
Elaina menatap Elang yang kini sedang bermain basket bersama teman-temannya. Elang menyuruh Elaina untuk menunggunya sampai selesai, karena jika bukan Elang yang mengantarnya pulang, siapa lagi? Ia menatap ke setiap penjuru sekolah. Ternyata sekolah di sini juga menyenangkan. Elaina jadi ingin menerapkan sistem sekolah seperti ini di Klan Bulan.
Saat Elaina sedang melihat-lihat sekolah barunya, matanya menangkap seseorang yang ia kenal. Dia Evan. Teman sekelasnya yang irit ngomong. Evan adalah salah satu teman Elang. Bahkan Evan sering bersama dengan Elang dan Ergi kemana pun mereka pergi.
"Evan ngeliatin gue?" Gumam Elaina. Ia tidak mungkin salah melihat kalau Evan sedang memperhatikannya di tribun yang tidak terlalu jauh. Bahkan Evan sama sekali tidak mengalihkan tatapannya saat mata mereka bertemu.
"Dia kenapa?" Elaina memutuskan tatapan lebih dulu karena merasa tidak nyaman. Ia menatap Elang yang kini sedang melambaikan tangan ke arahnya. Elaina menyambutnya dengan lambaian tangan juga.
Elang menggunakan bahasa isyarat kalau ia haus dan Elaina mengerti. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju kantin untuk membeli minuman untuk Elang.
Elaina baru sadar kalau ia ingin ke kantin, ia harus melewati Evan yang tadi memperhatikannya. Kini cowok itu sedang sibuk membaca buku.
"Paling itu cuman perasaan lo doang El." Elaina meyakinkan dalam hati kalau Evan itu tidak ada maksud apa-apa.
Elaina terus berjalan. Berharap kalau Evan tidak sadar kalau ia melewatinya. Lagipula Evan sedang fokus dengan bukunya. Jadi pasti ia tidak akan menyadarinya.
"Tunggu."
Elaina menghentikan langkahnya. Tanpa berbalik ia menutup kedua matanya. Kenapa rasanya sangat horor ya? Elaina seperti bertemu dengan malaikat maut.
"Lo Elaina kan?"
Elaina berbalik dengan gerakan pelan. Ia kini bisa melihat Evan yang sudah berdiri di hadapannya. Elaina mencoba untuk tetap tenang. "Iya,"
Evan berjalan mendekat. Cowok itu menatap Elaina seperti sedang mendeteksi sesuatu. Karena Evan lama tidak mengeluarkan suara, Elaina memilih untuk mengeluarkan suaranya.
"Kalo gitu gue ke kantin dulu."
Grep!
Elaina menghentakkan tangannya saat Evan menggenggam tangannya lancang. Ia menatap Evan tidak percaya. "Lo kenapa?"
"Lo Puteri Klan Bulan kan?"
Glek!
Elaina mati kutu. Bagaimana Evan bisa tahu kalau ia adalah Puteri Klan Bulan? Tidak, tidak. Tidak boleh ada yang tahu tentang jati dirinya.
"Lo ke sini-----"
Set!
Dengan gerakan kilatan Elaina langsung kabur dari Evan. Membuat Evan yang baru saja akan bicara langsung tersenyum miring. "Mau main kejar-kejaran ternyata." Dengan secepat kilat Evan langsung mengejar Elaina yang mungkin sudah sangat jauh. Evan mencari Elaina dengan teliti. Dan ia menemukannya. Dengan cepat ia langsung mengejar Elaina. Kecepatan mereka melebihi kecepatan kereta api. Bahkan sepuluh kali lipat lebih cepat.
"Lo mau kemana?"
Elaina terkesiap saat melihat Evan sudah berada di sisinya. Cowok itu bisa mengimbangi kecepatan larinya.
"Siapa lo?" Elaina panik. Manusia biasa tidak mungkin bisa berlari secepat ini. Hanya orang dari Klan lah yang bisa berlari secepat ini.
"Berhenti dulu dan gue bakal jelasin semuanya." Ucap Evan yang masih terus berlari karena Elaina juga berlari.
"Lo bukan orang jahat?"
