia meminjam buku catatan Elang.
Elaina menghembuskan napasnya. Ia kemudian mengangkat satu tangannya.
"Iya, kenapa El?" Tanya Bu Elly.
"Bu, saya baru hari pertama masuk sekolah. Saya nggak paham sama materinya. Jadi saya mau minjem buku siapa aja Bu, yang bersedia minjemin saya buat baca materinya." Ucap Elaina.
"Yang gue aja El."
"Ini yang gue aja, lengkap kok."
"Yang gue aja, yang gue aja. Udah lengkap rapi lagi."
Elaina hanya tersenyum canggung. Ia menunggu keputusan gurunya.
"Yang Ibu aja El. Kalo kamu make buku mereka, terus kalo nilainya jelek, mereka akan alesan dengan ngomong kalo bukunya di pinjem kamu."
"Dih, si Ibu!"
"Nggak gitu juga Bu!"
"Aish, tau aja Bu."
Elaina berjalan ke depan untuk mengambil buku milik Bu Elly. Ini bukan buku catatan. Lebih tepatnya buku paket.
Elang menatap Elaina yang membawa buku paket Bu Elly. "Lo yakin bisa ngerjainnya?"
"Lo ngeremehin gue?"
"Bukan gitu. Gue lebih milih nyerah daripada nyari jawaban di buku tebel kayak gitu."
"Gini aja. Kalo gue nemuin semua jawabannya, gue kasih lo contekan. Gimana?"
Elang tersenyum lebar. Siapa yang akan menolak tawaran secerah itu? Dan Elang termasuk orang yang tidak akan menolaknya dengan mudah.
"Oke, gue terima." Ucap Elang.
Bu Elly memberikan waktu selama setengah jam sampai pergantian pelajaran. Satu kelas hening, tidak ada yang bicara. Bahkan para pembuat keributan pun memilih untuk tidur.
"Nih, udah." Elaina menyerahkan bukunya pada Elang, membuat Elang melongo.
"Lo udah?" Elaina mengangguk.
"Dua puluh lima soal?" Elaina kembali mengangguk.
Elang menoleh ke arah Evan. Ia memanggil Evan dengan berbisik. Evan yang sedang fokus menoleh.
"Lo nomer berapa sekarang?" Tanya Elang dengan nada berbisik.
"Tujuh." Ucap Evan lalu kembali fokus pada soal.
"Yang paling cepet ngerjain aja baru nomor tujuh El. Dan lo udah selesai?"
Elaina mengangguk polos. "Lo mau nyontek nggak?"
Elang tampak ragu. Ia takut kalau nilai Elaina jelek karena yang paling pintar saja belum menyelesaikan soal. Lalu Elaina? 'Dia kan seorang Puteri Raja, wajar kalo dia pinter kan?' Batin Elang. Ya sudahlah, tidak apa mendapat nilai jelek yang penting ia tidak perlu pusing-pusing mengerjakan soal.
Elaina memberikan bukunya yang langsung di terima oleh Elang. Selama Elang menyalin jawabannya, Elaina mengatasi kegabutan nya sambil menggerakkan pensil tanpa menyentuhnya.
Setelah Elang selesai menyalin jawaban Elaina, Elang kembali memberikan bukunya pada Elaina. Elang membulatkan kedua matanya saat melihat apa yang di lakukan Elaina. Dengan sigap ia langsung memegang tangan Elaina, membuat gadis itu menatapnya.
"El inget. Ini bukan dunia lo. Jadi lo nggak bisa sembarangan pakai kekuatan lo. Orang-orang sini bakal aneh sama lo karena di sini nggak terbiasa sama yang namanya sihir." Ucap Elang.
Elaina menganggukkan kepalanya mengerti. Berarti di sini ia tidak bisa menggunakan sihirnya secara bebas. Tiba-tiba ia rindu dengan Klan Bulan. Tempat dimana ia bisa melakukan sihir tanpa harus sembunyi.
*****