Evan terkekeh. "Jadi lo pikir selama ini Elang berteman dengan orang jahat?"
Elaina memelankan larinya, Evan juga sampai mereka berhenti di suatu tempat. Elaina menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia tidak kenal tempat ini. "Kita dimana?"
Evan membuka ponselnya, mencari tahu kalau mereka kini sedang berada dimana. "Cirebon."
"Cirebon?" Apa itu? Nama yang asing di telinga Elaina.
Tidak menghabiskan waktu lama kini keduanya sudah sampai di sekolah. Elaina yang teringat kalau Elang memintanya untuk membelikan minum langsung berbalik, tapi tangan Evan mencegahnya.
"Lo mau kemana?"
"Gue mau beli minum untuk Elang. Tadi gue lupa kalau dia minta dibeliin minum."
Evan menatap mata Elaina. Tidak ada kebohongan di mata itu, jadi ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Elaina.
"Yang cepet. Gue bakal ngasih tau siapa gue dan kenapa gue bisa ada di sini." Ucap Evan yang di angguki Elaina.
Elaina mempercepat langkahnya untuk pergi ke kantin. Walau ia berjalan normal, tapi langkahnya sudah cepat. Setelah membeli minuman, ia kembali untuk memberikannya pada Elang.
Elaina menatap Elang yang sedang duduk di tribun sambil mengusap keringatnya dengan sapu tangan. Ia menghampiri Elang lalu menyodorkan minuman yang ia bawa di hadapan cowok itu.
"Abis darimana?" Tanya Elang saat tahu kalau orang yang menyodorkannya minuman adalah Elaina.
"Dari kantin."
"Lama banget." Elang menerima minuman yang di berikan Elaina.
Elaina menatap Evan yang berdiri tidak jauh dari mereka. Ia memberi kode kalau ia tidak tahu caranya bagaimana pergi dari Elang. Evan sepertinya mengerti. Ia membalasnya. Elaina mengerti isyarat itu. Evan mengatakan besok saja.
Elaina menatap Elang yang sudah menenggak habis minuman yang tadi ia belikan. "Mau pulang kapan?" Tanya Elaina.
"Sekarang aja." Ucap Elang.
Elaina menunggu Elang membereskan barang-barangnya sampai ia teringat sesuatu. Saat Elang menatap ke arahnya, ia balas menatap Elang. Bukannya berjalan duluan ke parkiran.
"Kenapa?" Elang yang bingung karena Elaina masih berdiri di sini.
"Elang..." Elaina mengeluarkan senyum. Senyuman yang siapa pun melihatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Begitu juga Elang.
"Gue mau hp, yang kayak orang-orang tuh. Yang kayak lo juga." Ucap Elaina dengan senyumannya. Ia baru tahu namanya saat ia mendengar seseorang menyebutkan nama barang itu.
Elang merogoh saku celananya. Ia menunjukkan ponselnya. "Ini maksud lo?"
Elaina mengangguk sambil tersenyum. "Iya."
"Lo mau yang kayak gimana?"
"Kayak gimana aja. Gue terima kok."
"Nokia jadul aja ya?"
Elaina mengangguk polos. Ia tidak tahu saja bagaimana ponsel yang tadi di sebutkan Elang.
Elang tertawa melihat tingkah polos Elaina. Tanpa sadar tangannya terulur mengacak-acak rambut Elaina. "Gemesin banget sih lo. Iya nanti gue beliin. Samain aja kayak gue ya?"
Elaina mengangguk lagi. Ia tidak peduli apapun mereknya. Yang penting ia juga mempunyai nya seperti yang lain.
"Nanti gue pesenin. Paling nanti sore datangnya. Sekarang kita pulang."
Senyum Elaina langsung melebar kalau barang yang ia inginkan akan datang nanti sore. Karena terlalu senang, ia menggenggam tangan Elang lalu membawa Elang ke parkiran untuk pulang.
Elang yang tangannya di tarik oleh Elaina hanya diam saja. Tanpa sadar ia tersenyum, tapi setelah beberapa detik, ia tersadar. Untuk apa ia tersenyum?
*****